Siddhartha Gautama
Siddhartha Gautama (Pali: Siddhattha Gotama; sekitar 563–483 SM menurut tradisi, atau 480–400 SM menurut perkiraan akademis) adalah pendiri agama Buddha dan salah satu tokoh spiritual paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Ia dilahirkan sebagai pangeran Suku Shakya di anak benua India, meninggalkan kehidupan istananya pada usia 29 tahun, dan setelah enam tahun pembelajaran serta pertapaan, mencapai Penerangan Sempurna (Sambodhi) di bawah Pohon Bodhi di Bodh Gaya.
Selama 45 tahun setelah pencerahan, ia berkeliling India utara mengajarkan Empat Kebenaran Mulia (Cattāri Ariya-saccāni) dan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhaṅgika Magga) — yang menjadi inti dari apa yang kemudian dikenal sebagai Buddhisme. Ia meninggal pada usia 80 tahun di Kushinagar, mencapai Parinirvana — kebebasan final dari siklus kelahiran dan kematian.
Selama hidupnya, ±2.500 tahun lalu, Siddhartha meletakkan dasar bagi salah satu agama terbesar di dunia — dengan ±500 juta pengikut saat ini, tersebar di seluruh Asia dan semakin meluas ke seluruh dunia.
Dalam catatan sejarah, Siddhartha Gautama adalah “salah satu tokoh paling misterius” — semua sumber tentang hidupnya baru ditulis beberapa abad setelah kematiannya, menjadikannya lebih sulit diverifikasi secara historis dibanding nabi-nabi agama Abraham. Namun, sebagian besar sarjan modern (termasuk Richard Gombrich, Gethin, dan Cousins) menerima bahwa ia adalah tokoh historis nyata.
Konteks Historis: India Kuno Abad ke-6
Untuk memahami kehidupan Siddhartha, kita perlu melihat latar belakang tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Geografi dan Politik
Anak benua India abad ke-6 SM adalah mozaik negara-kota kecil (mahajanapada) di sepanjang Sungai Gangga. Pada masa Siddhartha, beberapa negara besar yang relevan:
- Suku Shakya (negara-kota kecil di kaki Himalaya) — tanah leluhur Siddhartha
- Kerajaan Kosala (ibukota: Savatthi) — kerajaan tetangga yang mencaplok Shakya pada akhir hidup Siddhartha
- Kerajaan Magadha (ibukota: Rajagaha) — kerajaan paling kuat di India tengah-timur
- Kerajaan Vatsa (ibukota: Kaushambi)
- Republik Licchavi (ibukota: Vaishali) — republik oligarki klan, tetangga Shakya
Pandangan Filosofis
India saat itu sedang dalam periode keemasan pemikiran filosofis (800–400 SM). Banyak aliran pemikiran (śramaṇa) bermunculan sebagai reaksi terhadap ritualisme Brahmanisme:
- Brahmanisme — agama dominan, didasarkan pada Weda, ritualisme kasta, otoritas para brahmana
- Ajivika — fatalisme (segala sesuatu sudah ditentukan sebelumnya)
- Jainisme — didirikan oleh Mahavira (±599–527 SM), teman sezaman Siddhartha, mengajarkan ahimsa (tanpa kekerasan) ekstrem
- Materialisme Lokayata — ateisme, hedonisme
- Ajaran Upanishad — pemikiran Vedanta yang lebih mistis (Śaṅkara, Yajnavalkya, dll.)
Konsep kunci yang sudah ada di India saat itu:
- Karma — hukum sebab-akibat moral
- Saṃsāra — siklus kelahiran dan kematian
- Dukkha — penderitaan, ketidakpuasan
- Mokṣa — pembebasan dari siklus
- Atman/Brahman — diri sejati / realitas tertinggi
Siddhartha tidak menciptakan konsep-konsep ini dari nol — ia membangun dari tradisi yang ada, lalu memberikan interpretasi revolusioner: terutama menolak konsep Atman (diri tetap) dan tuhan pencipta.
KELAHIRAN (Lumbini, ±563/480 SM)
Silsilah Keluarga
Siddhartha lahir di Lumbini (kini di Rupandehi, Nepal — ±25 km dari perbatasan India modern), di sebuah taman di bawah pohon sal (Shorea robusta), saat ibunya Maya Devi dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya untuk melahirkan — mengikuti adat Shakya bahwa wanita harus melahirkan di tanah leluhur mereka.
Ayah Siddhartha adalah Śuddhodana — raja elektus Suku Shakya (raja dipilih oleh dewan tetua klan, bukan monarki absolut). Ibu klan Shakya saat itu (sekitar 600–500 SM) adalah Konfusianisme kecil yang terkurung di kaki Himalaya, terisolasi dari kerajaan-kerajaan besar di selatan.
Ibu adalah Mahā Maya (Maya Devi), istri utama Śuddhodana. Menurut tradisi, pada malam konsepsi, ia mimpi seekor gajah putih berenam gading masuk ke sisi kanannya — pertanda bahwa anaknya akan menjadi raja agung (chakravartin) atau Buddha.
Catatan arkeologis: Pada abad ke-3 SM, Kaisar Ashoka dari Kekaisaran Maurya mengunjungi Lumbini dan memasang pillar batu (Ashoka Pillar) dengan prasasti: “Di sinilah Buddha, Sage of the Shakyas, dilahirkan.” Pilar ini masih berdiri di Lumbini, kini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO (1997).
Ramalan Asita
Menurut legenda, Siddhartha dibawa ke kuil pada hari kelima setelah lahir. Brahmin tua bernama Asita (atau Kala Devala) meramalkan dari 32 tanda fisik pada bayi:
“Bayi ini akan menjadi Buddha (yang tercerahkan) atau raja agung (chakravartin). Jika ia melihat empat tanda — orang tua, orang sakit, mayat, dan pertapa — ia akan meninggalkan istana dan menjadi Buddha.”
Mendengar ini, Śuddhodana sangat gelisah — ia ingin Siddhartha menjadi raja, bukan petapa. Maka, dia berusaha keras melindungi anaknya dari semua bentuk penderitaan.
MASA KECIL DI ISTANA KAPILAVASTU (0–7 tahun)
Kematian Ibu dan Pengasuhan oleh BibI
Maya Devi meninggal 7 hari setelah melahirkan Siddhartha (atau, menurut sebagian tradisi, saat Siddhartha masih bayi). Siddhartha kemudian diasuh oleh bibinya, Mahāprajāpati Gautami — yang kemudian menjadi bhikkhuni (biarawati) pertama dalam agama Buddha.
Tiga Istana
Śuddhodana membangun tiga istana megah untuk Siddhartha, masing-masing untuk satu musim India:
- Ratuwada — untuk musim dingin
- Suriyawada — untuk musim panas
- Mangalawada — untuk musim hujan
Istana-istana ini terisolasi dari dunia luar. Siddhartha tidak pernah melihat orang sakit, orang tua, atau orang mati. Para pelayan dan dayang-dayang dipilih dari gadis-gadis paling cantik di kerajaan untuk memastikan Siddhartha tidak pernah merasa tidak nyaman.
Pendidikan
Sejak kecil, Siddhartha mendapat pendidikan ksatria klasik:
- Bahasa Sanskerta, Pali
- Seni bela diri — memanah, berkelahi, gulat
- Filsafat dan sastra
- Politik dan administrasi
- Sastra kuno — Weda, Upanishad, dsb.
Menurut legenda, ia mencapai nilai sempurna dalam semua ujian. Pada usia 7 tahun, ia memenangkan kompetisi memanah dengan menembus tiga target kayu sekaligus dengan satu anak panah yang melengkung. Testimoni lain menunjukkan ia kadang duduk bermeditasi di bawah pohon dalam waktu lama — menunjukkan sifat kontemplatif yang sudah tampak sejak kecil.
MASA MUDA — Pernikahan dan Kehidupan Pangeran (16–29 tahun)
Pernikahan dengan Yasodhara (16 tahun)
Sekitar usia 16 tahun, Siddhartha menikah dengan Yasodhara — sepupu dari klan Shakya. Pernikahan adalah konspirasi ayahnya untuk mengikat Siddhartha pada kehidupan duniawi.
Yasodhara digambarkan sebagai wanita yang setia, lembut, dan bijaksana — menunggu suaminya selama 6 tahun selama Siddhartha melakukan pertapaan.
Kehidupan Mewah
Menurut tradisi, Siddhartha memiliki 3 istana dan 40.000 dayang. Sumber Buddhis (yang ditulis beberapa abad kemudian) menekankan bahwa Siddhartha tidak pernah puas dengan kemewahan — ia terus bertanya-tanya:
“Apakah ini semua ada artinya? Apakah saya akan menua, sakit, dan mati seperti semua orang?”
Kelahiran Rāhula (29 tahun)
Beberapa saat sebelum Great Departure, Yasodhara melahirkan Rāhula (artinya “rantai” atau “ikatan”). Saat mendengar kelahiran putranya, Siddhartha dilaporkan berkata:
“Sebuah rantei telah muncul (Rāhula lahir).”
Frasa ini bisa berarti:
- Secara literal: seorang anak laki-laki yang akan mengikatnya ke dunia
- Secara filosofis: ini adalah “ikatan” yang perlu dilepas untuk menemukan pembebasan
EMPAT TANDA (Four Sights) — Puncak Krisis
Konteks: Pengekangan Ayah
Śuddhodana sangat takut Siddhartha akan meninggalkan istana. Ia memperketat penjagaan:
- Semua orang sakit disembunyikan
- Orang tua dilarang masuk istana
- Mayat tidak pernah terlihat
- Pertapa tidak diizinkan masuk
Namun, dewata (Tuhan) khawatir Siddhartha akan meninggal tanpa mencapai pencerahan (karena jika ia menjadi raja, ia tidak akan pernah meninggalkan duniawi). Maka, mereka menciptakan ilusi empat tanda untuk dilihat Siddhartha pada empat kunjungan terpisah ke taman kerajaan.
Perjalanan Pertama — Tua (Āsāḷha, Juli)
Pada purnama pertama Ashadha (pertengahan Juli), Siddhartha keluar dari istana dengan kereta kuda. Tiba-tiba, ia melihat seorang pria tua — rambut putih, tubuh bungkuk, gemetar.
“Siapa ini, Channa?” (Channa = saisnya)
“Seorang yang sudah tua, Tuan.”
“Apakah ini akan terjadi padaku juga?”
“Ya, Tuan. Semua orang menua.”
Siddhartha terguncang dan kembali ke istana dengan pikiran gelisah. Lambang “muda yang membual” (yobbana-māna) jatuh darinya.
Perjalanan Kedua — Sakit (Kattika, November)
Pada purnama Kattika (pertengahan November), Siddhartha keluar lagi. Kali ini, ia melihat seorang pria sakit — kurus kering, penuh luka, mengerang kesakitan.
“Apa ini, Channa?”
“Orang yang sakit, Tuan. Ini adalah penderitaan manusia.”
Siddhartha kembali dengan hati lebih dalam terluka. Lambang “kesehatan yang membual” (ārogya-māna) jatuh darinya.
Perjalanan Ketiga — Mati (Phagguṇa, Maret)
Pada purnama Phagguṇa (pertengahan Maret), Siddhartha melihat prosesi pemakaman — orang-orang menggotong mayat untuk dikremasi, keluarga meratap.
“Kemana mereka membawa orang ini, Channa?”
“Ke pembakaran mayat, Tuan. Ini sudah mati.”
“Apakah ini akan terjadi pada semua orang?”
“Ya, Tuan. Semua orang akan mati.”
Siddhartha sangat terguncang. Untuk pertama kalinya, ia menyadari kefanaan yang mutlak. Lambang “kehidupan yang membual” (jīvita-māna) jatuh darinya.
Perjalanan Keempat — Petapa (Vesakha, Mei)
Pada purnama Vesakha (pertengahan Mei — bulan yang kemudian menjadi Hari Waisak), Siddhartha keluar untuk keempat kalinya. Kali ini, ia melihat seorang pertapa — tenang, damai, berkulit putih, dengan mata yang bercahaya.
“Siapa ini, Channa?”
“Seorang petapa, Tuan. Dia meninggalkan dunia untuk mencari pembebasan.”
Harapan muncul di hati Siddhartha. Jika ada orang yang secara sukarela meninggalkan dunia untuk mencari kebenaran, mungkin jawabannya ada. Lambang “ketidaktahuan yang membual” (avijja-māna) jatuh darinya.
Tanda Kelima: Wanita Tidur (menurut tradisi tertentu)
Menurut sebagian tradisi (terutama Buddhisme Mahayana, Lalitavistara), Siddhartha juga melihat wanita-wanita istananya tidur dalam pose vulgar — yang menyadarkannya bahwa bahkan dalam penampilan paling menarik, ada kefanaan dan kotoran.
MAHĀBHINIṢKRAMANA — DEPARTUR BESAR (Usia 29)
Setelah empat tanda itu, Siddhartha membuat keputusan paling menentukan dalam hidupnya.
Malam Keberangkatan
Pada malam hari (tanggalnya diperdebatkan, mungkin 29 tahun menurut beberapa sumber), Siddhartha:
- Mencium Rāhula yang baru lahir
- Melihat Yasodhara yang tertidur (tanpa perhiasan, pucat)
- Berjalan ke kamar istana, lalu meninggalkan istana dengan Channa (saisnya) dan Kanthaka (kuda putihnya)
Di sepanjang sungai Anomiya (menurut tradisi, sungai Anoma), Siddhartha:
- Turun dari kuda Kanthaka — Channa bertanya ke mana tuannya akan pergi; Siddhartha menjawab, “Aku akan meninggalkan dunia untuk menemukan pembebasan.”
- Memotong rambutnya — melepaskan status pangeran
- Mencopot perhiasan dan jubah kerajaan, menggantinya dengan jubah kuning tua pertapa
- Menyuruh Channa kembali dengan kuda dan semua barang kerajaan, dengan pesan: “Katakan kepada ayahku dan istriku bahwa aku tidak akan kembali sampai aku menemukan jawabannya.”
Kanthaka — kuda putih — menurut legenda, meringkik kesedihan. Para dewa mendengar ratapannya dan ikut menangis. Siddhartha menenangkannya, dan Kanthaka wafat karena kesedihan (menurut beberapa tradisi).
TAHUN-TAHUN PENCARIAN (29–35 tahun)
Pertama: Belajar dari Āḷāra Kālāma (Usia 29)
Siddhartha berjalan ke Rājagaha (ibukota Magadha). Di sana ia bertemu Āḷāra Kālāma, seorang guru meditasi terkenal.
Di bawah Āḷāra, Siddhartha dengan cepat mencapai tingkat meditasi tertinggi yang diajarkan — “dimensi ketiadaan apapun” (ākiñcaññāyatana). Āḷāra sangat terkesan dan berkata:
“Kau menemukan apa yang aku temukan dengan 30 tahun latihan dalam waktu singkat. Mari, kita bersama-sama memimpin siswa-siswa.”
Siddhartha menolak. Penguasaan meditasi belum menjawab pertanyaannya:
“Apakah ini akhir dari penderitaan, atau masih ada yang lebih dalam?”
Ia kemudian meninggalkan Āḷāra.
Kedua: Belajar dari Uddaka Rāmaputta (Usia 30)
Siddhartha lalu belajar dengan Uddaka Rāmaputta, guru lain yang mengajarkan meditasi tingkat lebih tinggi — “dimensi bukan-persepsi-bukan-non-persepsi” (nevasaññānāsaññāyatana). Sekali lagi, ia mencapai tingkat tertinggi dengan cepat, dan Uddaka bahkan menawarkannya posisi sebagai penerus.
Siddhartha masih menolak. Meditasi setinggi apapun, belum menghilangkan kefanaan, usia tua, sakit, dan kematian.
Ketiga: Pertapaan Berat dengan 5 Sahabat (Usia 30–35)
Siddhartha lalu bergabung dengan 5 petapa (kondañña, Vappa, Bhaddiya, Mahanama, Assaji) di tepi Sungai Nairañjanā. Mereka melakukan asketisisme ekstrem selama enam tahun:
- Makan hanya sebutir biji sehari
- Berhenti bernapas untuk waktu lama
- Tidur di atas duri atau di bawah pohon
- Berhenti minum air untuk waktu lama
Tujuannya: menghancurkan tubuh untuk membebaskan pikiran.
Kehilangan Berat Badan Ekstrem
Menurut tradisi, Siddhartha menjadi sangat kurus — bisa merasakan punggungnya dengan tangan. Para dewa takut ia akan mati sebelum mencapai pencerahan. Namun, Siddhartha bertahan dan tidak mendapatkan jawaban.
“Saya sudah melampaui batas asketisisme, tapi saya belum menemukan jawabannya. Asketisisme tidak akan membawa pencerahan.”
PENERANGAN SEMPURNA (Sambodhi) di BODH GAYA (Usia 35)
Tanda-Tanda: Gadis Desa Sujata
Siddhartha menyadari bahwa extreme asceticism salah — seperti tali kecapi yang terlalu kencang atau terlalu kendur. Ia memutuskan untuk menjalani Jalan Tengah (Madhyamā-pratipad).
Pada saat ia melepas asketisisme, seorang gadis desa bernama Sujata dari kampung Senani (dekat Bodh Gaya) datang ke tepi sungai dan memberinya bubur susu (payasam/milk-rice) dalam mangkuk emas. Siddhartha menerima makanan ini — makanan pertamanya setelah berhari-hari.
5 sahabatnya kaget — mereka menganggap Siddhartha telah menyerah. Mereka meninggalkannya: “Ia tidak lagi mau berlatih keras.”
Di Bawah Pohon Bodhi
Setelah makan dan bermandi di Sungai Nairañjanā, Siddhartha berjalan ke Bodh Gaya dan duduk di bawah pohon Ficus religiosa (Pohon Bodhi, atau pohon pipal), menghadap timur.
Di sana, ia membuat tekad 7 minggu (sattapabbajja):
“Darah dan dagingku boleh mengering, tapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku menemukan jawabannya.”
Ia mulai bermeditasi, memasuki jhana (tingkat meditasi) satu per satu:
- Vitakka-vicāra (penelaahan awal)
- Vicāra (penelaahan)
- Pīti (sukacita)
- Upekkhā (ekuanimitas)
- Ākāsānañcāyatana (dimensi ruang tanpa batas)
- Viññāṇañcāyatana (dimensi kesadaran tanpa batas)
- Ākiñcaññāyatana (dimensi ketiadaan)
- Nevasaññānāsaññāyatana (dimensi bukan-persepsi-bukan-non-persepsi)
Pertempuran dengan Māra
Pada malam terakhir — purnama Vesakha (April/May) — Māra (dewa godaan, personifikasi nafsu dan kematian) datang dengan pasukannya untuk menggoda Siddhartha.
Māra: “Kau tidak punya hak atas singgasana pencerahan. Siapa yang menyaksikanmu bertapa? Berdiri dan buktikan!”
Siddhartha tidak bergeming. Alih-alih menjawab Māra, ia menyentuh bumi — “bhūmidhara mudrā” (mudra menyentuh bumi) — dan bumi bersaksi tentang kebajikan Siddhartha.
Siddhartha: “Bumilah saksiku, dan kebajikanku.”
Māra kalah. Para dewata merayakan.
Sambodhi — Tiga Pengetahuan
Saat fajar menyingsing, Siddhartha mencapai Penerangan Sempurna (Sambodhi), yang terdiri dari Tiga Pengetahuan (tisso vijjā):
- Pubbe-nivāsa-ñāṇa — Pengetahuan tentang kelahiran-kematian lampau (saya ingat semua kehidupan saya sebelumnya)
- Dibba-cakkhu-ñāṇa — Mata dewa — melihat makhluk lain mati dan terlahir sesuai karma mereka
- Asavakkhaya-ñāṇa — Pengetahuan tentang penghancuran noda (nilai-nila batin) — Nibbāna tercapai
Tujuh Minggu Setelah Pencerahan
Menurut tradisi, Siddhartha duduk di bawah pohon Bodhi selama 7 minggu setelah pencerahan, tanpa berdiri atau berbaring (beberapa minggu) — merenungkan Dhamma yang baru ditemukan.
Tempat-tempat yang dikenang:
- Pohon Bodhi — minggu pertama — pencerahan
- Animate-the-victor-tree — minggu kedua — kontemplasi
- Cankama Hall (walkway) — minggu ketiga-empat — berjalan mundur dan maju (karena tidak ingin kehilangan kontak visual dengan pohon)
- Pohon Ajapala (Acala, tak bergerak) — minggu kelima — kontemplasi tanpa kaget oleh para dewa
- Pohon Mucalinda — minggu keenam — saat naga Mucalinda melindungi dari hujan badai
- Pohon Rajayatana — minggu ketujuh — dua saudagar menyediakan bubur susu
Catatan penting: Siddhartha tidak langsung mengajarkan Dhamma setelah pencerahan. Ia sempat berpikir: “Dhamma yang aku temukan sangat dalam, sangat sulit dipahami — orang-orang yang tenggelam dalam nafsu tidak akan memahaminya.”
Brahmā Sahampati — Undangan untuk Mengajar
Brahmā Sahampati, dewa tertinggi, datang dan memohon agar Siddhartha mengajar:
“Ada yang berdebu sedikit di matanya, sedikit yang tidak. Ada yang mendengar Dhamma, mereka akan memahami.”
Siddhartha akhirnya setuju — demi belas makhluk (“sattaparisatta” — tujuh kategori makhluk dengan debu yang berbeda-beda di matanya) yang akan memahami.
SERMON PERTAMA — DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA (Usia 35)
Pertemuan dengan Upaka
Sebelum sampai di Sarnath, Siddhartha bertemu dengan Upaka, seorang petapa Jain. Upaka tidak terkesan dengan klaim Siddhartha bahwa ia telah tercerahkan, dan mengambil jalan lain.
Deer Park (Migadāva) di Sarnath
Siddhartha berjalan ke Rishipatana / Isipatana — “Taman Rusa” di Sarnath (dekat Varanasi modern), tempat 5 sahabat lama masih tinggal. Mereka awalnya enggan menghormati Siddhartha (karena meninggalkan asketisisme), tetapi setelah melihat cahaya Buddha yang berbeda, mereka akhirnya menerima.
Pada purnama Ashadha (pertengahan Juli), Siddhartha menyampaikan sermon pertama yang tercatat dalam sejarah — Dhammacakkappavattana Sutta (Pemutaran Roda Dhamma) di Sarnath.
Isi Sermon: Empat Kebenaran Mulia
1. Kebenaran Pertama — Ada Penderitaan (Dukkha)
“Inilah, para bhikkhu, kebenaran mulia tentang penderitaan: Kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, penyakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, kesedihan dan ratapan adalah penderitaan, perpisahan dari yang dicintai adalah penderitaan, perolehan yang tidak diinginkan adalah penderitaan. Singkatnya: lima agregat penjempolan adalah penderitaan.”
2. Kebenaran Kedua — Asal Mula Penderitaan
“Inilah, para bhikkhu, kebenaran mulia tentang asal penderitaan: Ini adalah thirst (tanha) — nafsu yang menghasilkan kelahiran kembali, terikat dengan kesenangan yang intens. Ini adalah: thirst untuk kenikmatan indrawi, thirst untuk keberadaan dan becoming, thirst untuk annihilasi.”
3. Kebenaran Ketiga — Berakhirnya Penderitaan
“Inilah, para bhikkhu, kebenaran mulia tentang pengakhiran penderitaan: Ini adalah pengakhiran total dari thirst, meninggalkannya, melepaskannya, terbebas darinya. Nibbana.”
4. Kebenaran Keempat — Jalan Menuju Pengakhiran
“Inilah, para bhikkhu, kebenaran mulia tentang jalan menuju pengakhiran penderitaan — Jalan Mulia Berunsur Delapan:
- Pandangan Benar (sammā diṭṭhi)
- Niat Benar (sammā saṅkappa)
- Ujaran Benar (sammā vācā)
- Perbuatan Benar (sammā kammanta)
- Penghidupan Benar (sammā ājīva)
- Usaha Benar (sammā vāyāma)
- Perhatian Benar (sammā sati)
- Konsentrasi Benar (sammā samādhi)
Jalan Tengah (Madhyamā-pratipad)
Siddhartha menolak dua ekstrem:
- Ekstrem pertama: penikmatan indrawi (sensual indulgence) — sia-sia, jalan ke neraka
- Ekstrem kedua: self-mortification (penyiksaan diri) — menyakitkan, jalan ke kemandulan spiritual
Jalan Tengah ini adalah “Tathāgata menemukan, memberi visi, memberi pengetahuan, membawa kedamaian”.
Hasil Sermon
Ānanda Kondañña — dari 5 sahabat — mencapai tingkatan Sotapanna (yang pertama kali melihat kebenaran) saat mendengar sermon ini. Pemahaman Kondañña menjadi Nibbana setelah beberapa hari latihan lebih lanjut — ia menjadi arahant pertama.
Kondañña meminta Siddhartha untuk menerima dia ke dalam komunitas. Buddha, setelah beberapa saat tenang, akhirnya menjawab:
“Marilah, bhikkhu. Dhamma telah diajarkan dengan baik. Hiduplah dalam Vinaya (disiplin spiritual) yang telah menetapkan jalan untuk menemukan kebebasan.”
Dengan kata “Ehi bhikkhu” (Marilah, bhikkhu), Buddha mendirikan apa yang kemudian dikenal sebagai Upasampadā (penerimaan monastik) — dan dengan ini, Sangha Buddha pertama resmi didirikan.
SETELAH SERMON PERTAMA — Penyebaran Dhamma
Tiga Bulan Setelah Pencerahan
Dalam waktu 3 bulan setelah Sarnath, Buddha mengirim 60 arahant (mereka yang sudah tercerahkan) ke seluruh India dengan pesan:
“Pergilah, para bhikkhu, demi kebaikan banyak orang, demi kebahagiaan banyak orang, demi belas kasihan terhadap dunia, demi kebaikan, kebaikan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah dua orang pergi ke arah yang sama. Ajarkanlah Dhamma yang indah di awal, indah di tengah, indah di akhir — baik dalam spirit maupun dalam huruf. Tunjukkan kehidupan murni yang sempurna dan utuh.”
Sangha sudah memiliki fondasi: Vinaya (disiplin monastik) yang lambat laun dirumuskan, Dhamma (ajaran), dan kode etik bhikkhu.
5 Sahabat — Arahat Pertama
- Kondañña — sang penerima pertama Dhamma
- Vappa
- Bhaddiya
- Mahānāma
- Assaji
Muka Sariputta dan Moggallana — Dua Murid Utama
Sariputta (Skt. Śāriputra) dan Moggallana (Skt. Maudgalyāyana) adalah dua murid terpenting Buddha. Mereka berdua dulunya adalah petapa Jain, yang menyadari Dhamma setelah bertemu dengan Assaji (salah satu dari 5 sahabat).
- Assaji, berjalan ke Rājagaha untuk mengumpulkan derma, bertemu dengan Sariputta — yang terkesan dengan ketenangan Assaji dan kecemerlangan wajahnya (karena sudah menjadi arahant). Saat Sariputta bertanya tentang ajarannya, Assaji menyanyikan sebuah bait:
“Dari sebab-musabab muncul segala hal; dari sebab-musabab mereka lenyap. Sang Buddha mengajarkan sebab-musabab, dan apa yang menggugurkannya.”
Sariputta langsung mencapai tingkatan Sotapanna dan pergi mencari Moggallana. Keduanya kembali ke Buddha dan menjadi bhikkhu. Moggallana mencapai arahant dalam waktu seminggu; Sariputta dalam dua minggu.
Mereka berdua menjadi “dua tangan kanan” Buddha — Sariputta sebagai ahli Dhamma, Moggallana sebagai ahli kekuatan supranatural (iddhi).
KEMBALI KE KAPILAVASTU — Rekonsiliasi dengan Keluarga
Setelah mencapai sukses di Rājagaha, Buddha berjalan pulang ke Kapilavastu untuk menemui ayahnya, Śuddhodana — yang masih berduka atas kepergiannya.
Pertemuan dengan Ayah
Śuddhodana yang awalnya marah dan menolak melihat Siddhartha, akhirnya mengalah. Saat ia melihat putranya yang kurus, berpakaian jubah kuning tua, ia menangis:
“Putraku, kenapa kau menghancurkan dirimuku? Engkau yang kucintai lebih dari apapun…”
Buddha membalas dengan tenang:
“Ayah, aku tidak menghancurkan-Mu. Aku menemukan Dhamma — dan aku harus membagikannya. Aku tidak akan kembali ke kehidupan mewah ini sampai aku menemukan jawaban bagi semua makhluk.”
Śuddhodana akhirnya masuk Buddha (menurut tradisi) — dan menjadi Upasaka (umat awam Buddha) — menjelang akhir hidupnya.
Yasodhara dan Rāhula
Yasodhara — yang telah menunggu 6 tahun — bukan orang yang menyalahkan. Ia justru memeluk Siddhartha dan berkata:
“Siddhartha, akhirnya kau kembali.”
Tradisi bahkan mengatakan bahwa Yasodhara akhirnya menjadi bhikkhuni (setelah 5 tahun menunggu, karena Buddha juga menerima aturan untuk wanita — see below) dan mencapai arahant.
Rāhula — anak laki-laki Siddhartha — akhirnya diminta olehnya:
“Rāhula, di mana itu peninggalan yang ditinggalkan ayahmu? Ayahmu akan memberikanmu warisan surgawi.”
Dengan itu, Buddha membuat Rāhula menjadi bhikkhu — pada usia 7 tahun — menjadi samanera (novis) pertama.
Catatan: Pembedahan menjadi bhikkhu membuat Siddhartha menjadi “pendidik” yang pertama. Namun juga menjadi kontroversi: ayah Yasodhara “meninggal dunia” karena tidak pernah melihat cucu laki-lakinya tumbuh dewasa.
Kembali ke Sangha
Setelah beberapa minggu di Kapilavastu, Buddha akhirnya kembali ke kehidupan mengajar. Beberapa dari kerabatnya (Nanda, Anuruddha, Bharadvaja, dll.) juga bergabung — kebanyakan adalah sepupu atau kerabat dekatnya dari Suku Shakya.
MASA KEEMASAN PENGAJARAN (35–80 tahun)
19 Vassa di Jetavana
Tempat tinggal utama Buddha selama ±19 tahun (vassa atau musim hujan) adalah Jetavana — Taman Jeta (Hutan Jeta) di kota Savatthi (ibukota Kerajaan Kosala). Tempat ini diberikan oleh Anathapindika — seorang bankir kaya dari Savatthi, yang membeli taman dari pangeran Jeta dengan harga selapis emas yang menutupi seluruh tanah.
Menurut tradisi, Anathapindika meletakkan satu koin emas demi satu koin emas di atas tanah, sehingga ketika pangeran Jeta datang untuk memeriksa, dia menemukan bahwa jumlah uang telah sama dengan harga yang diminta. Pada akhirnya, mereka berdua sepakat bahwa Anathapindika akan membangun kuil, dan pangeran Jeta akan menyumbangkan bangunannya. Jetavana menjadi tempat paling penting untuk pengajaran Buddha — 844 dari 1.500+ sutta Buddha disampaikan di sini.
Anathapindika sendiri akhirnya bangkrut karena kemurahan hatinya. Namun Buddha, alih-alih memarahkannya, justru memujinya sebagai “Paling Dermawan dari Umat” (Setthi).
6 Vassa di Bamboo Grove (Veluvana)
6 musim hujan dihabiskan di Bamboo Grove (Veluvana) di Rājagaha — taman milik Raja Bimbisāra dari Magadha.
Bimbisāra adalah raja pertama yang memeluk Buddha — bertemu dengan Siddhartha sebelum pencerahannya (saat Siddhartha masih menjadi petapa yang mengemis). Bimbisāra pernah menawarkan tahta pada Siddhartha yang masih muda, yang ditolak dengan sopan. Setelah Bimbisāra mendengar Siddhartha menjadi Buddha, ia menjadi murid utama.
Sayangnya, akhir hayat Bimbisāra tragis — putranya Ajātasattu (yang dibujuk oleh Devadatta untuk memusuhi Buddha) akhirnya merekayasa kematian ayahnya dengan cara kelaparan (mencabut makanan sampai ayahnya mati). Ini menjadi salah satu tema besar dalam Vinaya — bahwa anak yang tidak berbakti tidak akan mendapat berkah.
5 Vassa di Vulture Peak (Gijjhakūṭa)
Di puncak ini Buddha menerima beberapa kunjungan penting — termasuk cerita tentang Devadatta (lihat di bawah).
SKISM DEVADATTA — Perpecahan dalam Sangha
Devadatta — Sepupu yang Dengki
Devadatta adalah sepupu Siddhartha dari Suku Shakya. Ia menjadi bhikkhu di bawah Buddha, dan mendapat beberapa kekuatan supranatural. Namun, seiring waktu, iri hati muncul:
“Ia mengklaim memiliki kesaktian lebih dari Buddha. Ia ingin menggeser kedudukan Buddha.”
Lima Tuntutan “Ketat”
Devadatta mendekati Buddha dengan lima tuntutan keras yang seharusnya diadopsi oleh Sangha:
- Hidup di hutan sepanjang tahun (tidak di bawah atap)
- Hidup dari derma saja, tidak menerima sumbangan
- Hanya mengenakan jubah daur ulang (bukan dari pengemis)
- Tidur di bawah pohon (tidak di tempat berlindung)
- Vegetarian ketat
Buddha menolak, dengan alasan:
“5 tuntutan ini adalah kebiasaan para pejalan kaki yang mengikuti seekor sapi yang membebek — yang akan menyusahkan orang awam, dan yang tidak sesuai untuk Sangha.”
Devadatta meninggalkan Sangha dengan 500 bhikkhu yang mengikutinya — dan membentuk monasterinya sendiri. Ini menjadi perpecahan pertama dalam agama Buddha.
Tiga Percobaan Pembunuhan terhadap Buddha
1. Pembunuh Bayaran
Devadatta menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Buddha. Ketika mereka bertemu Buddha, mereka diyakinkan oleh ketenangan Buddha dan menjadi muridnya.
2. Batu Raksasa dari Puncak Vulture
Saat Buddha berjalan di Puncak Vulture (Gijjhakūṭa), Devadatta mendorong batu besar dari atas. Dua puncak kecil muncul dan menahan batu itu, tetapi sisa batunya tetap memotong kaki Buddha dan mengeluarkan darah.
Buddha berkata:
“Bodoh, kamu telah mendapatkan karma buruk yang akan berakibat di kehidupan ini juga.”
3. Gajah Mabuk (Nāḷāgiri)
Devadatta membebaskan gajah perang mabuk Nāḷāgiri ke jalan Buddha. Orang-orang berteriak peringatan — Buddha tidak bergeming. Saat Nāḷāgiri mendekat, Buddha membroadcast pikiran welas asih — dan gajah itu berlutut di depan Buddha.
Buddha memaafkan Devadatta berkali-kali — sesuai dengan kualitas metta (cinta kasih universal).
PEREMPUAN DALAM SANGHA — Kritik Awal
Awalnya Menolak
Siddhartha awalnya menolak permintaan untuk menerima wanita sebagai bhikkhuni. Permohonan dari Mahāprajāpati (bibinya yang mengasuhnya) 3 kali ditolak.
Ananda Memediasi
Akhirnya, Ananda (sais pribadinya yang menjadi bhikkhu) bertanya:
“Apakah wanita mampu mencapai Nibbana?”
Buddha: “Ya, Ananda.”
Ananda: “Lalu, demi kepentingan mereka, izinkan mereka.”
Buddha akhirnya menerima wanita — dengan 8 aturan tambahan (garudhamma) yang harus dipatuhi oleh bhikkhuni, termasuk kepatuhan hierarki terhadap bhikkhu. Ini membuat posisi bhikkhuni kurang otonom dibanding bhikkhu, dan menjadi kontroversi yang berlanjut dalam sejarah agama Buddha.
Mahāprajāpati menjadi bhikkhuni pertama — dan dilaporkan mencapai arahant. Buddha menyebutnya “kebanyakan karunia” yang dia dapatkan dari kerabatnya.
DUA PASANG UTAMA — Sariputta, Moggallana, Ananda, Anuruddha
1. Sariputta — “Belahan Kiri Buddha” (Damma)
- 105 tahun lebih muda dari Buddha
- 2 minggu untuk mencapai arahant
- Sang “Hutang Pertama” — membantu Buddha menguraikan Dhamma
- Wafat sebelum Buddha — menyebabkan Buddha berkabung “Apa yang harus kita lakukan dengan awan-awan Sariputta?“
2. Moggallana — “Belahan Kanan Buddha” (Vinaya)
- Mendapat kekuatan supranatural tertinggi
- Dibunuh oleh pengikut-pengikut aliran lain (dalam kondisi sangat tragis)
3. Ananda — Kawan Pribadi Buddha
- Sepupu Buddha
- Pelayan (pesuruh) Buddha selama 25 tahun
- Ingat semua khotbah Buddha — mendominasi khotbah pertama (Sutta Pitaka) yang diingat di Sidang Buddhis Pertama
- Sangat penuh welas asih — namun tidak mencapai arahant hingga setelah Buddha wafat
4. Anuruddha — “Yang Pandai Melihat”
- Sepupu Buddha
- Memperoleh penglihatan dewa (dibba-cakkhu) — melihat 1.000 alam semesta
- Menangis saat Buddha wafat: “Ini adalah permulaan, tetapi untuk-Mu, pada hari ini tidak ada lagi yang tersisa”
TAHUN-TAHUN TERAKHIR — WAFATNYA
Memasuki Usia 80
Menurut Mahāparinibbāna Sutta (Sutta Terpanjang dalam Pali Canon), sekitar 1 tahun sebelum wafat, Buddha berkata kepada Ananda:
“Ananda, aku sudah tua, lanjut usia, 80 tahun — pada tahap akhir hidupku. Seperti kereta tua yang hanya bisa jalan dengan perbaikan, demikian juga tubuhku — bisa bergerak hanya dengan perbaikan.”
Tiga Peringatan
Buddha memberikan tiga peramalan yang sangat menarik:
- Buddha akan wafat dalam 3 bulan (jika diminta)
- Setelah Buddha wafat, Sangha akan tetap sebagai Guru (dhamma-vinaya)
- Jika ada yang mau berpisah dari Sangha, Sangha akan beradaptasi
Kunjungan ke Pāvā
Buddha sempat ke Pāvā, kota pedagang. Di sana ia makan makanan dari Cunda (seorang pandai besi) — beberapa tradisi mengatakan itu daging babi, lainnya makanan fermentasi, atau truffle. Apa pun itu, Buddha jatuh sakit parah (disentri).
Buddha kepada Cunda: “Cunda, janganlah bersedih. Ada dua jenis penyajian makanan yang membawa pahala sama — Sakkharasamsandana dan Sūkara-maddava (yang paling kedua). Makanan-Mu yang kedua termasuk yang kedua — dengan memberikan makanan ini kepada Buddha, kamu telah membuat jasa besar.”
Perjalanan Terakhir ke Kushinagar
Meskipun sakit, Buddha memaksa berjalan — dari Pāvā ke Kushinagar, jarak ±40 km, beberapa hari, tanpa berhenti. Di tengah jalan, ia sempat pingsan karena penyakit, dan Ananda sangat gelisah.
Empat Tempat Suci
Buddha memberitahu Ananda tentang empat tempat yang akan dikunjungi untuk menginspirasi:
- Lumbini — tempat lahir
- Bodh Gaya — tempat pencerahan
- Sarnath — tempat sermon pertama
- Kushinagar — tempat parinirvana
Siapa pun yang meninggal di tempat ziarah ini, “setelah kematian akan muncul di alam surgawi.”
Pohon Sala Kembar
Sampai di Kushinagar (ibukota Republik Malla), Buddha berbaring di tempat tidur di antara dua pohon sala kembar, dengan kepala menghadap utara.
Menerima Subhadda — Murid Terakhir
Sebelum wafat, Subhadda — petapa dari kelompok lain — datang dan bertanya apakah mencapai Nibbana di bawah guru lain. Buddha menjawab:
“Subhadda, dalam doktrin mana pun Jalan Mulia Berunsur Delapan tidak ada, mereka tidak memiliki petapa yang pertama, kedua, ketiga, atau keempat — yaitu arahant, berlatih untuk arahant, atau yang berlatih dalam latihan menuju arahant.”
Subhadda mencapai arahant saat itu juga — menjadi murid terakhir Buddha.
Khotbah Terakhir
Dengan para bhikkhu terkumpul, Buddha menyampaikan khotbah terakhirnya:
“Sekarang, bhikkhus, aku memberitahukan: Semua yang terkondisi (sankhara) tunduk pada kerusakan (vaya-dhamma). Selesaikan tugas-Mu dengan kewaspadaan (appamādena sampādetha).”
Para bhikkhu yang berkumpul menangis. Buddha menenangkannya, lalu melanjutkan:
“Jangan khawatir. Jika kalian mengira Dhamma akan lenyap ketika aku pergi, tidak. Aku sudah mengajarkan 84.000 unit Dhamma (Dhammakkhandha). Setelah aku pergi, Sangha harus berpegang pada Dhamma-Vinaya sebagai guru.”
Tambahan: “Strivers Shall Attain”
“Sahabat, mereka yang memikirkan pertanyaan tentang pendiri atau doktrinnya akan menemukan jawabannya. Karena aku tidak membubarkan komunitas; aku telah membentuk komunitas.”
Jhana Terakhir — Empat Tingkat Konsentrasi
Sebelum parinirvana, Buddha masuk ke jhana — empat tingkat konsentrasi berurutan, naik dan turun, seperti uraian Pali Canon (Digha Nikaya 16):
- Jhana pertama (vitakka, vicāra, pīti, sukha, ekaggatā)
- Jhana kedua (vicāra-matta, pīti, sukha, ekaggatā)
- Jhana ketiga (upekkhā, sukha, ekaggatā)
- Jhana keempat (upekkhā-satipatthāna, ekaggatā)
- Ākāsānañcāyatana → Viññāṇañcāyatana → Ākiñcaññāyatana → Nevasaññānāsaññāyatana → Saññā-vedayita-nirodha (penghentian persepsi dan perasaan)
- Kembali melalui tingkatan-tingkatan (dari Saññā-vedayita-nirodha ke Nevasaññānāsaññāyatana ke Ākāsānañcāyatana)
- Kembali ke jhana 4 — dan dari situ, Parinibbana (meninggal).
Parinirvana
Purnama Vesakha (Mei) — tanggal yang sama ketika ia mencapai pencerahan 45 tahun sebelumnya — Buddha wafat.
Sahampati Brahmā (kembali hadir seperti pada malam pencerahan): “Semua makhluk akhirnya akan membubarkan tubuh. Tapi bagi Beliau, Guru tak tertandingi — telah membubarkan dengan kekuatan penuh.”
Sujampati (Sakka, dewa tertinggi): “Betapa tidak kekalnya benda-benda terkondisi! Sifat mereka: muncul dan lenyap. Setelah muncul, mereka lenyap. Penghentian total mereka adalah kebahagiaan.”
Ananda (murid utama): “Sangat menakjubkan dan mengerikan — bahwa Sang Buddha mencapai parinirvana tanpa menyisakan apa-apa.”
KEMATIAN BUDDHA — Kremasi dan Relikui
Pisah Suka Duka
Para Malla dari Kushinagar mengambil alih tubuh Buddha. Mereka memandikan jenazah, membungkus dengan kapas, lalu meletakkannya di tempat pemakaman kerajaan untuk dihomage. 7 hari lamanya.
Penyaluran
Mereka menunda kremasi selama 7 hari, berharap raja-raja lain datang. Ketika tidak ada yang datang, 8 Malla masing-masing menabuh genderang, akhirnya kremasi dilakukan.
Hasil kremasi:
- Relikui (tulang, gigi, dll.) — dibagi menjadi 8 bagian
- 8 bagian ini diberikan ke 8 kerajaan, masing-masing membangun stupa (reliquary) untuk menyimpan:
| Klaim penerima | Lokasi |
|---|---|
| Magadha | Rajagaha |
| Sakya | Kapilavastu |
| Bulaya | Allakappa |
| Koliya | Ramagama |
| Malla | Kushinagar (tempat wafat) |
| Bṛhad-Vṛkkiya | Vethapida |
| Malla dari Pāvā | Pāvā |
| Moriyas dari Pipphalivana | Pipphalivana |
- Abu dan arang — ke Moriyas
- Tulang selangka — ke Brahmana Drona (yang membangun stupa)
- Hati Buddha — ke Naga (yang memberikan ke salah satu peserta)
8 stupa ini menjadi situs ziarah penting dalam Buddhisme awal.
PENINGGALAN LANGSUNG — Sidang dan Kitab
Sidang Buddhis Pertama (Rajagaha, ±486 SM)
Segera setelah wafat Buddha, 500 arahant bertemu di Rājagaha untuk mengkompilasi ajaran Buddha:
- Dhamma (Sutta Pitaka — khotbah)
- Vinaya (disiplin monastik)
Sidang ini dipimpin oleh Mahākassapa (bukan Sariputta, yang sudah wafat) — Ananda berperan sebagai “juru ingat” (ia mengulangi semua khotbah yang ia dengar dari Buddha) dan Upali mengulangi Vinaya.
Sidang Buddhis Kedua (Vaishali, ±383 SM)
Disebabkan perselisihan 10 aturan yang diajukan oleh bhikkhu dari Vaishali, sidang kedua diadakan. Hasilnya, Sangha pecah menjadi konservatif (Theravāda) dan liberal (Mahāsaṅghika).
Sidang Buddhis Ketiga (Pataliputra, ±250 SM)
Disponsori oleh Kaisar Ashoka. Hasilnya, Teks pertama agama Buddha ditulis (bukan lagi dihafal).
Tripitaka (“Tiga Keranjang”)
Kitab Buddhis akhirnya dikompilasi menjadi Tiga Keranjang (Tipiṭaka):
- Vinaya Pitaka — peraturan monastik
- Sutta Pitaka — khotbah Buddha
- Abhidhamma Pitaka — analisis filosofis
Berbeda-beda varian tergantung aliran:
- Pali Canon (Tipitaka) — versi Theravāda, dalam bahasa Pali
- Āgama — versi berbagai sekolah Mahayana awal, dalam bahasa Sanskrit
AJARAN BUDDHA — Inti Dhamma
1. Empat Kebenaran Mulia (Cattāri Ariya-saccāni)
(Cetakan ulang — sudah didetail di Sermon Pertama)
2. Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhaṅgika Magga)
(Cetakan ulang — sudah didetail di Sermon Pertama)
3. Dependent Origination (Paṭiccasamuppāda)
12 link causation — yang menjelaskan bagaimana penderitaan muncul:
- Avijjā (ketidaktahuan)
- Saṅkhāra (formasi karma)
- Viññāṇa (kesadaran)
- Nāma-rūpa (nama-dan-bentuk)
- Saḷāyatana (6 indra)
- Phassa (kontak)
- Vedanā (perasaan)
- Taṇhā (thirst)
- Upādāna (penjempolan)
- Bhava (menjadi/kelahiran)
- Jāti (kelahiran)
- Jarā-marana (penuaan-kematian) → sokha-dukkha (penderitaan dan ketidaknyamanan)
Buddha: “Siapa yang melihat Dependent Origination, melihat Dhamma. Siapa yang melihat Dhamma, melihat Dependent Origination.”
4. Tiga Ciri Universal (Tilakkhana)
Semua fenomena yang terkondisi memiliki tiga ciri:
- Anicca — tidak kekal (impermanence)
- Dukkha — penderitaan (suffering/unsatisfactoriness)
- Anatta — tanpa diri tetap (non-self)
5. Lima Aggregat (Pañca Khandha)
Buddha menganalisis “diri” menjadi 5 agregat:
- Rūpa — bentuk
- Vedanā — perasaan
- Saññā — persepsi
- Saṅkhāra — formasi mental
- Viññāṇa — kesadaran
“Tidak ada ‘diri’ yang terpisah dari kumpulan ini.”
6. Nirvana (Nibbāna)
Tujuan akhir — penghentian dari siklus kelahiran-kematian, akibat lenyapnya noda-noda batin (āsava). Berbeda dengan:
- Mokṣa (Hindu) — peleburan ke Atman
- Kenaikan ke surga (agamais) — masih dalam samsara
Nibbāna adalah “tidak-terkondisi” (asaṅkhata), tidak bisa didefinisikan dalam bahasa manusia.
7. Tiga Pelatihan (Tisikkhā)
- Sīla (moralitas) — ucapan, perbuatan, penghidupan benar
- Samādhi (konsentrasi) — meditasi
- Paññā (kebijaksanaan) — pemahaman
WARISAN — Penyebaran Setelah Mangkat
500 Tahun Pertama: India
- Maurya (Ashoka, ±268–232 SM) — kaisar paling dermawan, mengirim misionaris ke Sri Lanka, Asia Tengah, Suriah, Mesir
- Kushan (Kanishka, ±127–150 M) — menjadi penting bagi Mahayana
- Gupta (300–500 M) — menjadi “zaman keemasan” Buddhisme India
Penyebaran ke Asia
| Daerah | Periode | Aliran dominan |
|---|---|---|
| Sri Lanka | ±250 SM | Theravāda |
| Myanmar | ±105 M | Theravāda |
| Thailand | ±600 M | Theravāda |
| Kamboja/Laos | ±600 M | Theravāda |
| Tiongkok | ±65 M | Mahayana |
| Korea | ±372 M | Mahayana (Son/Chogye) |
| Jepang | ±552 M | Mahayana (Zen) |
| Tibet | ±650 M | Vajrayāna (Buddhisme Tibet) |
| Indonesia | ±400 M | Mahayana (Srivijaya) |
| Mongolia | ±1200 M | Vajrayāna |
Perpecahan Besar
- Theravāda (sekitar 1 abad SM) — konservatif, kitab dalam Pali, berpusat di Sri Lanka, kini di Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos
- Mahāyāna (awal abad 1 M) — progresif, kitab dalam Sanskrit, berpusat di India utara dan Asia Timur, kini di Tibet, Jepang, Korea, Vietnam
- Vajrayāna (abad 4-5 M) — menggunakan mantra, mandala, ritual, berpusat di Tibet dan Mongolia
KONTEKS HISTORIS — Apakah Siddhartha Historis?
Konteks Historis (Topik Ini Penting)
Mayoritas sarjan modern menerima bahwa Siddhartha Gautama adalah tokoh historis nyata, hidup sekitar abad ke-5 SM di India. Bukti-bukti yang mendukung:
- Catatan Ashoka (Prasasti ke-13) menyebut 5 nama Buddha termasuk “Sakyamuni” atau “Sakyamuni Buddha”
- Referensi dalam Mahāparinirbāna Sutta menunjukkan bahwa beberapa kerajaan (Magadha, Kosala, dsb.) ada di zamannya
- Sebaran geografis pengajaran awal sesuai dengan pola “Indo-Gangetik tengah” abad ke-5
- Bahasa Pali (kitab Buddha) adalah bahasa Indo-Arya tengah, konsisten dengan periode itu
Catatan yang Mengancam
- Tidak ada sumber Buddhis dari jaman Siddhartha (semua kitabnya ditulis ±500 tahun kemudian)
- Bukti arkeologis yang ada (stupa-stupa) dimulai ±200 SM — ≥700 tahun setelah kematian
- Kitab Buddhis dipenuhi cerita supernatural yang sulit diverifikasi
- Beberapa sarjan (seperti R.C. Zaehner) berargumen bahwa “Gautama historis” sangat sulit dipisahkan dari “Buddha mistis”
Perkiraan Tanggal
| Sumber | Tanggal lahir | Tanggal wafat |
|---|---|---|
| Tradisi Theravāda (Sri Lanka) | 563 SM | 483 SM (usia 80) |
| Tradisi Jepang | 566 SM | 486 SM |
| Tradisi Tibet | 961 SM | 881 SM |
| Akademis modern (Richard Gombrich) | 484 SM | 404 SM |
| Akademis modern (D. T. Suzuki) | 470 SM | 390 SM |
| Paling diterima saat ini | ±480 SM | ±400 SM |
DEMOGRAFI SAAT INI
- ±500 juta pengikut Buddhis di seluruh dunia (sekitar 8% populasi manusia)
- 7 negara dengan mayoritas Buddhis: Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos, Bhutan, Sri Lanka, Mongolia
- 2 negara secara resmi komunis yang melarang Buddhisme: Tiongkok (1949-1976, sekarang bangkit kembali), Kamboja (Pol Pot 1975-79, membantai banyak bhikkhu)
- Pusat pengajaran utama modern: Universitas Buddhisme Nalanda (India, abad ke-5) → dipugar oleh presiden APJ Abdul Kalam (2006)
- Pengaruh besar di Barat melalui Beat Generation (Allen Ginsberg, Jack Kerouac), Dalai Lama (Tibet), S.N. Goenka (meditasi Vipassana), Thich Nhat Hanh (Zen Vietnam)
LIHAT JUGA
- Empat Kebenaran Mulia — inti ajaran Buddha
- Jalan Mulia Berunsur Delapan — peta jalan spiritual
- Nirvana — tujuan akhir
- Meditasi Vipassana — praktik meditasi Buddha
- Aliran Theravada — bentuk konservatif
- Aliran Mahayana — bentuk progresif
- Sangha Buddha — komunitas monastik
- Dharma — hukum kosmis
- Lumbini — tempat lahir
- Bodh Gaya — tempat pencerahan
- Sarnath — tempat sermon pertama
- Kushinagar — tempat parinirvana
- Borobudur — candi Buddha terbesar di Indonesia
- Nabi Muhammad SAW — pendiri agama Islam
- Snorri Sturluson — sejarawan Norse
REFERENSI
Sumber Primer (Pali Canon)
- Vinaya Piṭaka — terutama Mahāvagga dan Cullavagga (menjelaskan pembentukan Sangha)
- Dīgha Nikāya — terutama DN 16 Mahāparinibbāna Sutta (sutta terpanjang)
- Saṃyutta Nikāya — terutama SN 56:11 Dhammacakkappavattana Sutta (sermon pertama)
- Majjhima Nikāya — terutama MN 26 Ariyapariyesanā Sutta (pencarian)
- Aṅguttara Nikāya — terutama AN 4:180 Sunakkhatta Sutta
- Jātaka — kisah kehidupan lampau Buddha
Sumber Sekunder (Sarjan Modern)
- Gombrich, Richard (2006). Theravāda Buddhism: A Social History. Routledge.
- Gethin, Rupert (1998). The Foundations of Buddhism. Oxford University Press.
- Cousins, L.S. (1996). “The Dating of the Historical Buddha: A Review Article.” Journal of the Royal Asiatic Society.
- Gombrich, Richard & Bechert, Heinz (1991). The World of Buddhism. Thames & Hudson.
- Harvey, Peter (1990). An Introduction to Buddhism: Teachings, History and Practices. Cambridge University Press.
- Keown, Damien (2000). Buddhism: A Very Short Introduction. Oxford University Press.
- Rahula, Walpola (1974). What the Buddha Taught. Grove Press.
- Nanamoli, Bhikkhu (1991). The Life of the Buddha. BPS.
- Wijayaratna, Mohan (1990). Buddhist Monastic Life. Cambridge University Press.
- Thich Nhat Hanh (1998). The Heart of the Buddha’s Teaching. Broadway Books.
- Dalai Lama (1995). The World of Tibetan Buddhism. Wisdom Publications.
Sumber Indonesia
- S. D. Burhan (2003). Agama Budha. Proyek Pengadaan Buku Pelajaran.
- I. B. Subanada (1992). Apakah Buddhis Itu?. Karaniya.
- K. P. A. Suryo (1993). Hidup Orang Buddha. Yayasan Buddhayana.
Online / Web
- Wikipedia: Gautama Buddha (CC BY-SA 4.0)
- Wikipedia (id): Siddhartha Gautama (CC BY-SA 4.0)
- Access to Insight: Tipitaka readings
- BuddhaNet: Buddhist Studies
- Sutta Central: Sutta translations
- Dharma Talks: Setting the Wheel of Dhamma
Catatan editorial: Artikel ini disusun berdasarkan riset dari sumber-sumber primer Buddhis (Pali Canon dalam terjemahan modern) dan sarjan akademik Barat (Gombrich, Harvey, Gethin, dll.). Riwayat Siddhartha adalah “sejarah yang diselimuti legenda” — beberapa elemen (seperti empat tanda, pertapaan 6 tahun, percakapan dengan Māra) lebih bersifat alegoris daripada kronologis. Saya berupaya membedakan elemen historis yang lebih dapat diverifikasi (pertempuran, kunjungan raja) dari elemen yang lebih mitologis (ramalan saat lahir, mukjizat). Tanggal Siddhartha hidup masih diperdebatkan — saya memberikan rentang kronologis yang luas (±480–400 SM) untuk mencerminkan ketidakpastian akademis.
“Carilah Dhamma, jangan carilah orang yang mengajarkan Dhamma.” — attributed to Siddhartha Gautama (sumber: Ananda Sutta, SN 22:80)