Pendiri agama Buddha, hidup sekitar 568–483 SM di anak benua India. Lahir sebagai pangeran Shakya di Lumbini, mencapai pencerahan (Bodhi) di Bodh Gaya, dan mendirikan Sangha Buddha yang bertahan lebih dari 2.500 tahun.
Siddhartha Gautama (Pali: Siddhattha Gotama; sekitar 563–483 SM menurut tradisi, atau 480–400 SM menurut perkiraan akademis) adalah pendiri agama Buddha dan salah satu tokoh spiritual paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Ia dilahirkan sebagai pangeran Suku Shakya di anak benua India, meninggalkan kehidupan istananya pada usia 29 tahun, dan setelah enam tahun pembelajaran serta pertapaan, mencapai Penerangan Sempurna (Sambodhi) di bawah Pohon Bodhi di Bodh Gaya.
Selama 45 tahun setelah pencerahan, ia berkeliling India utara mengajarkan Empat Kebenaran Mulia (Cattāri Ariya-saccāni) dan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhaṅgika Magga) — yang menjadi inti dari apa yang kemudian dikenal sebagai Buddhisme. Ia meninggal pada usia 80 tahun di Kushinagar, mencapai Parinirvana — kebebasan final dari siklus kelahiran dan kematian.
Selama hidupnya, ±2.500 tahun lalu, Siddhartha meletakkan dasar bagi salah satu agama terbesar di dunia — dengan ±500 juta pengikut saat ini, tersebar di seluruh Asia dan semakin meluas ke seluruh dunia.
Dalam catatan sejarah, Siddhartha Gautama adalah “salah satu tokoh paling misterius” — semua sumber tentang hidupnya baru ditulis beberapa abad setelah kematiannya, menjadikannya lebih sulit diverifikasi secara historis dibanding nabi-nabi agama Abraham. Namun, sebagian besar sarjan modern (termasuk Richard Gombrich, Gethin, dan Cousins) menerima bahwa ia adalah tokoh historis nyata.
Untuk memahami kehidupan Siddhartha, kita perlu melihat latar belakang tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Anak benua India abad ke-6 SM adalah mozaik negara-kota kecil (mahajanapada) di sepanjang Sungai Gangga. Pada masa Siddhartha, beberapa negara besar yang relevan:
India saat itu sedang dalam periode keemasan pemikiran filosofis (800–400 SM). Banyak aliran pemikiran (śramaṇa) bermunculan sebagai reaksi terhadap ritualisme Brahmanisme:
Konsep kunci yang sudah ada di India saat itu:
Siddhartha tidak menciptakan konsep-konsep ini dari nol — ia membangun dari tradisi yang ada, lalu memberikan interpretasi revolusioner: terutama menolak konsep Atman (diri tetap) dan tuhan pencipta.
Siddhartha lahir di Lumbini (kini di Rupandehi, Nepal — ±25 km dari perbatasan India modern), di sebuah taman di bawah pohon sal (Shorea robusta), saat ibunya Maya Devi dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya untuk melahirkan — mengikuti adat Shakya bahwa wanita harus melahirkan di tanah leluhur mereka.
Ayah Siddhartha adalah Śuddhodana — raja elektus Suku Shakya (raja dipilih oleh dewan tetua klan, bukan monarki absolut). Ibu klan Shakya saat itu (sekitar 600–500 SM) adalah Konfusianisme kecil yang terkurung di kaki Himalaya, terisolasi dari kerajaan-kerajaan besar di selatan.
Ibu adalah Mahā Maya (Maya Devi), istri utama Śuddhodana. Menurut tradisi, pada malam konsepsi, ia mimpi seekor gajah putih berenam gading masuk ke sisi kanannya — pertanda bahwa anaknya akan menjadi raja agung (chakravartin) atau Buddha.
Catatan arkeologis: Pada abad ke-3 SM, Kaisar Ashoka dari Kekaisaran Maurya mengunjungi Lumbini dan memasang pillar batu (Ashoka Pillar) dengan prasasti: “Di sinilah Buddha, Sage of the Shakyas, dilahirkan.” Pilar ini masih berdiri di Lumbini, kini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO (1997).
Menurut legenda, Siddhartha dibawa ke kuil pada hari kelima setelah lahir. Brahmin tua bernama Asita (atau Kala Devala) meramalkan dari 32 tanda fisik pada bayi:
“Bayi ini akan menjadi Buddha (yang tercerahkan) atau raja agung (chakravartin). Jika ia melihat empat tanda — orang tua, orang sakit, mayat, dan pertapa — ia akan meninggalkan istana dan menjadi Buddha.”
Mendengar ini, Śuddhodana sangat gelisah — ia ingin Siddhartha menjadi raja, bukan petapa. Maka, dia berusaha keras melindungi anaknya dari semua bentuk penderitaan.
Maya Devi meninggal 7 hari setelah melahirkan Siddhartha (atau, menurut sebagian tradisi, saat Siddhartha masih bayi). Siddhartha kemudian diasuh oleh bibinya, Mahāprajāpati Gautami — yang kemudian menjadi bhikkhuni (biarawati) pertama dalam agama Buddha.
Śuddhodana membangun tiga istana megah untuk Siddhartha, masing-masing untuk satu musim India:
Istana-istana ini terisolasi dari dunia luar. Siddhartha tidak pernah melihat orang sakit, orang tua, atau orang mati. Para pelayan dan dayang-dayang dipilih dari gadis-gadis paling cantik di kerajaan untuk memastikan Siddhartha tidak pernah merasa tidak nyaman.
Sejak kecil, Siddhartha mendapat pendidikan ksatria klasik:
Menurut legenda, ia mencapai nilai sempurna dalam semua ujian. Pada usia 7 tahun, ia memenangkan kompetisi memanah dengan menembus tiga target kayu sekaligus dengan satu anak panah yang melengkung. Testimoni lain menunjukkan ia kadang duduk bermeditasi di bawah pohon dalam waktu lama — menunjukkan sifat kontemplatif yang sudah tampak sejak kecil.
Sekitar usia 16 tahun, Siddhartha menikah dengan Yasodhara — sepupu dari klan Shakya. Pernikahan adalah konspirasi ayahnya untuk mengikat Siddhartha pada kehidupan duniawi.
Yasodhara digambarkan sebagai wanita yang setia, lembut, dan bijaksana — menunggu suaminya selama 6 tahun selama Siddhartha melakukan pertapaan.
Menurut tradisi, Siddhartha memiliki 3 istana dan 40.000 dayang. Sumber Buddhis (yang ditulis beberapa abad kemudian) menekankan bahwa Siddhartha tidak pernah puas dengan kemewahan — ia terus bertanya-tanya:
“Apakah ini semua ada artinya? Apakah saya akan menua, sakit, dan mati seperti semua orang?”
Beberapa saat sebelum Great Departure, Yasodhara melahirkan Rāhula (artinya “rantai” atau “ikatan”). Saat mendengar kelahiran putranya, Siddhartha dilaporkan berkata:
“Sebuah rantei telah muncul (Rāhula lahir).”
Frasa ini bisa berarti:
Śuddhodana sangat takut Siddhartha akan meninggalkan istana. Ia memperketat penjagaan:
Namun, dewata (Tuhan) khawatir Siddhartha akan meninggal tanpa mencapai pencerahan (karena jika ia menjadi raja, ia tidak akan pernah meninggalkan duniawi). Maka, mereka menciptakan ilusi empat tanda untuk dilihat Siddhartha pada empat kunjungan terpisah ke taman kerajaan.
Pada purnama pertama Ashadha (pertengahan Juli), Siddhartha keluar dari istana dengan kereta kuda. Tiba-tiba, ia melihat seorang pria tua — rambut putih, tubuh bungkuk, gemetar.
“Siapa ini, Channa?” (Channa = saisnya)
“Seorang yang sudah tua, Tuan.”
“Apakah ini akan terjadi padaku juga?”
“Ya, Tuan. Semua orang menua.”
Siddhartha terguncang dan kembali ke istana dengan pikiran gelisah. Lambang “muda yang membual” (yobbana-māna) jatuh darinya.
Pada purnama Kattika (pertengahan November), Siddhartha keluar lagi. Kali ini, ia melihat seorang pria sakit — kurus kering, penuh luka, mengerang kesakitan.
“Apa ini, Channa?”
“Orang yang sakit, Tuan. Ini adalah penderitaan manusia.”
Siddhartha kembali dengan hati lebih dalam terluka. Lambang “kesehatan yang membual” (ārogya-māna) jatuh darinya.
Pada purnama Phagguṇa (pertengahan Maret), Siddhartha melihat prosesi pemakaman — orang-orang menggotong mayat untuk dikremasi, keluarga meratap.
“Kemana mereka membawa orang ini, Channa?”
“Ke pembakaran mayat, Tuan. Ini sudah mati.”
“Apakah ini akan terjadi pada semua orang?”
“Ya, Tuan. Semua orang akan mati.”
Siddhartha sangat terguncang. Untuk pertama kalinya, ia menyadari kefanaan yang mutlak. Lambang “kehidupan yang membual” (jīvita-māna) jatuh darinya.
Pada purnama Vesakha (pertengahan Mei — bulan yang kemudian menjadi Hari Waisak), Siddhartha keluar untuk keempat kalinya. Kali ini, ia melihat seorang pertapa — tenang, damai, berkulit putih, dengan mata yang bercahaya.
“Siapa ini, Channa?”
“Seorang petapa, Tuan. Dia meninggalkan dunia untuk mencari pembebasan.”
Harapan muncul di hati Siddhartha. Jika ada orang yang secara sukarela meninggalkan dunia untuk mencari kebenaran, mungkin jawabannya ada. Lambang “ketidaktahuan yang membual” (avijja-māna) jatuh darinya.
Menurut sebagian tradisi (terutama Buddhisme Mahayana, Lalitavistara), Siddhartha juga melihat wanita-wanita istananya tidur dalam pose vulgar — yang menyadarkannya bahwa bahkan dalam penampilan paling menarik, ada kefanaan dan kotoran.
Setelah empat tanda itu, Siddhartha membuat keputusan paling menentukan dalam hidupnya.
Pada malam hari (tanggalnya diperdebatkan, mungkin 29 tahun menurut beberapa sumber), Siddhartha:
Di sepanjang sungai Anomiya (menurut tradisi, sungai Anoma), Siddhartha:
Kanthaka — kuda putih — menurut legenda, meringkik kesedihan. Para dewa mendengar ratapannya dan ikut menangis. Siddhartha menenangkannya, dan Kanthaka wafat karena kesedihan (menurut beberapa tradisi).
Siddhartha berjalan ke Rājagaha (ibukota Magadha). Di sana ia bertemu Āḷāra Kālāma, seorang guru meditasi terkenal.
Di bawah Āḷāra, Siddhartha dengan cepat mencapai tingkat meditasi tertinggi yang diajarkan — “dimensi ketiadaan apapun” (ākiñcaññāyatana). Āḷāra sangat terkesan dan berkata:
“Kau menemukan apa yang aku temukan dengan 30 tahun latihan dalam waktu singkat. Mari, kita bersama-sama memimpin siswa-siswa.”
Siddhartha menolak. Penguasaan meditasi belum menjawab pertanyaannya:
“Apakah ini akhir dari penderitaan, atau masih ada yang lebih dalam?”
Ia kemudian meninggalkan Āḷāra.
Siddhartha lalu belajar dengan Uddaka Rāmaputta, guru lain yang mengajarkan meditasi tingkat lebih tinggi — “dimensi bukan-persepsi-bukan-non-persepsi” (nevasaññānāsaññāyatana). Sekali lagi, ia mencapai tingkat tertinggi dengan cepat, dan Uddaka bahkan menawarkannya posisi sebagai penerus.
Siddhartha masih menolak. Meditasi setinggi apapun, belum menghilangkan kefanaan, usia tua, sakit, dan kematian.
Siddhartha lalu bergabung dengan 5 petapa (kondañña, Vappa, Bhaddiya, Mahanama, Assaji) di tepi Sungai Nairañjanā. Mereka melakukan asketisisme ekstrem selama enam tahun:
Tujuannya: menghancurkan tubuh untuk membebaskan pikiran.
Menurut tradisi, Siddhartha menjadi sangat kurus — bisa merasakan punggungnya dengan tangan. Para dewa takut ia akan mati sebelum mencapai pencerahan. Namun, Siddhartha bertahan dan tidak mendapatkan jawaban.
“Saya sudah melampaui batas asketisisme, tapi saya belum menemukan jawabannya. Asketisisme tidak akan membawa pencerahan.”
Siddhartha menyadari bahwa extreme asceticism salah — seperti tali kecapi yang terlalu kencang atau terlalu kendur. Ia memutuskan untuk menjalani Jalan Tengah (Madhyamā-pratipad).
Pada saat ia melepas asketisisme, seorang gadis desa bernama Sujata dari kampung Senani (dekat Bodh Gaya) datang ke tepi sungai dan memberinya bubur susu (payasam/milk-rice) dalam mangkuk emas. Siddhartha menerima makanan ini — makanan pertamanya setelah berhari-hari.
5 sahabatnya kaget — mereka menganggap Siddhartha telah menyerah. Mereka meninggalkannya: “Ia tidak lagi mau berlatih keras.”
Setelah makan dan bermandi di Sungai Nairañjanā, Siddhartha berjalan ke Bodh Gaya dan duduk di bawah pohon Ficus religiosa (Pohon Bodhi, atau pohon pipal), menghadap timur.
Di sana, ia membuat tekad 7 minggu (sattapabbajja):
“Darah dan dagingku boleh mengering, tapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku menemukan jawabannya.”
Ia mulai bermeditasi, memasuki jhana (tingkat meditasi) satu per satu:
Pada malam terakhir — purnama Vesakha (April/May) — Māra (dewa godaan, personifikasi nafsu dan kematian) datang dengan pasukannya untuk menggoda Siddhartha.
Māra: “Kau tidak punya hak atas singgasana pencerahan. Siapa yang menyaksikanmu bertapa? Berdiri dan buktikan!”
Siddhartha tidak bergeming. Alih-alih menjawab Māra, ia menyentuh bumi — “bhūmidhara mudrā” (mudra menyentuh bumi) — dan bumi bersaksi tentang kebajikan Siddhartha.
Siddhartha: “Bumilah saksiku, dan kebajikanku.”
Māra kalah. Para dewata merayakan.
Saat fajar menyingsing, Siddhartha mencapai Penerangan Sempurna (Sambodhi), yang terdiri dari Tiga Pengetahuan (tisso vijjā):
Menurut tradisi, Siddhartha duduk di bawah pohon Bodhi selama 7 minggu setelah pencerahan, tanpa berdiri atau berbaring (beberapa minggu) — merenungkan Dhamma yang baru ditemukan.
Tempat-tempat yang dikenang:
Catatan penting: Siddhartha tidak langsung mengajarkan Dhamma setelah pencerahan. Ia sempat berpikir: “Dhamma yang aku temukan sangat dalam, sangat sulit dipahami — orang-orang yang tenggelam dalam nafsu tidak akan memahaminya.”
Brahmā Sahampati, dewa tertinggi, datang dan memohon agar Siddhartha mengajar:
“Ada yang berdebu sedikit di matanya, sedikit yang tidak. Ada yang mendengar Dhamma, mereka akan memahami.”
Siddhartha akhirnya setuju — demi belas makhluk (“sattaparisatta” — tujuh kategori makhluk dengan debu yang berbeda-beda di matanya) yang akan memahami.
Sebelum sampai di Sarnath, Siddhartha bertemu dengan Upaka, seorang petapa Jain. Upaka tidak terkesan dengan klaim Siddhartha bahwa ia telah tercerahkan, dan mengambil jalan lain.
Siddhartha berjalan ke Rishipatana / Isipatana — “Taman Rusa” di Sarnath (dekat Varanasi modern), tempat 5 sahabat lama masih tinggal. Mereka awalnya enggan menghormati Siddhartha (karena meninggalkan asketisisme), tetapi setelah melihat cahaya Buddha yang berbeda, mereka akhirnya menerima.
Pada purnama Ashadha (pertengahan Juli), Siddhartha menyampaikan sermon pertama yang tercatat dalam sejarah — Dhammacakkappavattana Sutta (Pemutaran Roda Dhamma) di Sarnath.
“Inilah, para bhikkhu, kebenaran mulia tentang penderitaan: Kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, penyakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, kesedihan dan ratapan adalah penderitaan, perpisahan dari yang dicintai adalah penderitaan, perolehan yang tidak diinginkan adalah penderitaan. Singkatnya: lima agregat penjempolan adalah penderitaan.”
“Inilah, para bhikkhu, kebenaran mulia tentang asal penderitaan: Ini adalah thirst (tanha) — nafsu yang menghasilkan kelahiran kembali, terikat dengan kesenangan yang intens. Ini adalah: thirst untuk kenikmatan indrawi, thirst untuk keberadaan dan becoming, thirst untuk annihilasi.”
“Inilah, para bhikkhu, kebenaran mulia tentang pengakhiran penderitaan: Ini adalah pengakhiran total dari thirst, meninggalkannya, melepaskannya, terbebas darinya. Nibbana.”
“Inilah, para bhikkhu, kebenaran mulia tentang jalan menuju pengakhiran penderitaan — Jalan Mulia Berunsur Delapan:
Siddhartha menolak dua ekstrem:
Jalan Tengah ini adalah “Tathāgata menemukan, memberi visi, memberi pengetahuan, membawa kedamaian”.
Ānanda Kondañña — dari 5 sahabat — mencapai tingkatan Sotapanna (yang pertama kali melihat kebenaran) saat mendengar sermon ini. Pemahaman Kondañña menjadi Nibbana setelah beberapa hari latihan lebih lanjut — ia menjadi arahant pertama.
Kondañña meminta Siddhartha untuk menerima dia ke dalam komunitas. Buddha, setelah beberapa saat tenang, akhirnya menjawab:
“Marilah, bhikkhu. Dhamma telah diajarkan dengan baik. Hiduplah dalam Vinaya (disiplin spiritual) yang telah menetapkan jalan untuk menemukan kebebasan.”
Dengan kata “Ehi bhikkhu” (Marilah, bhikkhu), Buddha mendirikan apa yang kemudian dikenal sebagai Upasampadā (penerimaan monastik) — dan dengan ini, Sangha Buddha pertama resmi didirikan.
Dalam waktu 3 bulan setelah Sarnath, Buddha mengirim 60 arahant (mereka yang sudah tercerahkan) ke seluruh India dengan pesan:
“Pergilah, para bhikkhu, demi kebaikan banyak orang, demi kebahagiaan banyak orang, demi belas kasihan terhadap dunia, demi kebaikan, kebaikan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah dua orang pergi ke arah yang sama. Ajarkanlah Dhamma yang indah di awal, indah di tengah, indah di akhir — baik dalam spirit maupun dalam huruf. Tunjukkan kehidupan murni yang sempurna dan utuh.”
Sangha sudah memiliki fondasi: Vinaya (disiplin monastik) yang lambat laun dirumuskan, Dhamma (ajaran), dan kode etik bhikkhu.
Sariputta (Skt. Śāriputra) dan Moggallana (Skt. Maudgalyāyana) adalah dua murid terpenting Buddha. Mereka berdua dulunya adalah petapa Jain, yang menyadari Dhamma setelah bertemu dengan Assaji (salah satu dari 5 sahabat).
“Dari sebab-musabab muncul segala hal; dari sebab-musabab mereka lenyap. Sang Buddha mengajarkan sebab-musabab, dan apa yang menggugurkannya.”
Sariputta langsung mencapai tingkatan Sotapanna dan pergi mencari Moggallana. Keduanya kembali ke Buddha dan menjadi bhikkhu. Moggallana mencapai arahant dalam waktu seminggu; Sariputta dalam dua minggu.
Mereka berdua menjadi “dua tangan kanan” Buddha — Sariputta sebagai ahli Dhamma, Moggallana sebagai ahli kekuatan supranatural (iddhi).
Setelah mencapai sukses di Rājagaha, Buddha berjalan pulang ke Kapilavastu untuk menemui ayahnya, Śuddhodana — yang masih berduka atas kepergiannya.
Śuddhodana yang awalnya marah dan menolak melihat Siddhartha, akhirnya mengalah. Saat ia melihat putranya yang kurus, berpakaian jubah kuning tua, ia menangis:
“Putraku, kenapa kau menghancurkan dirimuku? Engkau yang kucintai lebih dari apapun…”
Buddha membalas dengan tenang:
“Ayah, aku tidak menghancurkan-Mu. Aku menemukan Dhamma — dan aku harus membagikannya. Aku tidak akan kembali ke kehidupan mewah ini sampai aku menemukan jawaban bagi semua makhluk.”
Śuddhodana akhirnya masuk Buddha (menurut tradisi) — dan menjadi Upasaka (umat awam Buddha) — menjelang akhir hidupnya.
Yasodhara — yang telah menunggu 6 tahun — bukan orang yang menyalahkan. Ia justru memeluk Siddhartha dan berkata:
“Siddhartha, akhirnya kau kembali.”
Tradisi bahkan mengatakan bahwa Yasodhara akhirnya menjadi bhikkhuni (setelah 5 tahun menunggu, karena Buddha juga menerima aturan untuk wanita — see below) dan mencapai arahant.
Rāhula — anak laki-laki Siddhartha — akhirnya diminta olehnya:
“Rāhula, di mana itu peninggalan yang ditinggalkan ayahmu? Ayahmu akan memberikanmu warisan surgawi.”
Dengan itu, Buddha membuat Rāhula menjadi bhikkhu — pada usia 7 tahun — menjadi samanera (novis) pertama.
Catatan: Pembedahan menjadi bhikkhu membuat Siddhartha menjadi “pendidik” yang pertama. Namun juga menjadi kontroversi: ayah Yasodhara “meninggal dunia” karena tidak pernah melihat cucu laki-lakinya tumbuh dewasa.
Setelah beberapa minggu di Kapilavastu, Buddha akhirnya kembali ke kehidupan mengajar. Beberapa dari kerabatnya (Nanda, Anuruddha, Bharadvaja, dll.) juga bergabung — kebanyakan adalah sepupu atau kerabat dekatnya dari Suku Shakya.
Tempat tinggal utama Buddha selama ±19 tahun (vassa atau musim hujan) adalah Jetavana — Taman Jeta (Hutan Jeta) di kota Savatthi (ibukota Kerajaan Kosala). Tempat ini diberikan oleh Anathapindika — seorang bankir kaya dari Savatthi, yang membeli taman dari pangeran Jeta dengan harga selapis emas yang menutupi seluruh tanah.
Menurut tradisi, Anathapindika meletakkan satu koin emas demi satu koin emas di atas tanah, sehingga ketika pangeran Jeta datang untuk memeriksa, dia menemukan bahwa jumlah uang telah sama dengan harga yang diminta. Pada akhirnya, mereka berdua sepakat bahwa Anathapindika akan membangun kuil, dan pangeran Jeta akan menyumbangkan bangunannya. Jetavana menjadi tempat paling penting untuk pengajaran Buddha — 844 dari 1.500+ sutta Buddha disampaikan di sini.
Anathapindika sendiri akhirnya bangkrut karena kemurahan hatinya. Namun Buddha, alih-alih memarahkannya, justru memujinya sebagai “Paling Dermawan dari Umat” (Setthi).
6 musim hujan dihabiskan di Bamboo Grove (Veluvana) di Rājagaha — taman milik Raja Bimbisāra dari Magadha.
Bimbisāra adalah raja pertama yang memeluk Buddha — bertemu dengan Siddhartha sebelum pencerahannya (saat Siddhartha masih menjadi petapa yang mengemis). Bimbisāra pernah menawarkan tahta pada Siddhartha yang masih muda, yang ditolak dengan sopan. Setelah Bimbisāra mendengar Siddhartha menjadi Buddha, ia menjadi murid utama.
Sayangnya, akhir hayat Bimbisāra tragis — putranya Ajātasattu (yang dibujuk oleh Devadatta untuk memusuhi Buddha) akhirnya merekayasa kematian ayahnya dengan cara kelaparan (mencabut makanan sampai ayahnya mati). Ini menjadi salah satu tema besar dalam Vinaya — bahwa anak yang tidak berbakti tidak akan mendapat berkah.
Di puncak ini Buddha menerima beberapa kunjungan penting — termasuk cerita tentang Devadatta (lihat di bawah).
Devadatta adalah sepupu Siddhartha dari Suku Shakya. Ia menjadi bhikkhu di bawah Buddha, dan mendapat beberapa kekuatan supranatural. Namun, seiring waktu, iri hati muncul:
“Ia mengklaim memiliki kesaktian lebih dari Buddha. Ia ingin menggeser kedudukan Buddha.”
Devadatta mendekati Buddha dengan lima tuntutan keras yang seharusnya diadopsi oleh Sangha:
Buddha menolak, dengan alasan:
“5 tuntutan ini adalah kebiasaan para pejalan kaki yang mengikuti seekor sapi yang membebek — yang akan menyusahkan orang awam, dan yang tidak sesuai untuk Sangha.”
Devadatta meninggalkan Sangha dengan 500 bhikkhu yang mengikutinya — dan membentuk monasterinya sendiri. Ini menjadi perpecahan pertama dalam agama Buddha.
Devadatta menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Buddha. Ketika mereka bertemu Buddha, mereka diyakinkan oleh ketenangan Buddha dan menjadi muridnya.
Saat Buddha berjalan di Puncak Vulture (Gijjhakūṭa), Devadatta mendorong batu besar dari atas. Dua puncak kecil muncul dan menahan batu itu, tetapi sisa batunya tetap memotong kaki Buddha dan mengeluarkan darah.
Buddha berkata:
“Bodoh, kamu telah mendapatkan karma buruk yang akan berakibat di kehidupan ini juga.”
Devadatta membebaskan gajah perang mabuk Nāḷāgiri ke jalan Buddha. Orang-orang berteriak peringatan — Buddha tidak bergeming. Saat Nāḷāgiri mendekat, Buddha membroadcast pikiran welas asih — dan gajah itu berlutut di depan Buddha.
Buddha memaafkan Devadatta berkali-kali — sesuai dengan kualitas metta (cinta kasih universal).
Siddhartha awalnya menolak permintaan untuk menerima wanita sebagai bhikkhuni. Permohonan dari Mahāprajāpati (bibinya yang mengasuhnya) 3 kali ditolak.
Akhirnya, Ananda (sais pribadinya yang menjadi bhikkhu) bertanya:
“Apakah wanita mampu mencapai Nibbana?”
Buddha: “Ya, Ananda.”
Ananda: “Lalu, demi kepentingan mereka, izinkan mereka.”
Buddha akhirnya menerima wanita — dengan 8 aturan tambahan (garudhamma) yang harus dipatuhi oleh bhikkhuni, termasuk kepatuhan hierarki terhadap bhikkhu. Ini membuat posisi bhikkhuni kurang otonom dibanding bhikkhu, dan menjadi kontroversi yang berlanjut dalam sejarah agama Buddha.
Mahāprajāpati menjadi bhikkhuni pertama — dan dilaporkan mencapai arahant. Buddha menyebutnya “kebanyakan karunia” yang dia dapatkan dari kerabatnya.
Menurut Mahāparinibbāna Sutta (Sutta Terpanjang dalam Pali Canon), sekitar 1 tahun sebelum wafat, Buddha berkata kepada Ananda:
“Ananda, aku sudah tua, lanjut usia, 80 tahun — pada tahap akhir hidupku. Seperti kereta tua yang hanya bisa jalan dengan perbaikan, demikian juga tubuhku — bisa bergerak hanya dengan perbaikan.”
Buddha memberikan tiga peramalan yang sangat menarik:
Buddha sempat ke Pāvā, kota pedagang. Di sana ia makan makanan dari Cunda (seorang pandai besi) — beberapa tradisi mengatakan itu daging babi, lainnya makanan fermentasi, atau truffle. Apa pun itu, Buddha jatuh sakit parah (disentri).
Buddha kepada Cunda: “Cunda, janganlah bersedih. Ada dua jenis penyajian makanan yang membawa pahala sama — Sakkharasamsandana dan Sūkara-maddava (yang paling kedua). Makanan-Mu yang kedua termasuk yang kedua — dengan memberikan makanan ini kepada Buddha, kamu telah membuat jasa besar.”
Meskipun sakit, Buddha memaksa berjalan — dari Pāvā ke Kushinagar, jarak ±40 km, beberapa hari, tanpa berhenti. Di tengah jalan, ia sempat pingsan karena penyakit, dan Ananda sangat gelisah.
Buddha memberitahu Ananda tentang empat tempat yang akan dikunjungi untuk menginspirasi:
Siapa pun yang meninggal di tempat ziarah ini, “setelah kematian akan muncul di alam surgawi.”
Sampai di Kushinagar (ibukota Republik Malla), Buddha berbaring di tempat tidur di antara dua pohon sala kembar, dengan kepala menghadap utara.
Sebelum wafat, Subhadda — petapa dari kelompok lain — datang dan bertanya apakah mencapai Nibbana di bawah guru lain. Buddha menjawab:
“Subhadda, dalam doktrin mana pun Jalan Mulia Berunsur Delapan tidak ada, mereka tidak memiliki petapa yang pertama, kedua, ketiga, atau keempat — yaitu arahant, berlatih untuk arahant, atau yang berlatih dalam latihan menuju arahant.”
Subhadda mencapai arahant saat itu juga — menjadi murid terakhir Buddha.
Dengan para bhikkhu terkumpul, Buddha menyampaikan khotbah terakhirnya:
“Sekarang, bhikkhus, aku memberitahukan: Semua yang terkondisi (sankhara) tunduk pada kerusakan (vaya-dhamma). Selesaikan tugas-Mu dengan kewaspadaan (appamādena sampādetha).”
Para bhikkhu yang berkumpul menangis. Buddha menenangkannya, lalu melanjutkan:
“Jangan khawatir. Jika kalian mengira Dhamma akan lenyap ketika aku pergi, tidak. Aku sudah mengajarkan 84.000 unit Dhamma (Dhammakkhandha). Setelah aku pergi, Sangha harus berpegang pada Dhamma-Vinaya sebagai guru.”
“Sahabat, mereka yang memikirkan pertanyaan tentang pendiri atau doktrinnya akan menemukan jawabannya. Karena aku tidak membubarkan komunitas; aku telah membentuk komunitas.”
Sebelum parinirvana, Buddha masuk ke jhana — empat tingkat konsentrasi berurutan, naik dan turun, seperti uraian Pali Canon (Digha Nikaya 16):
Purnama Vesakha (Mei) — tanggal yang sama ketika ia mencapai pencerahan 45 tahun sebelumnya — Buddha wafat.
Sahampati Brahmā (kembali hadir seperti pada malam pencerahan): “Semua makhluk akhirnya akan membubarkan tubuh. Tapi bagi Beliau, Guru tak tertandingi — telah membubarkan dengan kekuatan penuh.”
Sujampati (Sakka, dewa tertinggi): “Betapa tidak kekalnya benda-benda terkondisi! Sifat mereka: muncul dan lenyap. Setelah muncul, mereka lenyap. Penghentian total mereka adalah kebahagiaan.”
Ananda (murid utama): “Sangat menakjubkan dan mengerikan — bahwa Sang Buddha mencapai parinirvana tanpa menyisakan apa-apa.”
Para Malla dari Kushinagar mengambil alih tubuh Buddha. Mereka memandikan jenazah, membungkus dengan kapas, lalu meletakkannya di tempat pemakaman kerajaan untuk dihomage. 7 hari lamanya.
Mereka menunda kremasi selama 7 hari, berharap raja-raja lain datang. Ketika tidak ada yang datang, 8 Malla masing-masing menabuh genderang, akhirnya kremasi dilakukan.
Hasil kremasi:
| Klaim penerima | Lokasi |
|---|---|
| Magadha | Rajagaha |
| Sakya | Kapilavastu |
| Bulaya | Allakappa |
| Koliya | Ramagama |
| Malla | Kushinagar (tempat wafat) |
| Bṛhad-Vṛkkiya | Vethapida |
| Malla dari Pāvā | Pāvā |
| Moriyas dari Pipphalivana | Pipphalivana |
8 stupa ini menjadi situs ziarah penting dalam Buddhisme awal.
Segera setelah wafat Buddha, 500 arahant bertemu di Rājagaha untuk mengkompilasi ajaran Buddha:
Sidang ini dipimpin oleh Mahākassapa (bukan Sariputta, yang sudah wafat) — Ananda berperan sebagai “juru ingat” (ia mengulangi semua khotbah yang ia dengar dari Buddha) dan Upali mengulangi Vinaya.
Disebabkan perselisihan 10 aturan yang diajukan oleh bhikkhu dari Vaishali, sidang kedua diadakan. Hasilnya, Sangha pecah menjadi konservatif (Theravāda) dan liberal (Mahāsaṅghika).
Disponsori oleh Kaisar Ashoka. Hasilnya, Teks pertama agama Buddha ditulis (bukan lagi dihafal).
Kitab Buddhis akhirnya dikompilasi menjadi Tiga Keranjang (Tipiṭaka):
Berbeda-beda varian tergantung aliran:
(Cetakan ulang — sudah didetail di Sermon Pertama)
(Cetakan ulang — sudah didetail di Sermon Pertama)
12 link causation — yang menjelaskan bagaimana penderitaan muncul:
- Avijjā (ketidaktahuan)
- Saṅkhāra (formasi karma)
- Viññāṇa (kesadaran)
- Nāma-rūpa (nama-dan-bentuk)
- Saḷāyatana (6 indra)
- Phassa (kontak)
- Vedanā (perasaan)
- Taṇhā (thirst)
- Upādāna (penjempolan)
- Bhava (menjadi/kelahiran)
- Jāti (kelahiran)
- Jarā-marana (penuaan-kematian) → sokha-dukkha (penderitaan dan ketidaknyamanan)
Buddha: “Siapa yang melihat Dependent Origination, melihat Dhamma. Siapa yang melihat Dhamma, melihat Dependent Origination.”
Semua fenomena yang terkondisi memiliki tiga ciri:
Buddha menganalisis “diri” menjadi 5 agregat:
“Tidak ada ‘diri’ yang terpisah dari kumpulan ini.”
Tujuan akhir — penghentian dari siklus kelahiran-kematian, akibat lenyapnya noda-noda batin (āsava). Berbeda dengan:
Nibbāna adalah “tidak-terkondisi” (asaṅkhata), tidak bisa didefinisikan dalam bahasa manusia.
| Daerah | Periode | Aliran dominan |
|---|---|---|
| Sri Lanka | ±250 SM | Theravāda |
| Myanmar | ±105 M | Theravāda |
| Thailand | ±600 M | Theravāda |
| Kamboja/Laos | ±600 M | Theravāda |
| Tiongkok | ±65 M | Mahayana |
| Korea | ±372 M | Mahayana (Son/Chogye) |
| Jepang | ±552 M | Mahayana (Zen) |
| Tibet | ±650 M | Vajrayāna (Buddhisme Tibet) |
| Indonesia | ±400 M | Mahayana (Srivijaya) |
| Mongolia | ±1200 M | Vajrayāna |
Mayoritas sarjan modern menerima bahwa Siddhartha Gautama adalah tokoh historis nyata, hidup sekitar abad ke-5 SM di India. Bukti-bukti yang mendukung:
| Sumber | Tanggal lahir | Tanggal wafat |
|---|---|---|
| Tradisi Theravāda (Sri Lanka) | 563 SM | 483 SM (usia 80) |
| Tradisi Jepang | 566 SM | 486 SM |
| Tradisi Tibet | 961 SM | 881 SM |
| Akademis modern (Richard Gombrich) | 484 SM | 404 SM |
| Akademis modern (D. T. Suzuki) | 470 SM | 390 SM |
| Paling diterima saat ini | ±480 SM | ±400 SM |
Catatan editorial: Artikel ini disusun berdasarkan riset dari sumber-sumber primer Buddhis (Pali Canon dalam terjemahan modern) dan sarjan akademik Barat (Gombrich, Harvey, Gethin, dll.). Riwayat Siddhartha adalah “sejarah yang diselimuti legenda” — beberapa elemen (seperti empat tanda, pertapaan 6 tahun, percakapan dengan Māra) lebih bersifat alegoris daripada kronologis. Saya berupaya membedakan elemen historis yang lebih dapat diverifikasi (pertempuran, kunjungan raja) dari elemen yang lebih mitologis (ramalan saat lahir, mukjizat). Tanggal Siddhartha hidup masih diperdebatkan — saya memberikan rentang kronologis yang luas (±480–400 SM) untuk mencerminkan ketidakpastian akademis.
“Carilah Dhamma, jangan carilah orang yang mengajarkan Dhamma.” — attributed to Siddhartha Gautama (sumber: Ananda Sutta, SN 22:80)