Isra Mi'raj

Perjalanan malam Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram di Mekah ke Masjid al-Aqsa di Yerusalem, lalu naik ke langit ke tujuh (Sidratul Muntaha) untuk bertemu Allah. Peristiwa penting yang menetapkan shalat 5 waktu.

Perjalanan supernatural Nabi Muhammad di malam hari — ditetapkan sebagai rukun Islam terpenting (salat 5 waktu). Tercatat dalam Al-Quran Surah Al-Isra dan Hadits Bukhari.

Print

Isra Mi’raj

Isra Mi’raj (Arab: الإسراء والمعراج, al-Isrā’ wa al-Mi’rāj) adalah perjalanan malam supernatural Nabi Muhammad yang terdiri dari dua tahap:

  1. Isra (الإسراء) — perjalanan dari Masjid al-Haram (Mekah) ke Masjid al-Aqsa (Yerusalem)
  2. Mi’raj (المعراج) — kenaikan dari Yerusalem ke langit ke-7 (Sidratul Muntaha) untuk bertemu Allah

Peristiwa ini terjadi pada 27 Rajab ±620 M (10-11 tahun sebelum Hijrah) — di tengah Tahun Kesedihan (setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib).


Tahap 1: Isra (Mekah → Yerusalem)

Buraq

Nabi dinaikkan oleh Buraq — makhluk putih kecil yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal, dengan sayap, yang melesat dengan kecepatan cahaya. Nabi dan Buraq mendarat di Masjid al-Haram untuk memulai perjalanan.

Perjalanan

Nabi dan Jibril melakukan perjalanan dari Mekah ke Yerusalem (sekitar ±1.200 km) — menurut tradisi, dalam sebagian dari malam. Nabi menimpin shalat di Masjid al-Aqsa dengan para nabi sebelumnya — Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dll — sebagai imam.

“Malam itu Nabi menyusul para nabi sebelumnya di Yerusalem — Ibrahim, Musa, Isa, dan semuanya. Nabi memimpin mereka dalam shalat.” — Hadits Riwayat Bukhari

Konfirmasi dengan Kafilah

Keesokan harinya, Nabi menceritakan pengalaman ini. Quraisy terkejut — sebagian besar menolak percaya. Abu Bakar as-Siddiq langsung membenarkan Nabi, dan karena ini ia mendapat julukan “as-Siddiq” (“yang membenarkan”).

Nabi mengkonfirmasi detail perjalanan dengan kafilah dagang Quraisy yang baru kembali dari Suriah — kenderaan kafilah dan tanggal tibanya di Mekah, kondisi langganan di Yatsrib, dan kabar tentang pemberontakan di Yaman. Detail-detail yang Nabi ceritakan cocok dengan kenyataan — semakin meyakinkan sebagian orang, semakin menambah kebingungan bagi yang lain.


Tahap 2: Mi’raj (Yerusalem → Langit)

Tujuh Langit

Nabi dinaikkan ke tujuh langit dengan tangga (ma’raj) — di setiap langit, beliau bertemu nabi zaman itu:

LangitNabi
1Adam (orang pertama)
2Nuh & Isa (beberapa versi)
3Yusuf (putra Yakub)
4Idris (Enoch)
5Harun (saudara Musa)
6Musa
7Ibrahim — yang bersandar di Baitul Makmur

Sidratul Muntaha

Di langit ke-7, Nabi sampai di Sidratul Muntaha (pohon lote yang paling ujung) — batas yang tidak bisa dilewati makhluk mana pun. Tuhan bercakap langsung dengan Nabi dan menetapkan 50 waktu shalat (10×5) untuk umat Islam.

Penurunan Shalat 50→5

Nabi bertemu Musa di langit ke-6. Musa berkata:

“Apa yang Tuhanmu tetapkan untuk umatmu?” Nabi: “50 waktu shalat.” Musa: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintakan keringanan — umatmu tidak akan mampu menanggung 50 waktu.”

Nabi berulang kali naik untuk meminta keringanan, dan setiap kali Tuhan mengurangi 5 waktu. Akhirnya, Nabi kembali dengan 5 waktu — yang merupakan wajib dan setara dengan 50 waktu dari sisi pahala (menurut hadits lain).


Ayat Al-Quran

Isra Mi’raj disebutkan dalam Surah Al-Isra 17:1 — satu-satunya ayat dalam Al-Quran yang secara langsung merujuk pada perjalanan ini:

“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjid al-Haram (Mekah) ke Masjid al-Aqsa (Palestina) yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”Quran 17:1

Hadits tentang isra Mi’raj diriwayatkan oleh Aisyah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Malik bin Sha’sha’ah (Bukhari).


Dua Perspektif

1. Tradisional (Jasmani & Ruhani)

Sebagian besar sarjan Muslim dan beberapa sarjan Barat tradisional menerima bahwa perjalanan ini terjadi secara jasmani — Nabi benar-benar melintasi ruang angkasa dengan Buraq (yang tidak terbantah oleh hukum fisika menurut pemahaman Quran).

2. Metaforis / Mimpi / Ruhani

Sebagian sarjan Muslim awal (termasuk Aisyah) dan beberapa sarjan modern memahami peristiwa ini sebagai pengalaman ruhani atau mimpi — bukan perjalanan fisik literal. Hadits dari Aisyah menyebutkan bahwa perjalanan ini adalah “mimpi Nabi” — tetapi banyak sarjan memperdebatkan apakah hadits ini autentik.


Pengaruh pada Umat Islam

Isra Mi’raj mempererat kesetiaan umat awal Islam kepada Nabi, terutama setelah Tahun Kesedihan. Peristiwa ini juga menjadi latar belakang dari popularitas Al-Aqsa sebagai tempat ziarah Islam ketiga (setelah Mekah dan Madinah).

Hari Raya Isra Mi’raj dirayakan setiap 27 Rajab di banyak negara Muslim, walaupun ini bukan hari raya resmi dalam Islam (karena tidak disebut dalam Al-Quran atau hadits yang sahih).


Lihat juga

Type at least 2 characters to search.

Press to navigate, to open, esc to close.