Kurikulum Merdeka

Kurikulum nasional Indonesia sejak 2022, ditandai otonomi belajar, Projek Profil, dan penyederhanaan materi—pengganti Kurikulum 2013.

Print

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum nasional Indonesia yang mulai diterapkan secara terbatas pada 2021-2022 dan menjadi kurikulum nasional penuh sejak 2024, setelah Kurikulum 2013 (K-13) dianggap gagal menyiapkan siswa untuk abad ke-21. Dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim (2019-2024) sebagai bagian dari program Merdeka Belajar.

Latar Belakang

K-13 (2013-2023) dikritik karena:

  • Terlalu padat konten, hafalan, dan administratif
  • Tidak fleksibel — guru tidak bisa menyesuaikan dengan konteks lokal
  • Capaian pembelajaran abstrak — sulit diukur
  • Kehilangan jam untuk pengembangan karakter
  • Hasil PISA 2018: Indonesia ranking 60-an dari 79 negara

Kurikulum Merdeka mencoba menjawab dengan prinsip:

“Belajar bukan tentang menghafal, tapi tentang memahami, menerapkan, dan merefleksikan.”

Filosofi

  • Otonomi Belajar — sekolah dan guru diberi kebebasan menyusun kurikulum sendiri
  • Konten Esensial — hanya 60-70% materi yang wajib, sisanya sesuai kebutuhan lokal
  • Pembelajaran Mendalam (deep learning) — fokus pada pemahaman, bukan hafalan
  • Diferensiasi — mengajar sesuai kebutuhan siswa
  • Profil Pelajar Pancasila — outcome utama

Struktur

1. Capaian Pembelajaran (CP)

Menggantikan KI/KD di K-13. Berisi kompetensi yang diharapkan, bukan daftar materi detail. Dirumuskan oleh Kemendikbudristek, tapi bukan hafalan.

2. Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Guru menyusun sendiri dari CP, bisa berbeda antar sekolah. Fleksibel.

3. Projek Profil Pelajar Pancasila (P5)

  • Wajib minimal 25-30% waktu kokurikuler
  • 6 dimensi Profil: Beriman, Berkebinekaan, Bergotong Royong, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif
  • Berbentuk projek lintas mata pelajaran
  • Contoh: projek pasar tradisional, projek mitigasi bencana, projek perubahan iklim

4. Mata Pelajaran

  • SD: 6 mapel inti + Mulok (muatan lokal)
  • SMP: 9 mapel + Mulok
  • SMA/SMK: Mapel wajib + peminatan/pilihan

Perubahan Signifikan dari K-13

AspekK-13Kurikulum Merdeka
FilosofiBerbasis kontenBerbasis kompetensi & karakter
RPPRPP 13 komponen (admin berat)ATP sederhana
PenilaianUH/UTS/UAS/UNFormatif-sumatif, Asesmen Nasional (AN)
UNAda (beban siswa)Dihapus sejak 2021
ProjekEkstrakurikulerIntrakurikuler (P5)
AdministrasiBanyak (silabus, RPP, dll.)Sederhana
Lokal kontenMinimal25-30% projek lokal

Tahap Implementasi

  • 2021-2022 — Pilot di 2.484 sekolah (kurang dari 1%)
  • 2022-2023 — Diperluas ke 143.000 sekolah (kurang lebih 50%)
  • 2023-2024Seluruh Indonesia (~440.000 sekolah)
  • 2024-sekarang — Kurikulum nasional penuh

Kritik

1. Implementasi Terburu-buru

  • Nadiem menerapkan nasional dalam 3 tahun, sedangkan negara lain butuh 5-10 tahun
  • Guru tidak punya waktu pelatihan cukup
  • Materi ajar (buku teks) terlambat datang

2. Beban Guru Naik

  • Guru harus mampu menyusun ATP sendiri (bukan “tinggal mengajar”)
  • Banyak guru yang tidak punya kemampuan desain kurikulum
  • Stress, kelelahan, turnover meningkat

3. Gap Kota-Desa

  • Di kota: guru mampu, sekolah punya sumber daya
  • Di daerah: guru bingung, tidak ada pendampingan, murid ketinggalan

4. Projek P5 (Profil Pelajar Pancasila)

  • 25-30% waktu untuk projek dikhawatirkan mengurangi waktu akademik
  • Banyak projek yang sebenarnya sekadar ceremonial (karnaval, bersih-bersih)
  • Kurang terukur dampaknya pada Profil Pelajar Pancasila

5. Tidak Memperbaiki Akar Masalah

  • Kualitas guru honorer yang belum S1 (47% PAUD, 7,7% SD-SMA) tidak tersentuh
  • Gaji guru honorer Rp400.000/bulan tetap
  • Sarana prasarana tetap kurang

Asesmen Nasional (AN)

Pengganti UN yang tidak menentukan kelulusan, hanya memetakan:

  • Literasi Membaca
  • Literasi Matematika (Numerasi)
  • Literasi Sains
  • Karakter (survei)

AN dipakai untuk diagnostik, bukan seleksi. Hasilnya dipublikasikan ke sekolah, dinas, dan publik (Rapor Pendidikan).

Dampak

  • Positif: guru lebih kreatif, UN hilang, tidak ada lagi “belajar karena UN”
  • Negatif: kualitas tidak merata, guru honorer tidak terangkat, PISA 2022 masih sama rendahnya (PISA 2025 akan jadi tolok ukur pertama)

Lihat Juga

Referensi

  • Kemendikbudristek. 2022. Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka. Jakarta.
  • Nadiem Makarim. 2021. Keynote Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021.
  • Bahasa R. 2023. Kurikulum Merdeka: Konsep, Implementasi, dan Problematika. Deepublish.
  • CNN Indonesia. 2024. “Nadiem Tuntaskan Tugas, Wariskan Kurikulum Merdeka.” 18 Oktober.
  • Kompas. 2024. “Menanti Penerus Nadiem: Lanjutkan atau Koreksi?” 25 Oktober.

Type at least 2 characters to search.

Press to navigate, to open, esc to close.