Tan Malaka

/tan ma-la-ka/

Revolusioner Indonesia, penulis Madilog, dan "Bapak Republik yang Dilupakan" — yang menulis konsep "Republik Indonesia" pada 1925, hampir satu dekade sebelum proklamasi 1945.

Dari guru di perkebunan Deli ke internasionalis di empat benua, kembali ke Indonesia untuk memimpin Persatuan Perjuangan, dan dieksekusi tanpa pengadilan di kaki Gunung Wilis pada 21 Februari 1949. Pahlawan Nasional 1963 yang karyanya dilarang di era Orde Baru.

Also known as: Ibrahim Datuk Sutan Malaka, Iljas Hussein, Ilyas Husein, Hasan Gozali, Tan Ho Seng, Ong Song Lee, Patjar Merah Indonesia, Scarlet Pimpernel of Indonesia
Print

Tan Malaka (/tan ma-la-ka/) adalah seorang revolusioner Indonesia, penulis, dan teoretisi Marxis yang telah mengembara di empat benua sebelum akhirnya kembali ke tanah air untuk memimpin gerakan kiri dalam Revolusi Indonesia. Ia menulis konsep “Republik Indonesia” pada 1925 di Canton — hampir satu dekade sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Julukan Bapak Republik Indonesia disematkan oleh Mohammad Yamin kepadanya, karena dialah orang Indonesia pertama yang secara tertulis mencetuskan republik sebagai bentuk negara, bukan sekadar Indonesia Merdeka sebagai cita-cita.

Kisah hidupnya terbentang dari guru di perkebunan teh Deli (Sumatera Timur, 1920), menjadi koresponden Komintern di Moskow (1922), pengembara tanpa kewarganegaraan di Manila, Canton, Bangkok, Shanghai, dan Singapura (1925–1942), sampai dieksekusi di kaki Gunung Wilis pada 21 Februari 1949 — tanpa proses pengadilan, di usia 51 tahun.

“Bangsa Indonesia tidak cukup hanya merebut bendera, tetapi harus juga menguasai tambang batu bara dan sumber ekonomi.” — Merdeka 100% (1945)

“The revolutionary movement is me.” — Naar de ‘Republiek Indonesia’ (1925)

“Dalam kita ini logika dibentuk di dalam iklim… dialektik! keduanya, logika dan dialektika bergantung pada materialisme.” — Madilog (1943)

Biodata

  • Nama lahir: Ibrahim Simabua Datuak Sutan Malaka
  • Nama kehormatan: “Tan Malaka” — gelar semi-aristokrat warisan bangsawan ibunya; mirip struktur “O’Rahilly” di Irlandia (pohon Minangkabau)
  • Tanggal lahir: 2 Juni 1897, di Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (Hindia Belanda)
  • Tanggal wafat: 21 Februari 1949, Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur
  • Penyebab kematian: Eksekusi regu tembak tanpa proses pengadilan
  • Titel adat: Datuk (setara kepala formal komunitas matrilineal Minangkabau/sabuah parui); pangulu andiko
  • Tinggi/postur: ±155 cm, tubuh kecil/ringkih — ia sendiri menyebutnya “tropical body” saat kedinginan di Belanda
  • Kewarganegaraan: Hindia Belanda (lahir) → tanpa kewarganegaraan (pengembaraan 1922–1942) → Indonesia (kembali 1942)
  • Ayah: Haji Muhammad Rasad Caniago (pegawai pertanian/buruh tani, beberapa sumber menyebutnya kepala desa Minangkabau)
  • Ibu: Rangkayo Sinah Simabua (atau Simabur) — putri tokoh terpandang, Suku Simabua (asal-usul nama “Simabua” dalam nama lengkap Tan Malaka)
  • Status pernikahan: Tidak pernah menikah; tidak meninggalkan keturunan

Nama-nama samaran (23 alias)

Tan Malaka menggunakan paling tidak 23 nama samaran sepanjang hidupnya. Julukannya yang paling terkenal adalah “Patjar Merah Indonesia” (Indonesian Scarlet Pimpernel) — terinspirasi novel Baroness Orczy The Scarlet Pimpernel tentang bangsawan Inggris yang menyamar untuk menyelamatkan kaum bangsawan dari guillotine saat Revolusi Prancis.

PeriodeAlias
FilipinaElias Fuentes, Esahislau Rivera, Alisio Rivera
ShanghaiOssorio
SingapuraHasan Gozali, Tan Ho Seng, Tan Ming Siong
BurmaTan Min Sion
Hong Kong13 nama, satu di antaranya Ong Song Lee
Tiongkok lainCheung Kun Tat, Howard Lee
Indonesia (masa Jepang)Dasuki, Ramli Hussein, Iljas Hussein / Ilyas Husein (nama pena saat menulis Madilog 1943)

Pronunciation

Nama “Tan Malaka” dalam bahasa Minangkabau dibaca /tan ma-la-ka/, dengan tekanan pada suku kata kedua (ma-). Dalam bahasa Belanda dan Inggris modern, umumnya diucapkan /tan ma-la-ka/ atau /tæn mə-ˈlä-kä/.

Julukan

  • “Bapak Republik Indonesia” — dari Mohammad Yamin, karena dialah orang pertama yang menulis konsep “Republik Indonesia” dalam Naar de Republiek Indonesia (1925)
  • “Bapak Republik yang Dilupakan” — judul buku seri Tempo (2010, cetakan ke-11 tahun 2023)
  • “Patjar Merah Indonesia” — julukan dari pers dan dirinya sendiri

Masa kecil dan pendidikan (1897–1919)

Tan Malaka dilahirkan di Pandam Gadang, sebuah nagari di kaki Gunung Marapi di Minangkabau — kawasan yang telah menjadi pusat gerakan modernis Islam dan pendidikan Barat di Sumatera. Ia dibesarkan dalam tradisi matrilineal Minangkabau, dengan peran perempuan (ibu) yang dominan dalam pewarisan dan kehidupan rumah tangga. Ayahnya adalah pegawai rendahan di perkebunan, ibunya berasal dari keluarga bangsawan Suku Simabua.

Pendidikan awal (1908–1913)

  • 1908 (usia 11): Masuk Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock (kini SMA Negeri 2 Bukittinggi) — dijuluki “Sekolah Raja” karena prestise tinggi di Minangkabau. Di sini ia belajar bahasa Belanda, menjadi pemain sepak bola terandal, dan membaca buku yang mengubah hidupnya: De Fransche Revolutie (Wilhelm Blos) — hadiah dari gurunya G. H. Horensma. Buku ini tentang Revolusi Prancis 1789–1804.
  • Masa kecil: Menghafal Al-Qur’an, belajar tasawuf pada Syekh Abdul Wahid Al-Khalidy Asy-Syadzily di Tabek Panjang Ampang Godang, terlatih seni bela diri pencak silat.
  • 1913: Lulus Kweekschool, menerima titel adat datuk, menolak lamaran perempuan kampung; biaya keberangkatan ke Belanda dikumpulkan desa (Engkufonds).

Studi di Belanda (1913–1919)

  • Oktober 1913: Berangkat dari Hindia Belanda dengan kapal Wilis lewat Terusan Suez ke Belanda.
  • 1913–November 1919: Studi di Rijkskweekschool di Haarlem, Belanda — bukan Universitas Leiden seperti yang sering keliru disebut di beberapa sumber populer.
    • Pindah dari asrama ke kamar loteng di Jacobijnestraat karena makanan asrama tidak cocok.
    • Direksi P.H. Van der Ley memberikan teguran.
    • Awal 1914: Kena pleuritis (radang selaput paru), tidak sembuh total sampai 1915.
    • Pengobatan: “busdokter” Dokter Jansen (dokter keliling gratis untuk orang miskin).
    • Anggaran terbatas: f 8,50 (gulden) sisa uang saku.
    • 1916: Pindah ke Bussum, tinggal bersama keluarga kelas menengah Koopmans (pengalaman hidup kelas yang kontras dengan keluarga Van der Mij di Haarlem membangkitkan semangat revolusionernya).

Pembacaan yang membentuk pikiran

Selama di Belanda, Tan Malaka membaca intensif:

  • Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin — fondasi Marxis
  • Friedrich Nietzsche“salah satu role model politik awal” Tan Malaka
  • Carlyle, Kautsky — sosiologi dan sosialisme reformis
  • Perang Dunia I (1914–1918) berlangsung selama studinya — budaya Jerman dan Amerika lebih dikaguminya daripada Belanda
  • Berusaha masuk tentara Jerman tapi ditolak (mereka tidak terima orang asing)

November 1919: Lulus dengan diploma hulpacte (bukan hoofdacte / ijazah utama karena kesehatan buruk).

Aktivisme awal: ISDV, PKI, dan Sekolah (1919–1922)

Mengajar di Deli (1919–1920)

Desember 1919: Kembali ke Hindia Belanda. Atas undangan Dr. C.W. Janssen, ia mengajar anak-anak kuli perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Timur — kawasan perkebunan terbesar di Hindia Belanda dengan catatan eksploitasi terburuk. Pengalaman ini membuatnya menulis:

  • Maret 1920: Artikel pertama “Tanah Orang Miskin” (Land of Paupers) di jurnal Het Vrije Woord — tentang perbedaan kapitalis dan pekerja
  • Juga menulis di Sumatera Post tentang penderitaan kuli

Ia dijuluki “Deli Spoor” oleh pihak Belanda (metafor untuk kereta ekspres yang sulit dihentikan).

Bergabung ISDV (1920)

Januari 1920: Bergabung dengan ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) — cikal bakal PKI, organisasi Marxis pertama di Hindia Belanda yang didirikan 9 Mei 1914 oleh Henk Sneevliet (Belanda), Semaun, dan Darsono.

  • 1921: Terpilih di Volksraad (Dewan Rakyat) dari kelompok kiri.
  • 23 Februari 1921: Mengundurkan diri dari Volksraad.

Kongres Sarekat Islam ke-5 (Maret 1921)

Tan Malaka pindah ke Yogyakarta, tinggal di rumah Sutopo (mantan ketua Budi Utomo). Di sinilah ia mengikuti Kongres ke-5 Sarekat Islam dan bertemu tokoh-tokoh besar pergerakan:

  • H.O.S. Tjokroaminoto — ketua SI, nasionalis Islam
  • Agus Salim — diplomat dan pemikir Islam
  • Darsono — Marxis moderat
  • Semaun — ketua PKI

Konflik utama: Tjokroaminoto vs Semaun soal keanggotaan ganda SI-PKI. Kongres memutuskan SI pecah menjadi:

  • Sarekat Islam Putih (Tjokroaminoto, Yogyakarta) — non-komunis
  • Sareket Islam Merah (Semaun, Semarang) — kiri

Mendirikan PKI (Mei 1920)

November 1920: Usul nama “Partai Nasional Revolusioner Indonesia” untuk ISDV ditolak Semaun yang ingin “Perserikatan Komunis”. Maka:

  • 23 Mei 1920: Menjadi salah satu pendiri PKI (Partai Komunis Indonesia) sebagai bagian dari transformasi ISDV.

Ketua PKI (Desember 1921)

Akhir Februari 1921: Pindah ke Semarang, bergabung PKI atas ajakan Semaun.

  • 21 Juni 1921: Mendirikan Sekolah Sarekat Islam (“Sekolah Tan Malaka”) — menyebar ke Bandung dan Ternate. Bahasa pengantar: Belanda (sangat kontroversial di masa kolonial — Belanda biasanya hanya diajarkan kepada anak priyayi).
  • Juni 1921: Menjadi Ketua Serikat Pegawai Pertjitakan (Asosiasi Pekerja Percetakan); Wakil Ketua/Bendahara Serikat Pegawai Pelikan Hindia (SPPH).
  • Mei–Agustus 1921: Menulis Parlemen atau Sovyet? (Sovjet atau Parlemen?) — diserialkan di jurnal PKI Soeara Ra’jat. Karya ini menjadi kritik parlementarianisme pertamanya.
  • 24–25 Desember 1921: Terpilih sebagai Ketua PKI dalam kongres Semarang, menggantikan Semaun (yang ke Belanda Oktober 1921). Usianya saat itu baru 24 tahun.

Ditangkap dan dibuang (1922)

  • 13 Februari 1922: Ditangkap Belanda saat mengunjungi sekolahnya di Bandung.
  • 2 Maret 1922: Diasingkan ke Belanda lewat Kupang, dengan perintah rahasia tulisan tangan dari Direktur Kehakiman/Jaksa Agung Semarang.

Pengembaraan internasional (1922–1942)

Dua puluh tahun berikutnya (1922–1942) Tan Malaka hidup sebagai internasionalis tanpa negara — berpindah dari satu benua ke benua lain, hidup dengan nama palsu, menulis di jurnal kiri internasional, dan membangun jaringan yang meletakkan dasar bagi gerakan kiri Asia Tenggara.

Belanda dan Jerman (1922)

  • 1922: Menjadi calon ketiga CPN (Partai Komunis Belanda) untuk pemilihan parlemen — orang Hindia Belanda pertama yang mencalonkan diri di parlemen Belanda.
  • Sebelum hasil pemilihan diumumkan: Pindah ke Berlin, Jerman.

Di Berlin (Weimar Germany), ia:

  • Studi filsafat dan menulis
  • Bertemu Darsono (komunis Indonesia yang terhubung dengan Biro Eropa Barat Komintern)
  • Kemungkinan bertemu M.N. Roy (Marxis India)

Cambridge PhD thesis Joshua D. Brown (2017) mencatat: Tan Malaka “much admired what he saw as the efficiency with which the German nation was then overcoming its crisis”.

Moskow dan Komintern (1922–1923)

  • Oktober 1922: Tiba di Moskow, ikut Komite Eksekutif Komintern.
  • November–Desember 1922: Kongres Komintern IV (Kongres Dunia Komunis ke-4) di Moskow. Acara juga dihadiri Ho Chi Minh (sebagai Nguyen Ai Quoc) dan M.N. Roy.
    • Pidato Tan Malaka: Mengusulkan kolaborasi komunisme-Pan-Islamisme. Menurut sejarawan Harry A. Poeze, pidato ini “very satisfactorily received”; menurut versi lain, “rejected by many”. Perbedaan ini mencerminkan perpecahan internal Komintern yang sedang terjadi saat itu.
  • Januari 1923: Menjadi koresponden Die Rote Gewerkschafts-Internationale (Red Union International) bersama Semaun.
  • 1923: Menjadi agen Biro Timur Komintern untuk Asia Tenggara; ditugaskan ke basis baru di Canton (Guangzhou).

Canton / Guangzhou, Tiongkok (1923–1925)

  • December 1923: Tiba di Canton (Guangzhou), basis Komintern untuk Asia.
    • Mengedit jurnal berbahasa Inggris The Dawn untuk organisasi pekerja transport Pasifik.
  • April 1925: Menerbitkan Naar de ‘Republiek Indonesia’ (Menuju Republik Indonesia) — edisi pertama di Canton. Ini adalah dokumen pertama yang secara tertulis mencetuskan “Republik Indonesia” sebagai nama negara merdeka — hampir 20 tahun sebelum proklamasi 1945.
  • Agustus 1924: Meminta izin pulang ke Hindia Belanda karena sakit — Belanda menerima tapi dengan syarat berat; Tan Malaka tidak pulang.
  • Desember 1924: PKI mulai runtuh di bawah tekanan Belanda.
  • Desember 1925: Edisi kedua Naar de Republiek Indonesia di Tokyo.

Manila, Filipina (1925–1927)

  • 20 Juli 1925: Tiba di Manila, Filipina.

    • Koresponden surat kabar nasionalis El Debate (editor: Francisco Varona).
    • Bertemu: Mariano de los Santos, José Abad Santos (kemungkinan calon presiden), Crisanto Evangelista (pemimpin gerakan komunis Filipina).
    • Konsep unik: menyebut Filipina sebagai “Indonesia Utara” (berdasarkan kesamaan bahasa Austronesia, ras Melayu, pengaruh Majapahit).
    • Menulis Semangat Muda (1926) — disponsori Varona.
  • Februari 1926: Alimin datang ke Manila meminta persetujuan pemberontakan PKI — Tan Malaka MENOLAK karena menilai partai terlalu lemah. Kutipan (ke Alimin): “Bukankah pada bulan Januari 1925 setahun yang lampau saja sudah menyatakan di Canton, bahwa membubarkan Sarekat Rakyat itu adalah suatu kesalahan taktik yang amat besar, membahayakan dan merugikan kepada PKI?”

  • 12 Agustus 1927: Ditangkap di Filipina karena masuk ilegal; dibela José Abad Santos di pengadilan; memilih menerima deportasi ke Amoy (Xiamen), Tiongkok untuk melindungi orang yang memalsukan dokumennya.

Catatan penting: Tan Malaka TIDAK terlibat langsung dalam Pemberontakan PKI 1926 di Indonesia (12/13 November 1926) — ia bahkan menentangnya.

Bangkok, Siam — PARI (1927)

  • Desember 1926: Pindah ke Bangkok.
  • Awal Juni 1927: Mendirikan PARI — Partai Republik Indonesia (juga disebut PARINDO) bersama Djamaludin Tamin dan Subakat.

Kader-kader PARI yang kemudian terkenal:

Tujuan PARI: mendirikan negara revolusioner yang mencakup Indonesia, Semenanjung Malaya, Nugini, Borneo (bagian Britania), dan Timor (bagian Portugis) — visi Nusantara yang lebih luas dari Indonesia modern.

Manifesto PARI mengkritik PKI dan Komintern. Publikasi: Pari en Nasionalisten (1927), Pari dan PKI (1927), Pari International (1927), Manifesto Bangkok (1927).

Kembali ke Tiongkok dan periode penyamaran (1927–1942)

  • 1927: Kembali ke Filipina → ditangkap → deportasi ke Amoy.
  • Kapal dari Amoy: Polisi Kulangsu (Gulangyu) International Settlement menunggu untuk mengekstradisi ke Boven-Digoel (kamp pengasingan Belanda di Papua) — Tan Malaka melarikan diri dengan bantuan kapten dan crew kapal.
  • Akhir 1929: Tinggal di Shanghai.
  • Agustus 1931: Kemungkinan bertemu Alimin di Shanghai, sepakat kembali bekerja untuk Komintern.
  • September 1932: Setelah serangan Jepang di Shanghai, menyamar sebagai Cina-Filipina ke India.
  • Oktober 1932: Ditangkap pejabat Inggris dari Singapura di Hong Kong; ditahan beberapa bulan dengan interrogasi; diasingkan tanpa tuduhan; deportasi ke Amoy.
  • 1936: Bepergian ke bagian lain Tiongkok, membentuk Foreign Language School.
  • Agustus 1937: Ke Singapura dengan identitas Tionghoa palsu → menjadi guru bahasa Inggris di Nanyang Chinese Normal School (NCNS) dengan nama Tan Ho Seng.
    • Gaji: 8 dolar/bulan.
    • Pengakuan dari Madilog (2014): “In Singapore, in Chinese society with Chinese names and passports (of course beyond the UK’s knowledge that I am engrossed in kissing my footprint), I am fortunate to be able to climb from a low school to the highest high school principal in South Asia, namely Nanyang Chinese Normal School (NCNS)”.

Hubungan dengan Trotskisme: Maurice Ferarez (1951, Fourth International) mencatat bahwa PARI “those of the Fourth International”; namun Tan Malaka menolak dikategorikan Trotskis murni — ia mengembangkan “Marxisme Nasional” sendiri (menurut Tempo dan Poeze). Wikipedia mencantumkan “Trotskyism” dalam “Main Interests” tapi tanpa bukti kuat.

Kembali ke Indonesia — Masa Jepang (1942–1945)

Setelah Belanda menyerah kepada Jepang (Maret 1942), Tan Malaka melihat peluang baru:

  • Setelah Maret 1942: Kembali ke Indonesia lewat Penang.
  • Pertengahan 1942: Tiba di Jakarta (disebut juga “Sumatra” pada sumber lain — lebih mungkin Jakarta karena di sanalah Madilog ditulis).
  • Juli 1942 – Maret 1943: Menulis Madilog selama 720 jam (>8 bulan) — di Rawajati, dekat pabrik sepatu di Kalibata, Pantjoran, Batavia.
  • Penyamaran: Menyamar sebagai tukang jahit dengan nama Iljas Hussein / Ilyas Husein.

Jabatan masa Jepang

  • Wakil Ketua Badan Pembantoe Pembelaan (BPP)
  • Kepala Badan Pembantoe Pradjoerit Pekerdja (BP3) — membantu pekerja paksa (romusha)
  • Terpilih sebagai wakil Banten untuk Congres Angkatan Moeda (Kongres Generasi Muda) tapi pelantikannya dibatalkan

Aktivis muda yang ditemui

Di Banten, Tan Malaka bertemu dengan aktivis muda yang akan menjadi penting dalam revolusi:

Tambang batu bara Bayah

Setelah harus punya pekerjaan, Tan Malaka melamar ke Social Welfare Agency (Lembaga Kesejahteraan Sosial Jepang) → dikirim ke tambang batu bara Bayah, pesisir selatan Jawa Barat (sebagai administrator).

Karya-karya 1945

Menulis beberapa karya baru di akhir masa Jepang:

  • Muslihat (2 Desember 1945)
  • Politik (24 November 1945)
  • Rencana Ekonomi Berjuang (28 November 1945)
  • Manifesto Jakarta (1945)

Peran dalam Revolusi Indonesia (1945–1949)

Masa awal revolusi

  • 17 Agustus 1945: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno-Hatta.
  • 19 September 1945: Turun ke Lapangan Ikada bersama Sukarno — pertama kali tampil di depan publik dengan nama aslinya setelah 20 tahun pengembaraan.
  • 1 Oktober 1945: Testamen politik Sukarno-Hatta yang menyebutkan 4 nama penerus jika Bung Karno & Bung Hatta lumpuh: Tan Malaka, Iwa Kusuma Sumantri, Sjahrir, Wongsonegoro. Kutipan Sukarno: “…jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka.”

Persatuan Perjuangan (Januari 1946)

Pada Januari 1946, Tan Malaka memimpin pendirian Persatuan Perjuangan — sebuah front luas kiri yang mencoba menyatukan partai, laskar, dan organisasi pemuda revolusioner.

5 alasan pendirian Persatuan Perjuangan:

  1. Pertentangan kepala negara dengan rakyat/pemuda — Sukarno-Hatta dianggap terlalu moderat
  2. Pertentangan partai Islam vs Sosialis (Pekalongan, Cirebon, Priangan)
  3. Pertikaian antar-pasukan (mis. Surabaya: tembak menembak dari belakang)
  4. Sikap Inggris yang mengakui kedaulatan Belanda
  5. Rencana Van Mook (Gemeenebest dan Rijksverbond) sesuai pidato Ratu Wilhelmina Desember 1942

Kongres Solo (Januari 1946): 141 organisasi bergabung (partai, laskar, dll, tidak termasuk PKI). Pendukung terkuat: Mayor Jenderal Sudirman (panglima TNI).

“Program Minimum” Persatuan Perjuangan:

  1. Berunding untuk pengakuan kemerdekaan 100 persen
  2. Pemerintahan rakyat (harus sesuai kemauan rakyat)
  3. Tentara rakyat
  4. Penyelenggaraan tawanan Eropa
  5. Pelucutan senjata Jepang
  6. Penyitaan hak/milik musuh
  7. Nasionalisasi perkebunan dan industri milik asing

Februari 1946: Memaksa Sutan Sjahrir mengundurkan diri sementara (Kabinet Sjahrir I jatuh).

Dipenjara (1946–1948)

  • 17 Maret 1946: Ditangkap oleh pemerintah Sjahrir (Sjahrir kembali menjadi PM di Kabinet Sjahrir II).
  • 3 Juli 1946 Affair (Peristiwa 3 Juli): Dituduh sebagai otak penculikan PM Sjahrir — meskipun tidak pernah diadili.
  • 1946 – 16 September 1948: Dipenjara tanpa pengadilan selama 2,5 tahun di berbagai penjara (Yogyakarta, Madiun).

September 1948: Setelah Pemberontakan Madiun oleh PKI/FDR (Musso, Amir Syarifuddin), Tan Malaka dibebaskan dari penjara.

Kritik terhadap Perjanjian

Kutipan (dari pidato 1948, pasca-Madiun): “Setelah perjanjian Renville tercapai 1 Januari 1948 dan setelah diplomasi Belanda berhasil mengosongkan Kantong di Jawa Barat dan Jawa Timur dengan ujung lidah saja…”

Pendirian Partai Murba (November 1948)

  • 7 November 1948: Mendirikan Partai Murba (Partai Proletarian) di Yogyakarta. Pidato “Uraian Mendadak” di Kongres Peleburan Tiga Partai.

  • Setelah pemberontakan Madiun ditumpas (akhir November 1948): Tan Malaka ke Kediri, mengumpulkan sisa pemberontak PKI/FDR. Membentuk pasukan Gerilya Pembela Proklamasi.

Pemikiran dan ideologi

Tan Malaka membangun sistem pemikiran yang ia sebut “Marxisme Nasional” — bukan Marxisme ortodoks ala Moskow, bukan Trotskisme, bukan Stalinisme, tapi sintesis yang mencangkokkan Marxisme ke kondisi Indonesia.

Sumber pemikiran

  • Sintesis dialektika Hegel, materialisme Feuerbach, logika ilmiah Marx, dan positivisme logis
  • Pengaruh Friedrich Nietzsche (genealogi moral), Lenin (imperialisme sebagai tahap akhir kapitalisme), Islam Minangkabau, adat Minangkabau

Cambridge PhD (Joshua D. Brown, 2017) mencatat: “foreign and indigenous concepts were fused, adapted and reworked”.

Konsep-konsep kunci

Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika)

Akronim untuk sintesis tiga cabang filsafat. Menentang “logika mistika” dan cara berpikir mitologis Indonesia.

Klaim Tan Malaka: kelas sosial Indonesia tidak sama dengan Eropa → Marxisme Eropa tidak bisa langsung diterapkan.

”Merdeka 100%”

Inti seluruh pemikiran politiknya — bukan sekadar merdeka secara politis (bendera), tapi merdeka secara ekonomi (sumber daya, tambang, industri). Kutipan terkenal: “Bangsa Indonesia tidak cukup hanya merebut bendera, tetapi harus juga menguasai tambang batu bara dan sumber ekonomi.” (dari Merdeka 100%)

Poleksosmil

Singkatan Pol(itik) Ek(onomi) Sos(ial) Mil(ITER) — pendekatan integratif. Revolusi harus di empat bidang sekaligus, bukan satu per satu.

Anti-parlementarian

Kritik parlementarianisme dimulai dengan Parlemen atau Sovyet? (1920/1921) dan berlanjut sepanjang kariernya. Kutipan dari Naar de Republiek Indonesia (1925):

“Dengan ucapan ‘L’état c’est moi’ Raja Matahari Prancis mengakui arti negara dengan penuh kesadaran. Pada titik ini Partai Komunis Indonesia (PKI) dapat menyatakan bahwa ‘the revolutionary movement is me’. Adalah faksi intelektual…"

"Negara Revolusioner”

Tanpa kompromi dengan imperialisme/kolonialisme. Lebih dekat dengan negara Soviet pasca-revolusi daripada rep parlementer Barat.

Nasionalisme radikal

“Indonesia Merdeka 100%” lebih diutamakan daripada internasionalisme proletarian. Perbedaan dengan PKI ortodoks yang Moscow-sentris.

Kritik parlementarianisme

Parlemen atau Sovyet? (1920) — ditulis saat masih di bawah Semaun, tetapi lebih radikal dari garis partai.

Nekolim (Neo-kolonialisme, imperialisme)

Dikritik tajam, bahkan terhadap Soviet sendiri. Visi Tan Malaka: Soviet juga punya imperialisme, bukan hanya Barat.

Pan-Islamisme

Diusulkan sebagai mitra komunisme (Moskow 1922, ditolak banyak delegasi). Namun Tan Malaka sendiri tidak pernah meninggalkan kritik terhadap mistisisme — Madilog banyak membahas Islam (termasuk bab khusus Islam dalam Tinjauan Madilog).

Hubungan dengan Mazhab Marxis

  • Bukan Stalinis: Menolak pemberontakan PKI 1926 yang disponsori Comintern/Stalinis → bukan Stalinis
  • Bukan Trotskis murni: Mendekati Fourth International di beberapa isu, tapi mengembangkan jalur sendiri
  • “Marxisme Nasional”: Sintesis indigenous yang dikritik Marx ortodoks dan Trotskyis sama kerasnya
  • Kritik parlementarian: Lebih dekat dengan Marxis revolusioner (Lenin pra-1917, Luxemburg) daripada revisionis

Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika

Madilog adalah magnum opus Tan Malaka, ditulis pada Juli 1942 – Maret 1943 (±720 jam) di Rawajati, Batavia, di bawah pendudukan Jepang. Ditulis dengan nama pena Iljas Hussein karena penulisnya masih buron Belanda.

Isi utama

  • Materialisme — bahwa alam ada secara obyektif, bukan ciptaan ide atau ruh
  • Dialektika — bahwa segala sesuatu berubah melalui kontradiksi internal
  • Logika — bahwa cara berpikir yang benar harus berdasarkan hukum-hukum material dan dialektis

Madilog mengkritik tiga kebodohan Indonesia menurut Tan Malaka:

  1. Logika mistika — cara berpikir mistis yang dimiliki bangsawan, agamawan, dan terpelajar Belanda
  2. Logika kaum kapital — cara berpikir kaum borjuasi yang mendominasi ekonomi
  3. Logika kaum proletar — cara berpikir kelas pekerja Eropa yang belum tentu cocok untuk Indonesia

Kutipan-kutipan kunci dari Madilog

“Dalam kita ini logika dibentuk di dalam iklim… dialektik! keduanya, logika dan dialektika bergantung pada materialisme.”

“Kitab ini adalah bentuk dari paham yang sudah bertahun-tahun tersimpan di dalam pikiran saya, dalam kehidupan yang bergelora.”

Nasib Madilog

  • Edisi pertama resmi: Widjaya, Jakarta, 1951 (568 halaman)
  • Terjemahan Belanda oleh Ted Sprague, 1962, Den Haag
  • Dilarang di era Orde Baru (Orba) — masuk余禁书 (larangan)
  • Pascaperubahan 1998: beberapa kali dicetak ulang, kini dianggap sebagai salah satu karya filsafat Indonesia terpenting

Daftar karya penting

Autobiografi

Dari Pendjara ke Pendjara (3 jilid, ditulis tangan di penjara 1947–1948):

  • Jilid 1: Pengalaman di penjara Hindia-Belanda dan Filipina
  • Jilid 2: Perjalanan dari Shanghai, Hong Kong, hingga kembali ke tanah air
  • Jilid 3: Komentar historiografi Marxis, posisi terhadap Belanda, dokumen perjuangan
  • Edisi Indonesia: Widjaya, 1947 (jilid 1), 1949 (jilid 2–3)
  • Terjemahan Inggris: From Jail to Jail (Helen Jarvis, 1991, Ohio University Press; introduction oleh Harry A. Poeze)
  • Disebut “salah satu dari sedikit autobiografi oleh Marxis Asia”

Karya filsafat

  • Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika (1943, 568 halaman) — lihat bagian di atas

Karya politik

  • Naar de ‘Republiek Indonesia’ (April 1925, Canton; edisi kedua Desember 1925, Tokyo) — konsep republik Indonesia pertama
  • Parlemen atau Sovyet? (1920/1921) — kritik parlementarian
  • Semangat Muda (1926) — diterbitkan di Manila
  • Massa Actie (1926)
  • Pari en Nasionalisten (1927), Pari dan PKI (1927), Pari International (1927)
  • Manifesto Bangkok (1927)
  • Gerpolek: Gerilya, Politik, Ekonomi (1948, ditulis di penjara Madiun)
  • Merdeka 100%: Tiga Percakapan Ekonomi-Politik (1945)
  • Pidato Purwokerto (1946), Pidato Solo (1946), Pidato Kediri (1948)
  • Manifesto Jakarta (1945)
  • Muslihat (1945), Politik (1945), Rencana Ekonomi Berjuang (1945)
  • Pandangan Hidup (Weltanschauung) (1948)
  • Islam dalam Tinjauan Madilog (1948), Nasrani-Yahudi dalam Tinjauan Madilog (1948)
  • Kuhandel di Kaliurang (1948)
  • Proklamasi 17-8-45, Isi dan Pelaksanaannya (1948)
  • Uraian Mendadak (pidato di Kongres Peleburan Tiga Partai Menjadi Partai Murba, 7 November 1948)
  • Aslia Berganjang (1943) — federasi Asia Tenggara & Australia Utara
  • SI Semarang dan Onderwijs (1921) — panduan manajemen sekolah
  • Tunduk Pada Kekuasaan Tapi Tidak Tunduk Pada Kebenaran (Berlin, 1922)
  • Komunisme dan Pan-Islamisme (1922)

Roman “Patjar Merah” (bukan ditulis oleh Tan Malaka, tapi tentang dia)

“Patjar Merah Indonesia” adalah julukan Tan Malaka (terinspirasi novel The Scarlet Pimpernel karya Baroness Orczy). Novel-novel tentang dia:

  • Matu Mona: Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia) (Medan, 1938); Rol Patjar Merah Indonesia cs (1938)
  • Patjar Merah Kembali ke Tanah Air (1940)
  • Tiga kali Patjar Merah Datang Membela (1940)
  • Emnast: Tan Malaka di Medan (1940)

Sukarno dan Tan Malaka

Hubungan Tan Malaka dengan Sukarno dan Mohammad Hatta adalah salah satu drama terbesar Revolusi Indonesia — dimulai dengan saling menghormati, melalui pengkhianatan oleh Sukarno, hingga rekonsiliasi sebagian melalui penetapan Pahlawan Nasional.

Testamen 1945

  • 1 Oktober 1945: Sukarno-Hatta menandatangani testamen politik yang menyebutkan 4 nama penerus jika mereka berdua lumpuh: Tan Malaka, Iwa Kusuma Sumantri, Sjahrir, Wongsonegoro. Ini pengakuan tertinggi yang bisa diberikan Sukarno.

Konflik 1946

  • Maret 1946: Sukarno-Hatta (melalui Sjahrir sebagai PM) menangkap Tan Malaka.
  • 3 Juli 1946 Affair: Dituduh menculik Sjahrir (belum pernah dibuktikan).
  • 1946–1948: Dipenjara tanpa pengadilan 2,5 tahun.

Pidato Sukarno tentang Tan Malaka

  • Desember 1960 (Kongres Partai Murba): Sukarno memberikan pidato rehabilitasi yang membebaskan Tan Malaka dari tuduhan kontra-revolusioner. Ini membuka jalan bagi penetapan Pahlawan Nasional 1963.

Penetapan Pahlawan Nasional (1963)

  • 28 Maret 1963: Keputusan Presiden RI No. 53/1963 — Presiden Sukarno menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
  • Konsideran Keppres (kutipan resmi): “Menimbang: bahwa kepada Sdr. Tan Malaka almarhum patut diberi penghargaan oleh Negara, mengingat djasa-djasa almarhum sebagai pemimpin Indonesia di masa silang, jang semasa hidupnja, karena didorong oleh rasa tjinta Tanah Air dan Bangsa, memimpin suatu kegiatan jang teratur guna menentang pendjadjahan di bumi Indonesia.”

Era Orde Baru

  • Departemen Sosial pernah mengusulkan pencabutan gelar pahlawan ke Presiden Soeharto, tapi Soeharto menolak (menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil “petite histoire” Indonesia Jilid 4).
  • Namun Orde Baru “off the record” menghapus Tan Malaka dari buku pelajaran sejarah (menurut sejarawan Asvi Warman Adam dari LIPI). Madilog dan sebagian besar karyanya dilarang.

Eksekusi

Kronologi eksekusi (6 peristiwa utama)

  • Desember 1948: Belanda lakukan Agresi Militer II → Yogyakarta jatuh → Tan Malaka melarikan diri ke Jawa Timur pedalaman.
  • Markas: Desa Blimbing (desa dikelilingi sawah), terhubung dengan Mayor Sabarudin (Komandan Batalyon 38) — satu-satunya kelompok bersenjata yang masih melawan Belanda.
  • Aktivitas: Menyerang Sukarno-Hatta dan TNI lewat pamflet harian; memproklamirkan diri “Presiden Indonesia” (menurut Poeze Jilid 5).
  • 17 Februari 1949: Panglima TNI Jawa Timur memutuskan Sabarudin & rekannya (termasuk Tan Malaka) akan ditangkap sesuai hukum militer.
  • 19 Februari 1949: Ditangkap di Blimbing.
  • 20 Februari 1949: Belanda mulai “Operasi Harimau” (Operation Tiger) dari Nganjuk → prajurit TNI mundur ke pegunungan.
  • 21 Februari 1949: Eksekusi di kaki Gunung Wilis, Selopanggung, Kediri (setelah ditahan di Desa Patje, Nganjuk).

Eksekutor

  • Yang memerintahkan: Letnan Dua Sukotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya, di bawah Brigadir Soerachmad (Komandan Brigade S)
  • Eksekutor langsung: Suradi Tekebek
  • Letda Soekotjo kemudian pernah menjadi Wali Kota Surabaya

Misteri kuburan

  • Pemakaman: Dikuburkan di hutan — lokasi pasti tidak pernah dikonfirmasi.
  • Setidaknya 5 versi kematian dikumpulkan Harry A. Poeze — termasuk rumor tubuhnya dibuang ke Sungai Brantas (tidak terbukti); pengakuan seorang tukang bengkel di Surabaya yang mengaku sebagai penembak (tidak terkonfirmasi).
  • 12 Maret 2009: Tim menemukan kuburan yang diidentifikasi Harry A. Poeze di Selopanggung, Kediri.
  • 2009: Rencana penggalian oleh keponakan Zulfikar Kamarudin gagal karena kendala administrasi.

Warisan dan pengakuan

Julukan “Bapak Republik Indonesia”

  • Julukan ini datang dari Mohammad Yamin — karena Tan Malaka menulis konsep “Republik Indonesia” lebih dulu (1924, dalam draft Naar de ‘Republiek Indonesia yang diedarkan ke rekan-rekan) dibanding Sukarno-Hatta (1945) dan bahkan Hatta’s “Indonesia Vrije” (1928).

Pengaruh terhadap Partai Murba

Partai Murba masih ada setelah 1949; menjadi partai kiri besar berikutnya (meskipun akhirnya tak pernah sebesar PKI). Pasca-Orde Baru: Partai Murba “hidup merana, dan sekarang tidak ada kegiatan lagi” (Poeze Jilid 5).

Peringatan

  • Setiap 21 Februari: Tan Malaka Institute + Partai Murba melakukan peringatan di Rumah Gadang Tan Malaka, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
  • Museum: Rumah dan Museum Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang (kondisinya “memprihatinkan” per Tempo 2014).
  • Hari peringatan nasional: Tidak ada — berbeda dengan Hari Pengorbanan Pahlawan Revolusi (1 Oktober untuk korban G30S 1965) yang sering keliru dianggap peringatan Tan Malaka.

Warisan film

  • Maha Guru Tan Malaka (2018) — dokumenter pendek/panjang oleh Daniel Rudi Haryanto.
    • Produksi: Sarang Berang-Berang Studio
    • Durasi: 34–73 menit (tergantung versi; dirancang sepanjang umur Indonesia ke-73)
    • Ditayangkan pertama Agustus 2018
    • Dilarang oleh otoritas lokal Padang, 21 April 2018 (dianggap “menyebarkan komunisme”)
    • Bonnie Triyana (UI): pelarangan karena “otoritas masih terjebak narasi sejarah versi Orde Baru”

Kontroversi dan perdebatan sejarawan

Kontroversi besar

  1. Misteri kuburan/eksekusi: Setidaknya 5 versi kematian; mayat tidak pernah ditemukan resmi.
  2. Siapa yang bertanggung jawab atas kematiannya?
    • Versi resmi Poeze: Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Brigade S (Komandan Letkol Soerachmad).
    • Eksekutor langsung: Suradi Tekebek.
    • Versi lain: Ada tukang bengkel Surabaya yang mengaku; rumor mayat dibuang ke Brantas.
    • Latar belakang: Tan Malaka “memproklamirkan diri sebagai Presiden” lewat pamflet, yang membuat militer marah.
  3. Peran dalam pemberontakan PKI 1926: Tidak terlibat — ia menolak pemberontakan, tapi kemudian dipertemukan/diasosiasikan dengan pemberontakan Madiun 1948 (yang sebenarnya dilakukan oleh Musso).
  4. Sukarno-Hatta kontradiktif: Sukarno sendiri yang menunjuknya di testamen 1945, tapi kemudian memenjarakan 1946–1948. Tapi juga yang mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional 1963.
  5. Dilema “Pahlawan Kontroversial”: Harry A. Poeze: “Ia adalah Pahlawan Nasional yang kontroversial karena dinilai sebagai seorang komunis oleh partai nasionalis dan partai agama, tetapi dianggap pengkhianat oleh kaum komunis.”
  6. Pemberontakan atau tidak ke Madiun? Tan Malaka sudah dibebaskan sebelum pemberontakan Madiun September 1948, dan pasca-pemberontakan ia ke Kediri untuk mengumpulkan sisa pemberontak — tapi ia tidak memimpin pemberontakan.
  7. Trotskis atau bukan? Sumber menyebutnya dekat Fourth International, tapi ia menolak dikategorikan. Lebih akurat: mengembangkan “Marxisme Nasional” sendiri.
  8. Stalinis atau bukan? Menolak pemberontakan 1926 yang disponsori Comintern/Stalinis → bukan Stalinis.
  9. Pan-Islam atau anti-Islam? Usul komunisme-Pan-Islamisme di Moskow ditolak; Madilog sendiri banyak membahas Islam.
  10. “Nekolim”: Pandangan kritis terhadap neokolonialisme dan imperialisme bahkan terhadap Soviet sendiri.
  11. Tidak pernah diakui luas di Barat: Sumber-sumber Barat tentang founding fathers Indonesia (1945) biasanya tidak menyebut Tan Malaka.
  12. Orde Baru menghapus dari sejarah: Bukan mencabut gelar (tidak bisa), tapi “off the record” dalam buku pelajaran sejarah; Madilog dan sebagian besar karyanya dilarang.

Warisan Minangkabau

Tan Malaka adalah produk Minangkabau — salah satu etnis paling terdidik di Nusantara pada awal abad ke-20, dengan tradisi merantau (merantau) yang kuat dan pengaruh Islam modernis.

Ciri-ciri Minangkabau dalam pemikiran Tan Malaka

  • Matrilineal — perempuan sebagai pusat keluarga
  • Merantau — pengembaraan 20 tahun di empat benua mengikuti pola merantau Minangkabau
  • Pendidikan tinggi — melanjutkan sekolah ke Belanda (umum di Minangkabau awal abad ke-20)
  • Nasionalisme religius — dipengaruhi gerakan Islam modernis Sumatera Barat
  • Kritik feodalisme — tradisi matrilineal mencegah feodalisme patriarki, sehingga Marxisme Tan Malaka lebih dekat ke “revolusi tani” daripada “revolusi proletar”

Relasi dengan tokoh komunis Indonesia

TokohHubungan
SemaunSeniornya di PKI; hubungan baik awal tapi kemudian merenggang
MussoPemimpin pemberontakan Madiun 1948 (bukan sekutu dekat)
AliminSama-sama kiri tapi Alimin tidak mendengarkan penolakannya terhadap pemberontakan 1926
Henk SneevlietMentor di Belanda
DarsonoRekan di Berlin 1922; sama-sama Marxis Indonesia
M.N. RoyBertemu di Komintern IV Moskow 1922
Ho Chi MinhSatu delegasi di Komintern IV (sebagai Nguyen Ai Quoc)
SukarnoHubungan kompleks: saling menghormati tapi kemudian saling mengkhianati
Sutan SjahrirLawan politik — menangkap dan memenjarakan Tan Malaka 1946–1948
Soekarni, Chaerul Saleh, WikanaAktivis muda Banten yang ditemui 1943, bersama di Panitia Sembilan

Bahasa

Tan Malaka lihai dalam banyak bahasa:

  • Minangkabau (bahasa ibu)
  • Melayu (lingua franca Hindia Belanda)
  • Belanda (pendidikan dan karangan filosofis)
  • Inggris (artikel untuk koran Filipina, diplomatik)
  • Jerman (studi filsafat,柏林)
  • Rusia (Komintern)
  • Mandarin/Cina (penyamaran, penyuntingan jurnal)
  • Tagalog (Filipina)
  • Thai (Bangkok)
  • Prancis (membaca literatur Revolusi Prancis)
  • Arab (membaca Al-Qur’an)

Cambridge PhD thesis: ia membaca literatur Marx dalam bahasa aslinya (Jerman).

Sumber dan bacaan

Biografi definitif

  • Harry A. Poeze: Tan Malaka: Levensloop van 1897 tot 1945 (Belanda, 1976) → diterjemahkan ke Indonesia Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik 1925–1945 (Pustaka Utama Grafiti, 1999, ISBN 9794440523); seri lengkap Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia (5 jilid, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, ~2019–2020)

Studi pemikiran

  • Joshua D. Brown: The Political Thought of Tan Malaka (PhD thesis, Cambridge, 2017) — satu-satunya studi mendalam tentang pemikiran Tan Malaka dalam bahasa Inggris

Sumber kontemporer

  • Maurice Ferarez: “Tan Malakka”, Fourth International, September 1951 (tersedia di Marxists.org Archive)
  • Andi Utama: “From City to City: Tan Malaka, Shanghai and the Politics of Geographical Imagining”, Critical Asian Studies
  • Andi Dharma Priyatna: Global Networks of Indonesian Communism, 1926–1965 (UC Berkeley)

Sumber populer

  • Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan — buku Seri Tempo (editor: Zulkifli Arif, Bagja Hidayat, Dwidjo U. Maksum; edisi pertama 2010, cetakan ke-11 tahun 2023, KPG, ISBN 9786024817602)
  • Syaifuddin: Tan Malaka: Merajut Masyarakat dan Pendidikan Indonesia yang Sosialistis (Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2012, ISBN 978-979-25-4911-9)

Terjemahan

  • Helen Jarvis (penerj.): From Jail to Jail (Ohio University Press, 1991) — terjemahan bahasa Inggris Dari Penjara ke Penjara dengan introduksi Harry A. Poeze

Sumber daring

Lihat juga

Connected to

References

  1. Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik 1925–1945
    Harry A. Poeze
    Biografi definitif dalam 5 jilid (dalam bahasa Belanda asli 1976; terjemahan Indonesia oleh Grafiti 1999; edisi lengkap 5 jilid Yayasan Pustaka Obor Indonesia 2019–2020).
  2. The Political Thought of Tan Malaka
    Joshua D. Brown
    PhD thesis, Cambridge — satu-satunya studi mendalam pemikiran Tan Malaka dalam bahasa Inggris.
  3. From Jail to Jail
    Helen Jarvis (penerj.)
    Terjemahan bahasa Inggris Dari Penjara ke Penjara, dengan introduksi Harry A. Poeze (Ohio University Press).
  4. Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan
    Tim majalah Tempo (ed.: Zulkifli Arif, Bagja Hidayat, Dwidjo U. Maksum)
    Edisi ke-11 tahun 2023, KPG, ISBN 9786024817602.
  5. Tan Malaka, Merajut Masyarakat dan Pendidikan Indonesia yang Sosialistis
    Syaifuddin
    Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, ISBN 978-979-25-4911-9.
  6. Keputusan Presiden RI No. 53/1963
    Presiden Sukarno
    Penetapan Tan Malaka sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, 28 Maret 1963.
  7. Tan Malakka
    Maurice Ferarez
    Artikel di jurnal Fourth International, Marxists.org Archive.
  8. From City to City - Tan Malaka, Shanghai and the Politics of Geographical Imagining
    Andi Utama
    Critical Asian Studies — tentang jaringan Tan Malaka di Asia Timur.

Type at least 2 characters to search.

Press to navigate, to open, esc to close.