Tan Malaka

Revolusioner Indonesia, penulis Madilog, dan "Bapak Republik yang Dilupakan" — yang menulis konsep "Republik Indonesia" pada 1925, hampir satu dekade sebelum proklamasi 1945.

Tan Malaka (/tan ma-la-ka/) adalah seorang revolusioner Indonesia, penulis, dan teoretisi Marxis yang telah mengembara di empat benua sebelum akhirnya kembali ke tanah air untuk memimpin gerakan kiri dalam Revolusi Indonesia. Ia menulis konsep “Republik Indonesia” pada 1925 di Canton — hampir satu dekade sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Julukan Bapak Republik Indonesia disematkan oleh Mohammad Yamin kepadanya, karena dialah orang Indonesia pertama yang secara tertulis mencetuskan republik sebagai bentuk negara, bukan sekadar Indonesia Merdeka sebagai cita-cita.

Kisah hidupnya terbentang dari guru di perkebunan teh Deli (Sumatera Timur, 1920), menjadi koresponden Komintern di Moskow (1922), pengembara tanpa kewarganegaraan di Manila, Canton, Bangkok, Shanghai, dan Singapura (1925–1942), sampai dieksekusi di kaki Gunung Wilis pada 21 Februari 1949 — tanpa proses pengadilan, di usia 51 tahun.

“Bangsa Indonesia tidak cukup hanya merebut bendera, tetapi harus juga menguasai tambang batu bara dan sumber ekonomi.” — Merdeka 100% (1945)

“The revolutionary movement is me.” — Naar de ‘Republiek Indonesia’ (1925)

“Dalam kita ini logika dibentuk di dalam iklim… dialektik! keduanya, logika dan dialektika bergantung pada materialisme.” — Madilog (1943)

Biodata

Nama-nama samaran (23 alias)

Tan Malaka menggunakan paling tidak 23 nama samaran sepanjang hidupnya. Julukannya yang paling terkenal adalah “Patjar Merah Indonesia” (Indonesian Scarlet Pimpernel) — terinspirasi novel Baroness Orczy The Scarlet Pimpernel tentang bangsawan Inggris yang menyamar untuk menyelamatkan kaum bangsawan dari guillotine saat Revolusi Prancis.

PeriodeAlias
FilipinaElias Fuentes, Esahislau Rivera, Alisio Rivera
ShanghaiOssorio
SingapuraHasan Gozali, Tan Ho Seng, Tan Ming Siong
BurmaTan Min Sion
Hong Kong13 nama, satu di antaranya Ong Song Lee
Tiongkok lainCheung Kun Tat, Howard Lee
Indonesia (masa Jepang)Dasuki, Ramli Hussein, Iljas Hussein / Ilyas Husein (nama pena saat menulis Madilog 1943)

Pronunciation

Nama “Tan Malaka” dalam bahasa Minangkabau dibaca /tan ma-la-ka/, dengan tekanan pada suku kata kedua (ma-). Dalam bahasa Belanda dan Inggris modern, umumnya diucapkan /tan ma-la-ka/ atau /tæn mə-ˈlä-kä/.

Julukan

Masa kecil dan pendidikan (1897–1919)

Tan Malaka dilahirkan di Pandam Gadang, sebuah nagari di kaki Gunung Marapi di Minangkabau — kawasan yang telah menjadi pusat gerakan modernis Islam dan pendidikan Barat di Sumatera. Ia dibesarkan dalam tradisi matrilineal Minangkabau, dengan peran perempuan (ibu) yang dominan dalam pewarisan dan kehidupan rumah tangga. Ayahnya adalah pegawai rendahan di perkebunan, ibunya berasal dari keluarga bangsawan Suku Simabua.

Pendidikan awal (1908–1913)

Studi di Belanda (1913–1919)

Pembacaan yang membentuk pikiran

Selama di Belanda, Tan Malaka membaca intensif:

November 1919: Lulus dengan diploma hulpacte (bukan hoofdacte / ijazah utama karena kesehatan buruk).

Aktivisme awal: ISDV, PKI, dan Sekolah (1919–1922)

Mengajar di Deli (1919–1920)

Desember 1919: Kembali ke Hindia Belanda. Atas undangan Dr. C.W. Janssen, ia mengajar anak-anak kuli perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Timur — kawasan perkebunan terbesar di Hindia Belanda dengan catatan eksploitasi terburuk. Pengalaman ini membuatnya menulis:

Ia dijuluki “Deli Spoor” oleh pihak Belanda (metafor untuk kereta ekspres yang sulit dihentikan).

Bergabung ISDV (1920)

Januari 1920: Bergabung dengan ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) — cikal bakal PKI, organisasi Marxis pertama di Hindia Belanda yang didirikan 9 Mei 1914 oleh Henk Sneevliet (Belanda), Semaun, dan Darsono.

Kongres Sarekat Islam ke-5 (Maret 1921)

Tan Malaka pindah ke Yogyakarta, tinggal di rumah Sutopo (mantan ketua Budi Utomo). Di sinilah ia mengikuti Kongres ke-5 Sarekat Islam dan bertemu tokoh-tokoh besar pergerakan:

Konflik utama: Tjokroaminoto vs Semaun soal keanggotaan ganda SI-PKI. Kongres memutuskan SI pecah menjadi:

Mendirikan PKI (Mei 1920)

November 1920: Usul nama “Partai Nasional Revolusioner Indonesia” untuk ISDV ditolak Semaun yang ingin “Perserikatan Komunis”. Maka:

Ketua PKI (Desember 1921)

Akhir Februari 1921: Pindah ke Semarang, bergabung PKI atas ajakan Semaun.

Ditangkap dan dibuang (1922)

Pengembaraan internasional (1922–1942)

Dua puluh tahun berikutnya (1922–1942) Tan Malaka hidup sebagai internasionalis tanpa negara — berpindah dari satu benua ke benua lain, hidup dengan nama palsu, menulis di jurnal kiri internasional, dan membangun jaringan yang meletakkan dasar bagi gerakan kiri Asia Tenggara.

Belanda dan Jerman (1922)

Di Berlin (Weimar Germany), ia:

Cambridge PhD thesis Joshua D. Brown (2017) mencatat: Tan Malaka “much admired what he saw as the efficiency with which the German nation was then overcoming its crisis”.

Moskow dan Komintern (1922–1923)

Canton / Guangzhou, Tiongkok (1923–1925)

Manila, Filipina (1925–1927)

Catatan penting: Tan Malaka TIDAK terlibat langsung dalam Pemberontakan PKI 1926 di Indonesia (12/13 November 1926) — ia bahkan menentangnya.

Bangkok, Siam — PARI (1927)

Kader-kader PARI yang kemudian terkenal:

Tujuan PARI: mendirikan negara revolusioner yang mencakup Indonesia, Semenanjung Malaya, Nugini, Borneo (bagian Britania), dan Timor (bagian Portugis) — visi Nusantara yang lebih luas dari Indonesia modern.

Manifesto PARI mengkritik PKI dan Komintern. Publikasi: Pari en Nasionalisten (1927), Pari dan PKI (1927), Pari International (1927), Manifesto Bangkok (1927).

Kembali ke Tiongkok dan periode penyamaran (1927–1942)

Hubungan dengan Trotskisme: Maurice Ferarez (1951, Fourth International) mencatat bahwa PARI “those of the Fourth International”; namun Tan Malaka menolak dikategorikan Trotskis murni — ia mengembangkan “Marxisme Nasional” sendiri (menurut Tempo dan Poeze). Wikipedia mencantumkan “Trotskyism” dalam “Main Interests” tapi tanpa bukti kuat.

Kembali ke Indonesia — Masa Jepang (1942–1945)

Setelah Belanda menyerah kepada Jepang (Maret 1942), Tan Malaka melihat peluang baru:

Jabatan masa Jepang

Aktivis muda yang ditemui

Di Banten, Tan Malaka bertemu dengan aktivis muda yang akan menjadi penting dalam revolusi:

Tambang batu bara Bayah

Setelah harus punya pekerjaan, Tan Malaka melamar ke Social Welfare Agency (Lembaga Kesejahteraan Sosial Jepang) → dikirim ke tambang batu bara Bayah, pesisir selatan Jawa Barat (sebagai administrator).

Karya-karya 1945

Menulis beberapa karya baru di akhir masa Jepang:

Peran dalam Revolusi Indonesia (1945–1949)

Masa awal revolusi

Persatuan Perjuangan (Januari 1946)

Pada Januari 1946, Tan Malaka memimpin pendirian Persatuan Perjuangan — sebuah front luas kiri yang mencoba menyatukan partai, laskar, dan organisasi pemuda revolusioner.

5 alasan pendirian Persatuan Perjuangan:

  1. Pertentangan kepala negara dengan rakyat/pemuda — Sukarno-Hatta dianggap terlalu moderat
  2. Pertentangan partai Islam vs Sosialis (Pekalongan, Cirebon, Priangan)
  3. Pertikaian antar-pasukan (mis. Surabaya: tembak menembak dari belakang)
  4. Sikap Inggris yang mengakui kedaulatan Belanda
  5. Rencana Van Mook (Gemeenebest dan Rijksverbond) sesuai pidato Ratu Wilhelmina Desember 1942

Kongres Solo (Januari 1946): 141 organisasi bergabung (partai, laskar, dll, tidak termasuk PKI). Pendukung terkuat: Mayor Jenderal Sudirman (panglima TNI).

“Program Minimum” Persatuan Perjuangan:

  1. Berunding untuk pengakuan kemerdekaan 100 persen
  2. Pemerintahan rakyat (harus sesuai kemauan rakyat)
  3. Tentara rakyat
  4. Penyelenggaraan tawanan Eropa
  5. Pelucutan senjata Jepang
  6. Penyitaan hak/milik musuh
  7. Nasionalisasi perkebunan dan industri milik asing

Februari 1946: Memaksa Sutan Sjahrir mengundurkan diri sementara (Kabinet Sjahrir I jatuh).

Dipenjara (1946–1948)

September 1948: Setelah Pemberontakan Madiun oleh PKI/FDR (Musso, Amir Syarifuddin), Tan Malaka dibebaskan dari penjara.

Kritik terhadap Perjanjian

Kutipan (dari pidato 1948, pasca-Madiun): “Setelah perjanjian Renville tercapai 1 Januari 1948 dan setelah diplomasi Belanda berhasil mengosongkan Kantong di Jawa Barat dan Jawa Timur dengan ujung lidah saja…”

Pendirian Partai Murba (November 1948)

Pemikiran dan ideologi

Tan Malaka membangun sistem pemikiran yang ia sebut “Marxisme Nasional” — bukan Marxisme ortodoks ala Moskow, bukan Trotskisme, bukan Stalinisme, tapi sintesis yang mencangkokkan Marxisme ke kondisi Indonesia.

Sumber pemikiran

Cambridge PhD (Joshua D. Brown, 2017) mencatat: “foreign and indigenous concepts were fused, adapted and reworked”.

Konsep-konsep kunci

Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika)

Akronim untuk sintesis tiga cabang filsafat. Menentang “logika mistika” dan cara berpikir mitologis Indonesia.

Klaim Tan Malaka: kelas sosial Indonesia tidak sama dengan Eropa → Marxisme Eropa tidak bisa langsung diterapkan.

”Merdeka 100%”

Inti seluruh pemikiran politiknya — bukan sekadar merdeka secara politis (bendera), tapi merdeka secara ekonomi (sumber daya, tambang, industri). Kutipan terkenal: “Bangsa Indonesia tidak cukup hanya merebut bendera, tetapi harus juga menguasai tambang batu bara dan sumber ekonomi.” (dari Merdeka 100%)

Poleksosmil

Singkatan Pol(itik) Ek(onomi) Sos(ial) Mil(ITER) — pendekatan integratif. Revolusi harus di empat bidang sekaligus, bukan satu per satu.

Anti-parlementarian

Kritik parlementarianisme dimulai dengan Parlemen atau Sovyet? (1920/1921) dan berlanjut sepanjang kariernya. Kutipan dari Naar de Republiek Indonesia (1925):

“Dengan ucapan ‘L’état c’est moi’ Raja Matahari Prancis mengakui arti negara dengan penuh kesadaran. Pada titik ini Partai Komunis Indonesia (PKI) dapat menyatakan bahwa ‘the revolutionary movement is me’. Adalah faksi intelektual…"

"Negara Revolusioner”

Tanpa kompromi dengan imperialisme/kolonialisme. Lebih dekat dengan negara Soviet pasca-revolusi daripada rep parlementer Barat.

Nasionalisme radikal

“Indonesia Merdeka 100%” lebih diutamakan daripada internasionalisme proletarian. Perbedaan dengan PKI ortodoks yang Moscow-sentris.

Kritik parlementarianisme

Parlemen atau Sovyet? (1920) — ditulis saat masih di bawah Semaun, tetapi lebih radikal dari garis partai.

Nekolim (Neo-kolonialisme, imperialisme)

Dikritik tajam, bahkan terhadap Soviet sendiri. Visi Tan Malaka: Soviet juga punya imperialisme, bukan hanya Barat.

Pan-Islamisme

Diusulkan sebagai mitra komunisme (Moskow 1922, ditolak banyak delegasi). Namun Tan Malaka sendiri tidak pernah meninggalkan kritik terhadap mistisisme — Madilog banyak membahas Islam (termasuk bab khusus Islam dalam Tinjauan Madilog).

Hubungan dengan Mazhab Marxis

Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika

Madilog adalah magnum opus Tan Malaka, ditulis pada Juli 1942 – Maret 1943 (±720 jam) di Rawajati, Batavia, di bawah pendudukan Jepang. Ditulis dengan nama pena Iljas Hussein karena penulisnya masih buron Belanda.

Isi utama

Madilog mengkritik tiga kebodohan Indonesia menurut Tan Malaka:

  1. Logika mistika — cara berpikir mistis yang dimiliki bangsawan, agamawan, dan terpelajar Belanda
  2. Logika kaum kapital — cara berpikir kaum borjuasi yang mendominasi ekonomi
  3. Logika kaum proletar — cara berpikir kelas pekerja Eropa yang belum tentu cocok untuk Indonesia

Kutipan-kutipan kunci dari Madilog

“Dalam kita ini logika dibentuk di dalam iklim… dialektik! keduanya, logika dan dialektika bergantung pada materialisme.”

“Kitab ini adalah bentuk dari paham yang sudah bertahun-tahun tersimpan di dalam pikiran saya, dalam kehidupan yang bergelora.”

Nasib Madilog

Daftar karya penting

Autobiografi

Dari Pendjara ke Pendjara (3 jilid, ditulis tangan di penjara 1947–1948):

Karya filsafat

Karya politik

Roman “Patjar Merah” (bukan ditulis oleh Tan Malaka, tapi tentang dia)

“Patjar Merah Indonesia” adalah julukan Tan Malaka (terinspirasi novel The Scarlet Pimpernel karya Baroness Orczy). Novel-novel tentang dia:

Sukarno dan Tan Malaka

Hubungan Tan Malaka dengan Sukarno dan Mohammad Hatta adalah salah satu drama terbesar Revolusi Indonesia — dimulai dengan saling menghormati, melalui pengkhianatan oleh Sukarno, hingga rekonsiliasi sebagian melalui penetapan Pahlawan Nasional.

Testamen 1945

Konflik 1946

Pidato Sukarno tentang Tan Malaka

Penetapan Pahlawan Nasional (1963)

Era Orde Baru

Eksekusi

Kronologi eksekusi (6 peristiwa utama)

Eksekutor

Misteri kuburan

Warisan dan pengakuan

Julukan “Bapak Republik Indonesia”

Pengaruh terhadap Partai Murba

Partai Murba masih ada setelah 1949; menjadi partai kiri besar berikutnya (meskipun akhirnya tak pernah sebesar PKI). Pasca-Orde Baru: Partai Murba “hidup merana, dan sekarang tidak ada kegiatan lagi” (Poeze Jilid 5).

Peringatan

Warisan film

Kontroversi dan perdebatan sejarawan

Kontroversi besar

  1. Misteri kuburan/eksekusi: Setidaknya 5 versi kematian; mayat tidak pernah ditemukan resmi.
  2. Siapa yang bertanggung jawab atas kematiannya?
  3. Peran dalam pemberontakan PKI 1926: Tidak terlibat — ia menolak pemberontakan, tapi kemudian dipertemukan/diasosiasikan dengan pemberontakan Madiun 1948 (yang sebenarnya dilakukan oleh Musso).
  4. Sukarno-Hatta kontradiktif: Sukarno sendiri yang menunjuknya di testamen 1945, tapi kemudian memenjarakan 1946–1948. Tapi juga yang mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional 1963.
  5. Dilema “Pahlawan Kontroversial”: Harry A. Poeze: “Ia adalah Pahlawan Nasional yang kontroversial karena dinilai sebagai seorang komunis oleh partai nasionalis dan partai agama, tetapi dianggap pengkhianat oleh kaum komunis.”
  6. Pemberontakan atau tidak ke Madiun? Tan Malaka sudah dibebaskan sebelum pemberontakan Madiun September 1948, dan pasca-pemberontakan ia ke Kediri untuk mengumpulkan sisa pemberontak — tapi ia tidak memimpin pemberontakan.
  7. Trotskis atau bukan? Sumber menyebutnya dekat Fourth International, tapi ia menolak dikategorikan. Lebih akurat: mengembangkan “Marxisme Nasional” sendiri.
  8. Stalinis atau bukan? Menolak pemberontakan 1926 yang disponsori Comintern/Stalinis → bukan Stalinis.
  9. Pan-Islam atau anti-Islam? Usul komunisme-Pan-Islamisme di Moskow ditolak; Madilog sendiri banyak membahas Islam.
  10. “Nekolim”: Pandangan kritis terhadap neokolonialisme dan imperialisme bahkan terhadap Soviet sendiri.
  11. Tidak pernah diakui luas di Barat: Sumber-sumber Barat tentang founding fathers Indonesia (1945) biasanya tidak menyebut Tan Malaka.
  12. Orde Baru menghapus dari sejarah: Bukan mencabut gelar (tidak bisa), tapi “off the record” dalam buku pelajaran sejarah; Madilog dan sebagian besar karyanya dilarang.

Warisan Minangkabau

Tan Malaka adalah produk Minangkabau — salah satu etnis paling terdidik di Nusantara pada awal abad ke-20, dengan tradisi merantau (merantau) yang kuat dan pengaruh Islam modernis.

Ciri-ciri Minangkabau dalam pemikiran Tan Malaka

Relasi dengan tokoh komunis Indonesia

TokohHubungan
SemaunSeniornya di PKI; hubungan baik awal tapi kemudian merenggang
MussoPemimpin pemberontakan Madiun 1948 (bukan sekutu dekat)
AliminSama-sama kiri tapi Alimin tidak mendengarkan penolakannya terhadap pemberontakan 1926
Henk SneevlietMentor di Belanda
DarsonoRekan di Berlin 1922; sama-sama Marxis Indonesia
M.N. RoyBertemu di Komintern IV Moskow 1922
Ho Chi MinhSatu delegasi di Komintern IV (sebagai Nguyen Ai Quoc)
SukarnoHubungan kompleks: saling menghormati tapi kemudian saling mengkhianati
Sutan SjahrirLawan politik — menangkap dan memenjarakan Tan Malaka 1946–1948
Soekarni, Chaerul Saleh, WikanaAktivis muda Banten yang ditemui 1943, bersama di Panitia Sembilan

Bahasa

Tan Malaka lihai dalam banyak bahasa:

Cambridge PhD thesis: ia membaca literatur Marx dalam bahasa aslinya (Jerman).

Sumber dan bacaan

Biografi definitif

Studi pemikiran

Sumber kontemporer

Sumber populer

Terjemahan

Sumber daring

Lihat juga