Nabi Muhammad SAW

Nabi dan rasul terakhir dalam Islam (570–632 M) — pendiri agama Islam, penerima wahyu Al-Quran, dan pemimpin negara kota Madinah. Sumber utama biografi beliau adalah Sirah Nabawiyah dan Al-Quran.

Nabi Muhammad SAW

Muḥammad ibn ʿAbd Allāh (±570–632 M) adalah nabi dan rasul terakhir dalam agama Islam. Menurut keyakinan Islam, beliau menerima wahyu Al-Quran dari Allah melalui Malaikat Jibril selama 23 tahun (610–632 M), dan menyampaikan risalah yang menyatukan hampir seluruh Jazirah Arab di bawah satu agama dan tatanan politik.

Dalam Islam, Muhammad dianggap sebagai khatam an-nabiyyin (“penutup para nabi”) — melanjutkan tradisi para nabi sebelumnya dalam agama Abraham (Ibrahim): Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan lainnya. Bagi lebih dari 1,9 miliar Muslim di dunia saat ini, beliau adalah teladan moral (uswatun hasanah) utama dan sumber dari Sunnah — selain Al-Quran.

Dalam catatan sejarah, Muhammad adalah tokoh yang mendirikan salah satu peradaban terbesar dalam sejarah manusia: Peradaban Islam yang pada puncaknya membentang dari Spanyol di barat hingga India di timur, menghasilkan kemajuan di bidang matematika, kedokteran, astronomi, filsafat, dan kesusastraan.


Konteks Sejarah: Arabia pada Abad ke-6

Jazirah Arab abad ke-6 adalah wilayah yang sangat terfragmentasi. Tidak ada negara tunggal; yang ada adalah:

Suku Quraisy menguasai Mekkah dan mengelola Ka’bah. Bani Hasyim — klan Muhammad — adalah salah satu klan Quraisy yang paling dihormati, dengan tanggung jawab memberi makan peziarah dan menyediakan air sumur Zamzam. Kakek Muhammad, Abdul Muthalib, adalah pemimpin klan saat itu.

Hubungan internasional Arabia juga kompleks. Mekkah menjadi pusat perdagangan antara Byzantium (Kristen) di utara dan Sassanid (Zoroaster) di timur, dan Ethiopia (Kristen) di Afrika. Ketiga imperium besar ini sedang dalam konflik berkepanjangan, dan wilayah-wilayah di perbatasan (seperti Yaman dan Suriah) menjadi arena pertarungan proksi.

Secara spiritual, masyarakat Arab pra-Islam (masa Jahiliyyah) memiliki:


Masa Muda (570–595 M)

Kelahiran

Muhammad lahir ±570 M (secara tradisional tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, bertepatan dengan 22 April 571 M menurut sebagian riwayat), di tengah Tahun Gajah — tahun ketika pasukan Abrahah dari Yaman menyerang Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Menurut tradisi Islam, serangan ini digagalkan oleh pasukan burung ababil yang membawa batu-batu panas — peristiwa ini diabadikan dalam Surah Al-Fil (Quran 105).

Muhammad lahir sebagai anak yatim: ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, meninggal beberapa bulan sebelum kelahirannya. Ibunya, Aminah binti Wahb, adalah wanita terhormat dari Bani Zuhra. Hanya berselang enam tahun, Aminah juga wafat (sekitar 576 M) — membuat Muhammad yatim piatu.

Kakeknya, Abdul Muthalib, mengasuh Muhammad selama dua tahun sebelum wafat (578 M). Setelah itu, pamannya, Abu Thalib — kepala Bani Hasyim berikutnya — yang membesarkannya. Tradisi Arab saat itu juga mengirimkan bayi ke perempuan-perempuan pengasuh (radhi’ah) di pedesaan — Muhammad diasuh oleh Halimah Sa’diyah dari Bani Sa’ad, di mana ia menghabiskan beberapa tahun pertamanya di padang pasir.

Masa Remaja

Muhammad tumbuh sebagai anak yatim dari klan yang berpengaruh — dihormati karena keturunannya, tetapi miskin. Ia dibesarkan oleh Abu Thalib dan mulai mendagang di usia muda, menemani paman ke Suriah dan tempat-tempat lain. Menurut tradisi, pada usia 9-12 tahun ia pernah ikut dalam perang Fijar — konflik antara Quraisy dan Hawazin.

Pada usia ±20 tahun, ia bekerja untuk Siti Khadijah binti Khuwailid — seorang janda kaya yang memimpin perusahaan dagang milik keluarga. Pujian yang ia berikan atas kejujuran Muhammad membuat Khadijah mengutusinya ke Suriah. Perjalanan ini (diceritakan dalam Sirah) menjadi penting karena:


Pernikahan dengan Khadijah (595 M)

Sekembalinya dari Suriah, Khadijah yang terkesan dengan kejujuran dan integritas Muhammad, mengirim seorang temannya untuk menawarkan pernikahan. Pada usia 25 tahun (±595 M), Muhammad menikahi Khadijah — yang saat itu berusia ±40 tahun (menurut sumber tradisional; sebagian sarjan modern memberi ±28 tahun).

Pernikahan ini penting karena:

Kehidupan ini membuat Muhammad mendapat julukan “Al-Amin” (yang terpercaya) oleh masyarakat Mekkah. Beliau dikenal sebagai penyelesai perselisihan (hakam) yang dihormati.


Wahyu Pertama di Gua Hira (610 M)

Sekitar 610 M, saat Muhammad berusia ±40 tahun, ia mulai menyendiri untuk beribadah di Gua Hira di Jabal Nur, dekat Mekkah — sebuah praktik tahannus (kontemplasi). Pada suatu malam di bulan Ramadan (sekitar 17 Ramadan, 6 Agustus 610 menurut perhitungan sebagian sarjan), Malaikat Jibril muncul dan menyampaikan wahyu pertama:

“Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq — Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”Quran 96:1 (Surah Al-Alaq, “Yang Menggumpalkan”)

Muhammad — yang buta huruf (ummi) — gemetar dan pulang ke Khadijah. Khadijah menenangkannya dan membawanya ke sepupunya, Waraqah bin Naufal — seorang pendeta Kristen yang buta. Waraqah mengenali wahyu ini sebagai risalah kenabian seperti yang pernah diterima Musa, dan meninggal tidak lama setelah itu.

Setelah wahyu pertama, terdapat periode fatra (jeda) — wahyu terhenti selama beberapa waktu menurut sebagian riwayat, dan Muhammad sempat merasa cemas. Wahyu berikutnya turun beberapa bulan kemudian, dengan perintah untuk berdakwah secara diam-diam (Sirr):

“Wahai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah dan berilah peringatan.”Quran 74:1–2 (Surah Al-Muddatstsir)


Dakwah di Makkah (610–622 M)

Tiga Tahun Pertama: Dakwah Rahasia

Selama tiga tahun pertama (610–613 M), dakwah dilakukan secara tersembunyi. Pengikut pertama adalah mereka yang sudah dekat dengan Muhammad:

Abu Bakar kemudian membawa beberapa orang masuk Islam: Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqas, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka semua menjadi pilar awal umat Islam.

Dakwah Terbuka (613 M)

Sekitar 613 M, turun perintah untuk berdakwah secara terbuka:

“Sampaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu dan janganlah hiraukan orang-orang musyrik.”Quran 15:94

Muhammad naik ke Bukit Shafa dan menyeru kaum Quraisy untuk menyembah Allah. Reaksi Makkah beragam:

Persekusi

Pengikut awal Islam — terutama mereka yang tidak memiliki perlindungan klan — mengalami penganiayaan berat:

Hijrah ke Habasyah (615 M)

Karena tekanan meningkat, Muhammad memerintahkan sekitar 80–100 pengikut untuk bermigrasi ke Kerajaan Aksum (Habasyah/Ethiopia) yang diperintah oleh Negus (Najasyi) — seorang raja Kristen yang dikenal adil. Mereka mendirikan komunitas Islam kecil di sana — ini menjadi hijrah pertama dalam Islam, bukan ke Madinah.

Quraisy mengirim delegasi (termasuk Amr bin Ash) untuk membujuk Negus agar mengembalikan para migran. Negus menolak, bahkan setelah Quraisy membawa dua sarjan (Ja’far bin Abi Thalib dari pihak Muslim, dan seorang pendeta Kristen).

Tahun-Tahun Akhir di Makkah (616–619 M)


BAI’AT AQABAH — Titik Balik

Sekitar 620 M, enam orang dari Yastrib (Madinah) yang sedang haji di Mekkah menemui Muhammad dan masuk Islam. Tahun berikutnya, 12 orang melakukan bai’at (sumpah setia) kepada Muhammad di Aqabah (Mina). Tahun berikutnya (622 M), 73 pria dan 2 wanita dari Yastrib datang dan berjanji akan melindungi Muhammad jika ia bermigrasi ke kota mereka.

Yastrib (kemudian bernama Madinat an-Nabi = “Kota Nabi” atau Madinah) adalah kota yang sangat membutuhkan:

Muhammad melihat kesempatan untuk menyatukan kota ini di bawah satu pemerintahan.


HIJRAH ke Madinah (622 M) — Titik Balik Kalender Islam

Quraisy khawatir dengan kekuatan Islam yang tumbuh. Mereka merencanakan pembunuhan terkoordinasi — satu pemuda dari setiap kabilah akan membunuh Muhammad secara serentak, sehingga tanggung jawab tersebar (daripada satu klan harus menanggung balas dendam).

Pelarian ke Gua Tsur

Jibril memberitahu Muhammad tentang rencana ini. Muhammad meninggalkan Mekkah pada malam hari dengan Abu Bakar as-Siddiq sebagai teman perjalanan. Mereka bersembunyi di Gua Tsur (gua kecil di gunung di luar Mekkah) selama 3 hari. Quraisy mengejar mereka — bahkan sampai ke mulut gua — tapi tidak melihat mereka (menurut tradisi, “jaring laba-laba” menutupi mulut gua, dan “sepasang merpati” bertelur di sana, yang menipu pengejar).

Perjalanan ke Yastrib

Setelah 3 hari, mereka melanjutkan perjalanan dengan rute yang tidak biasa (melalui pesisir, bukan langsung ke utara) untuk menghindari penyergapan. Perjalanan total memakan waktu 9 hari.

Kedatangan di Quba (24 September 622 M)

Tanggal 8 Rabiul Awal 1 H (24 September 622 M), mereka sampai di Quba, sebuah pemukiman di luar Yastrib. Di sini, Muhammad membangun Masjid Quba — masjid pertama dalam Islam.

Kedatangan di Madinah

Tiga hari kemudian, 12 Rabiul Awal 1 H, Muhammad masuk ke Madinah dengan megah. Penduduk kota sambut dengan antusias — anak-anak menyanyi “Tal’at al-badru ‘alayna” (bulan purnama telah terbit kepada kami) — dan hampir seluruh penduduk menyatakan masuk Islam.

Peristiwa ini, Hijrah (الهجرة, “migrasi”), dijadikan titik tahun 1 Kalender Hijriah — kalender lunar Islam yang masih digunakan hingga sekarang.


PERIODE MADINAH (622–632 M) — Membangun Negara Islam

Piagam Madinah (624 M)

Salah satu dokumen paling penting dalam sejarah Islam. Segera setelah tiba di Madinah, Muhammad menyusun Piagam Madinah (Ṣaḥīfat al-Madīnah / Mīthāq al-Madīnah) — konstitusi tertulis pertama yang tercatat dalam Islam.

Piagam ini memiliki 47 pasal yang:

Dokumen ini sering dianggap sebagai “konstitusi tertulis pertama di dunia” — muncul lebih awal dari Magna Carta (1215) hampir 600 tahun. Patricia Crone, seorang sarjan skeptis, menyebut Piagam Madinah “sticking out like a piece of solid rock in an accumulation of rubble” — satu-satunya dokumen padat dalam tumpukan sumber Islam awal yang tidak dapat disangkal.

Qiblat Berubah ke Baitullah (624 M)

Awalnya, umat Islam shalat menghadap Masjid al-Aqsa di Yerusalem. Sekitar 624 M, turun wahyu yang memerintahkan mengubah qiblat ke Ka’bah di Mekkah:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid al-Haram.”Quran 2:144

Perubahan ini memiliki signifikansi teologis besar — menegaskan bahwa Islam bukan cabang Yudaisme atau Kristen, melainkan kelanjutan langsung agama Ibrahim yang berpusat di Ka’bah.


Perang-Perang Utama (624–627 M)

Pertempuran Badr (17 Ramadan 2 H / 13 Maret 624 M)

Pertempuran pertama antara Muslim Madinah dan Quraisy Mekkah. ±313 Muslim (terutama Muhajirin dan Anshar) menghadapi ±1.000 Quraisy.

Penyebab: Muhammad mendengar tentang kafilah dagang Quraisy yang kembali dari Suriah ke Mekkah, dipimpin oleh Abu Sufyan. Ia memutuskan untuk menyerangnya. Abu Sufyan mengirim utusan ke Mekkah, dan Quraisy mengirim pasukan bantuan dari Mekkah.

Hasil: Kemenangan Muslim yang decisive. Abu Jahl (Amr bin Hisyam) — pemimpin Quraisy yang paling anti-Islam — terbunuh. 70 Quraisy tewas, 70 ditawan. 14 Muslim syahid.

Quran menyebutnya sebagai Yawm al-Furqan (“Hari Pembeda”) — hari yang memisahkan kebenaran dari kebatilan:

“Dan Allah telah menolong kamu di Perang Badr, padahal kamu dalam keadaan lemah.”Quran 3:123

Badr menjadi titik balik psikologis bagi Islam. Sebelumnya Islam tampak tidak berdaya; setelah Badr, Quraisy menyadari bahwa Islam adalah kekuatan yang harus diperhitungkan.

Pertempuran Uhud (7 Syawwal 3 H / 23 Maret 625 M)

Quraisy membalas dengan 3.000 tentara di bawah Abu Sufyan. Muslim saat itu hanya ±700 orang. Awalnya, Muslim hampir menang, tetapi karena pasukan pemanah di Bukit Uhud meninggalkan posisi atas perintah (mereka turun untuk mengumpulkan rampasan perang), kavaleri Quraisy di bawah Khalid bin Walid menyerang dari belakang.

Hasil: kekalahan Muslim dengan 70 syahid — termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Muhammad dan salah satu pemuka Islam pertama. Jasad Hamzah dimutilasi oleh Hind binti Utbah (istri Abu Sufyan) sebagai balas dendam atas kematian ayahnya di Badr. Muhammad sendiri terluka dalam pertempuran ini.

Pelajaran: Badr mengajarkan bahwa kepatuhan adalah kemenangan. Uhud mengajarkan bahwa ketidakpatuhan — bahkan sesaat — bisa berakibat fatal.

Pertempuran Khandaq / Parit (Syawal 5 H / Maret 627 M)

Quraisy di bawah Abu Sufyan kembali dengan 10.000 tentara — kali ini dengan kabilah Ghatfan dan komunitas Yahudi Bani Nadhir. Mereka mengepung Madinah.

Taktik baru: atas saran Salman al-Farisi (seorang Persia yang baru masuk Islam), Muslim menggali parit (khandaq) di sisi utara Madinah — sebuah taktik yang sebelumnya tidak dikenal di Arabia. Pasukan Muslim hanya 3.000 orang, tapi parit membuat kavaleri Quraisy tidak efektif.

Pengepungan berlangsung ±2 minggu dan gagal. Quraisy mundur setelah badai kencang menghancurkan kemah mereka. Quran menyebut peristiwa ini sebagai Surah Al-Ahzab (Pasukan Bersekutu).

Akibat: Komunitas Yahudi Bani Quraizhah (yang dituduh berkhianat) dikepung dan akhirnya dihukum — eksekusi terhadap laki-laki dewasa berdasarkan putusan Sa’ad bin Mu’adh. Peristiwa ini kontroversial dan menjadi subyek banyak diskusi akademik modern.

Perang Lainnya


PERJANJIAN HUDAIBIYAH (628 M)

Setelah kemenangan-kemenangan, Muhammad bermimpi melakukan umrah (ziarah kecil) ke Mekkah. Ia memimpin 1.400 pengikut dalam perjalanan ziarah. Quraisy menolak masuknya ke Mekkah.

Perjanjian Hudaibiyyah — gencatan senjata 10 tahun antara Muslim dan Quraisy. Isinya termasuk:

Pada awalnya, banyak sahabat tidak setuju dengan perjanjian ini (terutama karena di dalamnya tertulis “Rasulullah” — mereka merasa terhina), tetapi Muhammad memaksakan perjanjian tersebut. Ubai bin Ka’ab mencatat: Bahkan Abu Bakar pun ragu, tapi kami percaya.

Signifikansi: Selama 2 tahun gencatan senjata, Islam berkembang pesat — banyak delegasi kabilah datang dan masuk Islam, karena mereka tidak lagi takut pada konflik Quraisy. Ketika Quraisy akhirnya melanggar perjanjian (dengan menyerang sekutu Muslim, Khuza’ah), Muhammad memiliki 10.000 tentara yang terlatih.


FATHU MAKKAH — Pembebasan Mekkah (10 Ramadan 8 H / 11 Januari 630 M)

Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiyyah dengan membantu Banu Bakr menyerang Khuza’ah — sekutu Muslim. Muhammad mengumpulkan 10.000 tentara (kebanyakan Anshar dan Muhajirin, banyak dari kabilah-kabilah yang baru masuk Islam) dan bermarch ke Mekkah.

Mekkah menyerah tanpa pertempuran. Abu Sufyan (pemimpin Quraisy) datang ke Madinah untuk negosiasi, dan akhirnya masuk Islam. Kota ini jatuh ke tangan Muslim hampir tanpa pertumpahan darah.

Pidato Pembebasan — Muhammad berdiri di Ka’bah dan berpidato:

“Pergilah kalian, kalian semua bebas.” (Idzhabū fa antum at-tulaqā’)

“Tidak ada pertobatan yang dituduhkan kepada kalian hari ini. Pergilah kalian, kalian semua bebas.” — Tentang para pemimpin Quraisy yang selama 20 tahun memusuhi Islam

Masuknya Islam Massal — setelah pembebasan, mayoritas Quraisy masuk Islam dalam waktu singkat. Muhammad memerintahkan penghancuran berhala-berhala di Ka’bah360 berhala dilemparkan, termasuk patung Hubal. Ka’bah kembali ke monoteisme murni — pertama kalinya sejak Nabi Ibrahim.

Pertempuran Hunayn (setelah Fathu Makkah) — kabilah Hawazin menyerang Muslim, awalnya mengalami kekalahan, tapi Khalid bin Walid memimpin kavaleri Muslim meraih kemenangan akhir. Perang ini dikonfirmasi oleh Quran:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dalam peperangan di Hunayn.”Quran 9:25


TABLIGH — Pengumuman Terakhir (8 H)

Pada tahun 8 H, sekitar 70.000 peziarah mengikuti ziarah pertama Muhammad ke Mekkah. Sebelum massa berangkat ke Arafah, turun ayat terakhir Al-Quran yang terkait dengan kesempurnaan agama:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”Quran 5:3 (Ayat “penutup”)

Peristiwa ini dikenal sebagai Ayat al-Tabligh — “ayat pengumuman”.


HAJI WADA — Haji Perpisahan (9 Dzulhijjah 10 H / 6 Maret 632 M)

Satu tahun sebelum wafatnya, Muhammad memimpin satu-satunya Haji yang ia lakukan secara pribadi — yang kemudian dikenal sebagai Hajjat al-Wada’ (Haji Perpisahan) atau Hajjat al-Islam.

Sekitar 100.000–120.000 Muslim mengikutinya. Di Padang Arafat, ia menyampaikan Khutbah Haji Wada’ (Khotbah Haji Perpisahan) — pidato perpisahan yang menjadi salah satu dokumen paling penting dalam sejarah Islam. Isinya:

1. Persamaan Manusia

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, dan sesungguhnya ayah kalian adalah satu. Tidak ada kelebihan seorang Arab atas non-Arab, atau non-Arab atas Arab, atau orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, atau orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali dalam hal takwa (ketaqwaan).“

2. Kesucian Darah dan Harta

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti haramnya hari kalian ini, bulan kalian ini, dan kota kalian ini (Mekkah).“

3. Larangan Riba

“Sesungguhnya Allah telah melarang riba (bunga), maka semua tagihan riba dibatalkan. Modal kalian adalah hak kalian — kalian tidak akan menzalimi dan tidak dizalimi.”

4. Hak-Hak Wanita

“Sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian memiliki hak atas kalian. Terhadap mereka, kalian berhak untuk memberi makan dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.”

5. Perintah Menyampaikan

“Sampaikanlah dariku, meskipun hanya satu ayat.”

“Apakah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”


WAFAT (8 Juni 632 M)

Sekitar 3 bulan setelah Haji Wada’, Muhammad jatuh sakit. Ia masih memimpin shalat berjamaah beberapa hari sebelum wafat, meskipun kondisinya lemah. Pada akhirnya, Abu Bakar as-Siddiq memimpin shalat karena Muhammad sudah tidak kuat.

Pada 8 Juni 632 M (12 Rabiul Awal 11 H), wafat di kamar Aisyah — istrinya. Aisyah melaporkan bahwa kepalanya bersandar di dadanya ketika wafat. Kalimat terakhirnya (menurut tradisi) adalah:

“Ar-rafiq al-a’la” — “Teman yang tertinggi.” (artinya: pertemuan dengan Allah)

Kabar wafatnya mengejutkan seluruh Madinah. Sahabat Umar bin Khattab sempat kehilangan kontrol — mengancam orang yang menyatakan Muhammad wafat. Abu Bakar as-Siddiq naik ke mimbar dan menenangkan dengan ayat Quran:

“Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul; sebelumnya pun sudah ada beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh, kalian akan kembali ke kekufuran?”Quran 3:144

Warisan material Muhammad sangat sedikit — baju besi beliau masih tergadai untuk gandum makanan keluarganya, beberapa dirham tersisa, dan seekor keledai. Tanah tempat beliau tinggal menjadi tempat pemakaman (Masjid Nabawi saat ini).


KELUARGA — Istri dan Anak

Istri (11 tercatat, beberapa masih disputed)

NamaMenikahStatus
Khadijah binti Khuwailid595Istri pertama, wafat 619, ibu kebanyakan anaknya
Sawdah binti Zam’ah619Setelah wafat Khadijah
Aisyah binti Abi Bakr620Putri Abu Bakar, ±18 tahun saat menikah
Hafsah binti Umar625Putri Umar bin Khattab
Zaynab binti Khuzayma625Wafat ±2 bulan setelah menikah
Ummu Salamah625Janda Abu Salamah
Zaynab binti Jahsh627Sepupu Muhammad
Juwayriyah binti al-Harits628Dari Bani Mustaliq
Ramlah (Ummu Habiba)628Putri Abu Sufyan
Shafiyah binti Huyayy629Dari Bani Nadhir (Yahudi)
Maimunah binti al-Harits629Janda
Maria al-Qibtiyya628Istri konsensual (perempuan Kristen Koptik dari Mesir)

Catatan: Mayoritas istri Muhammad adalah janda atau wanita yang sebelumnya terlantar — sebuah kebijakan yang bermaksud melindungi mereka di masyarakat patriarkal Arab.

Anak (7 menurut Sunni)

Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib (sepupu Muhammad). Keturunan mereka (silsilah Ahlul Bayt) menjadi jalur utama garis keturunan Muhammad hingga saat ini. Keturunan Fatimah-Ali bergelar Sayyid (tuan) atau Sharif (mulia).


WARISAN — Pengaruh terhadap Peradaban

1. Al-Quran

Wahyu yang diterima Muhammad selama 23 tahun dikumpulkan dalam Al-Quran — kitab suci Islam. Al-Quran terdiri dari 114 surah, ±6.236 ayat, dan merupakan kitab paling awal dalam bahasa Arab yang utuh. Dipercaya oleh Muslim sebagai firman Allah yang langsung, diturunkan melalui Jibril.

Menurut sejarawan Kristen Patricia Crone (1935–2015) — yang awalnya skeptis — Al-Quran adalah “salah satu dokumen paling berpengaruh dalam sejarah manusia” yang sangat sulit untuk dipalsukan karena gaya bahasa yang sangat khas.

2. Sunnah dan Hadits

Sunnah — praktik, perkataan, dan persetujuan diam-diam Muhammad — menjadi sumber hukum Islam kedua (setelah Quran). Catatan tentang Sunnah dikumpulkan dalam hadits (jamak: ahādīs) — Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dan empat kitab lainnya (“Kutub al-Sittah”).

3. Khulafaur Rasyidin (Penerus)

Muhammad tidak meninggalkan wasiat eksplisit tentang penerus. Setelah krisis singkat, sahabat memilih Abu Bakar as-Siddiq sebagai khalifah pertama (632–634 M). Pengganti:

4. Peradaban Islam (abad 7–13 M)

Dalam ±100 tahun setelah wafat Muhammad, khilafah yang didirikan dari ajarannya membentang dari Spanyol hingga India. Kota-kota besar seperti Baghdad, Kairo, Cordoba, Samarkand menjadi pusat keilmuan. Selama Abad Pertengahan, peradaban Islam melestarikan dan mengembangkan pengetahuan Yunani, India, dan Persia, dan menambahkan kemajuan dalam matematika (aljabar), kedokteran, astronomi, optik, kimia.

5. Demografi Saat Ini


PENILAIAN SEJARAH

Perspektif Muslim

Muhammad dianggap sebagai penutup para nabi (khatam al-nabiyyin) — setelahnya tidak ada nabi lagi. Beliau dipandang sebagai teladan moral sempurna (uswatun hasanah). Al-Quran memuat 4 ayat yang menyebut “teladani pada Muhammad” atau “teladani pada Rasulullah”. Seluruh hidupnya, dari Aisyah sampai Abu Hurairah, dikumpulkan dalam hadits sebagai contoh sempurna.

Perspektif Barat Akademis

Tinjauan Historis Terhadap Detail Sira

Mayoritas sumber biografi Muhammad adalah sumber Muslim abad ke-8 dan ke-9 (Ibn Ishaq, Ibn Hisham, al-Waqidi, Ibn Sa’d, al-Tabari). Jarak 150-250 tahun antara peristiwa dan penulisan menimbulkan pertanyaan validitas.

Namun, banyak elemen yang didukung oleh bukti eksternal:


LIHAT JUGA


REFERENSI

Sumber Primer

Sumber Barat Modern

Sumber Bahasa Indonesia

Wikipedia