Pertempuran pertama antara umat Islam dan kafir Quraisy pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624 M). Pertempuran ini menjadi titik balik Islam dan disebut 'Yawm al-Furqan' (Hari Pembeda).
Pertempuran Badr (Arab: غزوة بدر, Ghazwah Badr) adalah pertempuran pertama dan paling signifikan dalam sejarah Islam awal. Terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624 M), pertempuran ini melihat ±313 Muslim menghadapi ±1.000 Quraisy di Sumur Badr — dan memenangkan kemenangan decisive yang mengubah keseimbangan kekuatan di Jazirah Arab selamanya.
Pertempuran Badr adalah titik balik bagi Islam — sebelumnya Islam terlihat tidak berdaya, setelah Badr, Quraisy menyadari bahwa Islam adalah kekuatan yang harus diperhitungkan. Quran menyebutnya sebagai “Yawm al-Furqan” (Hari Pembeda).
Setelah Hijrah ke Madinah (622 M), Nabi Muhammad mulai membangun negara Islam dengan Piagam Madinah. Komunitas Islam tumbuh — dan menarik kafilah dagang dari Mekah lewat jalur utara (melewati Madinah).
Awal tahun 624 M, kafilah dagang Quraisy yang diketuai Abu Sufyan kembali dari Suriah dengan ±50.000 dinar kekayaan. Sa’ad bin Mu’adh mendengar tentang ini dan mengusulkan serangan terhadap kafilah — Nabi menyiapkan pasukannya.
Nabi berkonsultasi dengan para sahabat. Hubab bin Mundzir bertanya:
“Apakah ini wahyu, atau keputusan strategis?” Nabi: “Ini keputusan strategis.”
Para sahabat berdebat — kaum Anshar awalnya ragu karena mereka mengira nazar mereka hanya untuk membela Nabi di Madinah, bukan untuk serang di luar. Sa’ad bin Mu’adh akhirnya mengkonfirmasi:
“Kami percaya engkau, dan kami berdiri bersamamu.”
Nabi berangkat dengan 313 orang — termasuk:
Senjata: 6 baju besi saja, 8 pedang total, dan tombak yang tidak seberapa.
Setelah mendengar bahwa Nabi menyergap kafilah, Quraisy mengirim pasukan bantuan dari Mekah:
Nabi tidak ingin bertempur di Badr — beliau ingin mendekati kafilah sebelum Quraisy sampai. Tapi Allah berkehendak lain — Jibril memberitahu:
“Keluarlah untuk menghadapi mereka — mereka telah sampai.”
Nabi tiba di Sumur Badr — dan menyusul sumur lebih dulu (yakin atas wahyu).
Pada malam sebelum pertempuran, Allah mengirimkan hujan ringan yang menyuburkan tanah di sisi Muslim (memberi mereka pijakan yang kuat) dan menjadi lumpur di sisi Quraisy. Muslim juga tidur pulas oleh Allah (Quran 8:11) — menyegarkan mereka.
Nabi menyusun formasi dan menunjuk koboi (bendera):
Nabi berdoa dengan tangisan yang mendalam:
“Ya Allah, jika pasukan ini (Muslim) binasa, Engkau tidak akan disembah di bumi ini.”
Di sisi Quraisy, perselisihan muncul — Utbah bin Rabi’ah (yang lebih memilih damai) melawan Abu Jahal (yang menentang keras):
Abu Jahal: “Demi Allah, kita tidak akan pulang sampai kita berperang!” Utbah: “Kalau begitu, kita akan berperang.”
Perselisihan ini menjadi titik balik penting — jika Quraisy mengikuti Utbah, mungkin hasilnya berbeda.
Tiga pejuang Quraisy terkuat — Utbah, Syaibah, Walid bin Utbah — maju ke depan dan menantang duel. Tiga Muslim maju:
Kehilangan tiga pemimpin membuat Quraisy melemah secara psikologis.
Setelah duel, pertempuran umum dimulai. Quran menggambarkan:
“(Ingatlah), ketika kamu meminta pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia memperkenankan kamu: ‘Sesungguhnya Aku akan menolong kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’” — Quran 8:9
Nabi menunjuk ke arah Quraisy dan berdoa:
“Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku.”
Awan pasir membutakan Quraisy — malaikat turun membantu. Hamzah berteriak:
“Ya Allah! Jika Engkau biarkan pasukan ini binasa, Engkau tidak akan disembah.”
Quraisy kocar-kacir. 73 orang tewas (termasuk Abu Jahal), 70 ditawan. 14 Muslim syahid (termasuk Ubayda bin Harits dan 6 Anshar).
Abu Jahal (Amr bin Hisyam) — pemimpin oposisi terkuat terhadap Islam — ditemukan terbunuh oleh Abdullah bin Mas’ud setelah pertempuran.
Nabi bertanya kepada sahabat tentang perlakuan tawanan:
Nabi memilih pendapat Abu Bakar — tebusan (ada versi: setiap tawanan 10.000 dinar untuk yang mampu).
Setelah pertempuran, turun ayat:
“Tidaklah patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki harta benda dunia, sedangkan Allah menghendaki akhirat. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” — Quran 8:67
Allah sebenarnya lebih memilih agar mereka berjuang sampai batas, bukan menawan untuk tebusan. Nabi menerima kritik ini.
Beberapa tawanan terkenal:
Pertempuran Badr menjadi bukti bahwa Allah bersama Muslim — yang secara numerik jauh lebih lemah namun menang. Quran menyebutnya Yawm al-Furqan (Hari Pembeda).
Kemenangan ini mengubah keseimbangan psikologis — sebelumnya Muslim bertahan di Madinah, setelah Badr mereka menyerang (Uhud, Khandaq, Khaibar).
Nabi memprediksi beberapa detail sebelum pertempuran:
Setelah Badr, Nabi semakin percaya diri untuk ekspansi — membebaskan banyak kelompok di sekitar Madinah dari Quraisy.