Heimskringla

Kronik raja-raja Norwegia karya Snorri Sturluson — ensiklopedia sastra abad pertengahan yang merangkum 16 saga dari mitos dewa-dewa Norse hingga sejarah Norwegia tahun 1177.

Heimskringla

Heimskringla (Norse Kuno: ˈheimsˌkʰriŋla; Indonesia: “Lingkaran Dunia”) adalah saga raja-raja Norwegia yang ditulis dalam bahasa Old Norse di Islandia sekitar tahun 1230 oleh Snorri Sturluson (1179–1241). Karya ini merupakan salah satu pencapaian sastra terbesar di Skandinavia abad pertengahan, mencakup enam belas saga yang merangkum sejarah Norwegia dari masa mitologis dewa-dewa Norse hingga tahun 1177 Masehi.

Dalam kata-kata Theodore M. Andersson, Heimskringla “bukan formulasi pertama, tetapi fusi akhir. Ia adalah sintesis dalam pengertian yang sangat sempit, hampir editorial.” Karya ini ditulis bukan sebagai khronik kenegaraan biasa, melainkan sebagai prosa epik yang mengintegrasikan mite, hagiografi, dan sejarah menjadi narasi tunggal yang mengalir dengan energi sastra yang hingga kini masih hidup.


Arti Judul

Nama Heimskringla berasal dari dua kata pembuka naskah Kringla: kringla heimsins — “lingkaran dunia.” Frasa ini muncul dalam preamble geografis yang menggambarkan bumi sebagai cakram yang sangat diukir oleh teluk:

“Cakram dunia yang dihuni manusia sangat diukir oleh teluk-teluk…”

Meskipun dua kata ini tak ada hubungannya dengan substansi utama karya, frasa ini secara kebetulan sangat sesuai dengan cakupan dan ambisinya — yaitu melingkupi sejarah seluruh kerajaan Norwegia. Judul Heimskringla sendiri baru digunakan pada abad ke-17, ketika Johan Peringskiöld menerjemahkan naskah Stockholm ke dalam bahasa Swedia dan Latin untuk dicetak di Stockholm tahun 1697 atas perintah Raja Karl XI. Sebelumnya, karya ini hanya dikenal sebagai Nóregs konunga sögur (“saga raja-raja Norwegia”) atau Sögur Snorra Sturlusonar (“saga-saga karya Snorri Sturluson”).


Snorri Sturluson — Pengarang

Snorri Sturluson (1179–1241) adalah sejarawan, penyair, kesatria, dan politisi Islandia — salah satu orang Islandia paling terkenal sepanjang masa. Ia dipercaya sebagai penulis atau penyusun utama Prose Edda (sumber terpenting mitologi Norse) dan Heimskringla, dan secara stilistik-metodologis sering dianggap juga sebagai pengarang Egils saga.

Masa Muda

Snorri lahir pada 1179 di Hvammr, peternakan bangsawan kecil di Dales, Islandia barat — tempat pemukim awal Auðr the Deepminded. Ayahnya, Sturla Þórðarson (Hvamm-Sturla), adalah kepala suku kecil yang keras. Ibunya, Guðný Böðvarsdóttir, datang dari keluarga bangsawan penting di Borgarfjörður.

Pada usia tiga tahun, Snorri diadopsi oleh Jón Loftsson di Oddi, sebuah pusat intelektual utama di Islandia selatan. Jón adalah kepala suku paling berkuasa di Islandia selama bertahun-tahun, dan kakek buyutnya, Sæmundr fróði (Sæmund the Learned), dipercaya telah belajar di Eropa selatan dan menyusun ringkasan riwayat raja-raja Norwegia dalam bahasa Latin. Di Oddi, Snorri menerima pendidikan klasik, folklore, genealogi, dan yurisprudensi — bekal intelektual yang akan membentuk karya-karyanya.

Karier Politik

Snorri terkenal sebagai penyair dan pengacara sejak muda. Pada 1215, ia terpilih sebagai lawspeaker (penyampai hukum) di Althing — satu-satunya jabatan publik di Commonwealth Islandia — dan memegang posisi itu hingga 1218.

Pada musim panas 1218, ia pergi ke Norwegia atas undangan raja. Di sana, ia berkenalan dengan Raja Hákon Hákonarson yang saat itu masih remaja, dan wali raja Jarl Skúli. Snorri diberi hadiah mewah, gelar skutilsvein (setara ksatria), dan sumpah kesetiaan — sebagai bagian dari strategi Norwegia untuk mengekspansi pengaruh ke Islandia.

Kembali ke Islandia, Snorri terpilih kembali sebagai lawspeaker untuk tiga periode (1222–1232), dan di sinilah ia menulis karya-karya terbesarnya. Ia menikah dengan Hallveig Ormsdóttir pada 1224, seorang janda kaya yang memberikannya tujuh anak.

Pembunuhan

Snorri terbunuh pada 23 September 1241 di peternakannya di Reykholt oleh Gissur Þorvaldsson — menantunya sendiri yang menjadi agen Raja Hákon IV dari Norwegia. Ironisnya, sebagian besar orang yang ikut dalam komplotan pembunuhan ini adalah keturunan Jón Loftsson, orang yang membesarkan Snorri. Konon Snorri sempat berkata kepada pembunuhnya, berpegang pada Perintah Keenam: “Engkau tidak boleh membunuh!”

Kematian Snorri menandai berakhirnya perlawanan Islandia terhadap aneksasi Norwegia — pada 1262, Islandia menjadi negara vasal di bawah mahkota Norwegia melalui Gamli sáttmáli (Perjanjian Lama).


Konteks Sejarah: Abad Sturlung

Heimskringla ditulis di tengah kekacauan politik Islandia yang disebut Sturlungaöld (Abad Sturlung) (±1180–1262) — periode ketika Islandia diperintah oleh beberapa kepala suku yang saling berperang, sementara Norwegia berusaha menundukkan republik itu.

Snorri hidup di tengah pergolakan ini: ayahnya terbunuh, saudara-saudaranya (Sighvatr dan Sturla) menjadi lawan politiknya, dan klan Sturlung menjadi salah satu yang paling berkuasa sekaligus paling merusak. Karya-karyanya — termasuk Heimskringla dan Edda — ditulis sambil bernegosiasi antara kesetiaan ke Islandia dan tekanan politik Norwegia.

Theodore Andersson berargumen bahwa Heimskringla mencerminkan “masyarakat politik di bawah stres” — sebuah studi tentang bagaimana raja-raja membangun dan mempertahankan otoritas, yang relevan dengan situasi Islandia yang sedang kehilangan kemerdekaannya. Ini bukan kebetulan bahwa Snorri sangat tertarik pada bagaimana seorang raja bisa mengkonsolidasikan kerajaan (Harald Fairhair, Olaf Tryggvason, Olaf Haraldsson) — sebuah tema yang sangat politis untuk zamannya.


Tanggal Komposisi

Heimskringla ditulis sekitar 1230, selama periode ketiga Snorri sebagai lawspeaker (1222–1232), atau sesaat setelahnya. Tidak ada naskah abad pertengahan yang secara eksplisit menyebut Snorri sebagai pengarang, tetapi bukti internal dan stilistiknya sangat kuat:

  1. Prolog karya ini cocok dengan prolog Edda Snorri — gaya prosa yang sangat khas.
  2. Pengetahuan langsung tentang lagu-lagu skaldic yang Snorri kutip dari memori — ia seorang penyair ulung.
  3. Referensi internal yang menunjukkan akses ke sumber-sumber Norwegia (kemungkinan dikumpulkan saat perjalanan 1218–1220).
  4. Hubungan dengan Separate Saga of St. Olaf (karya Snorri sebelumnya yang sudah disusun).

Struktur: Enam Belas Saga dalam Tiga Bagian

Heimskringla terdiri dari enam belas saga yang secara konvensional dibagi menjadi tiga bagian (triptych), dengan Saga Óláfr Haraldsson (Santo Óláfr) sebagai centerpiece:

BagianSagaRentang WaktuKarakter
IYnglinga saga → Saga Óláfr TryggvasonMasa mitologis – 1000 MMite, legenda, Kristeniasi awal
IISaga Óláfr Haraldsson (Santo Óláfr)1015–1030 MHagiografi, transformasi kerajaan
IIISaga Magnús góði → Saga Magnús Erlingsson1035–1177 MSejarah “modern”, perang saudara

Bagian I: Dari Dewa ke Raja (Ynglinga saga → Stiklastaðir)

Dimulai dengan Ynglinga saga — yang叙述 leluhur mitologis raja-raja Norwegia dari dewa-dewa Norse — dan berlanjut melalui penyatuan Norwegia oleh Harald Fairhair, hingga Saga Óláfr Tryggvason yang berakhir dengan Pertempuran Svǫlðr (sekitar 1000 M). Saga-saga di bagian ini memiliki proporsi mite dan legenda yang tinggi, dengan akurasi historis yang menurun.

Bagian II: Santo Óláfr (centerpiece)

Saga Óláfr Haraldsson adalah terpanjang, terpenting, dan paling selesai dari seluruh Heimskringla — sekitar 300 halaman. Bagian ini sangat dekat dengan Separate Saga of St. Olaf karya Snorri sendiri, yang sudah ditulis sebelumnya dan kemudian diintegrasikan ke sini. Inkorporasi karya sepanjang dan sedetail ini ke dalam kronik membedakannya dari survei historis sebelumnya seperti Fagrskinna, di mana masa pemerintahan Óláfr tidak diperlakukan lebih detail daripada raja-raja lain.

Bagian III: Raja-raja Akhir (Magnús góði → Magnús Erlingsson)

Dari Saga Magnús góði (dimulai 1035 M) hingga Saga Magnús Erlingsson (1177 M). Bagian ini paling dekat dengan sumbernya — sering kali mengikuti Morkinskinna hampir kata per kata, meskipun Snorri membuang banyak materi anekdotal dan þættir (cerita pendek) yang terdapat dalam naskah itu. Akurasi historis bagian ini paling tinggi karena rentang waktu antara peristiwa dan komposisi lebih pendek.


Tinjauan Setiap Saga

Berikut adalah ringkasan detail dari keenam belas saga yang membentuk Heimskringla, diurutkan sesuai struktur kronologis karya.

1. Ynglinga Saga (Saga Yngling)

Rentang waktu: Masa mitologis (jauh sebelum tahun 850 M) Tokoh utama: Odin, Njördr, Freyr, Fjölnir, Swegde, Vanlande, dan 30 raja Yngling Sumber primer: Puisi Ynglingatal oleh Þjóðólfr of Hvinir (abad ke-9)

Saga pembuka dan paling mitologis dari seluruh Heimskringla. Dimulai dengan deskripsi geografis dunia (Yggdrasil) — tempat Odin, yang bermigrasi dari Asia ke Skandinavia, membangun Asgard. Odin dan saudara-saudaranya (Ve dan Vilje) menaklukkan banyak kerajaan, memperkenalkan sihir, puisi scalds, dan rune ke utara. Setelah Odin wafat di Swedia, ia berkata ia “pergi ke Godheim” — dan orang Swedia mulai menyembahnya sebagai dewa.

Saga berlanjut dengan Njördr (dewa angin dan pelaut) dan Freyr (dewa kesuburan), yang membangun kuil besar di Uppsala dan membawa Frode-peace (zaman keemasan). Ketika Freyr sakit dan mati, para pengikutnya menyembunyikan tubuhnya dalam gundukan dengan tiga lubang — untuk menerima pajak emas, perak, dan tembaga — selama tiga tahun setelah kematiannya, sementara orang Swedia percaya raja mereka masih hidup. Sejak saat itu Freyr disembah sebagai “dewa dunia ini”.

Saga ini menjadi dasar euhemerisasi dewa-dewa Norse: setiap dewa bermula sebagai raja manusia yang kemudian disembah. Setelah daftar panjang raja Yngling, dynasty berpindah ke Norwegia di bawah Halfdan the Black — ayah Harald Fairhair.

2. Halfdan the Black Saga

Raja: Halfdan svarti (Halfdan the Black, meninggal ±863 M) Sumber: Haleygjatal oleh Eyvindr Finnsson

Halfdan adalah raja pertama di Norwegia yang dipersatukan oleh ayahnya Gudrod. Sejak kecil, ibunya Asa membawanya ke Agder. Saat berusia 18 tahun, ia langsung merebut kerajaan Vestfold dan Vingulmark — mengalahkan raja-raja saingan seperti Gandalf dan Sigtryg dalam serangkaian pertempuran sengit.

Saga ini ditutup dengan kisah misterius kematian Halfdan — tubuhnya menghilang di sebuah tumpukan salju saat menyeberangi lapisan es di Rygnysvala. Karena tubuhnya tidak pernah ditemukan, orang Norwegia percaya bahwa setiap bagian dari kerajaan ingin memiliki jasadnya untuk membawa kemakmuran — sehingga mereka membagi tulang belulangnya ke empat tempat: kepala di Steig, badan di Stein, dan lain-lain. Tradisi ini mencerminkan bagaimana raja Norwegia dianggap kontainer kemakmuran.

3. Harald Harfager’s Saga (Harald Rambut Indah)

Raja: Harald I Fairhair (meninggal ±933 M, memerintah ±872–930 M) Latar: ±870–930 M Sumber: Ynglingatal, Hrafnsmál oleh Þorbjörn Hornklofi, Hryggjarstykki oleh Eiríkr Oddsson

Raja yang menyatukan seluruh Norwegia untuk pertama kalinya. Saat masih berusia 10 tahun, Harald mewarisi kerajaan ayahnya. Kisah termasyhur adalah janji Harald: tidak akan menyisir rambutnya sampai ia berhasil menguasai seluruh Norwegia — itulah nama “Fairhair” (rambut indah) yang diperolehnya.

Saga ini penuh dengan perang penyatuan yang brutal. Harald mengalahkan Gold-Harald, raja Viking yang pernah berdagang di Byzantium, dalam Pertempuran Hafrsfjord (872 M). Setelah kemenangan, ia menghukum petani pemberontak dengan brutal — membuatnya asing di kalangan bangsawan Norwegia, mendorong banyak bangsawan bermigrasi ke Islandia.

Saga ini juga mencakup kisah ekspedisi ke Vinland — Thorvald Erikson dan Snorri Thorfinnsson (atau Karlsefni) berlayar ke barat untuk menjelajahi tanah baru. Ini menjadi salah satu teks abad pertengahan yang menyebut Vinland — dikonfirmasi arkeologis di L’Anse aux Meadows tahun 1960.

4. Hakon the Good’s Saga

Raja: Hákon Jarl (meninggal 961 M, memerintah ±934–961 M) Latar: ±934–961 M Sumber: Hákonarmál oleh Eyvindr Finnsson

Hákon adalah raja muda yang dibesarkan di Inggris oleh Raja Æthelstan — dan dibaptis sebagai Kristen. Ketika kembali ke Norwegia, ia dipilih sebagai raja oleh petani, meskipun mereka ingin ia menyembah dewa-dewa Norse. Hákon memilih kompromi: secara publik ia berpura-pura menyembah dewa-dewa, sambil secara privat mempertahankan iman Kristen.

Saga ini mencakup perang melawan Denmark (pertempuran di Hals) dan akhirnya Pertempuran Fitjar (961 M) di mana Hákon terbunuh. Kematiannya yang tragis dicatat dalam puisi Hákonarmál: para Valkyrie menjemputnya dan membawanya ke Valhalla, di mana ia akan menyapa para pahlawan mati. Saat wafat, Hákon memeluk gambar dewa Freyr — simbol kompromi agamanya.

5. Saga of King Harald Grafeld & Earl Hakon Son of Sigurd

Raja: Harald Greycloak (meninggal 970 M); Jarl Hákon dari Lade (meninggal 995 M) Latar: 961–995 M

Periode anarki dan perpindahan kekuasaan yang kompleks. Setelah kematian Hákon, keponakannya Harald Greycloak (anak Halfdan svarti yang lain) mengklaim takhta. Namun, earls (jarls) Norwegia — terutama Jarl Hákon dari Lade — menjadi penguasa de facto, setia kepada raja Denmark.

Saga ini penuh dengan konspirasi — Harald Greycloak dibunuh oleh Gold-Harald dengan bantuan Jarl Hákon (970 M). Setelah itu, Jarl Hákon sendiri jatuh ke tangan seorang budak yang membalas dendam atas pemaksaan istrinya. Saga ini ditutup dengan kebangkitan Olaf Tryggvason, yang akan membawa perubahan besar bagi Norwegia.

6. King Olaf Trygvason’s Saga

Raja: Óláfr Tryggvason (meninggal 1000 M, memerintah 995–1000 M) Latar: 995–1000 M Sumber: Oddr Snorrason’s Latin saga; puisi skaldic; Jómsvíkinga saga

Saga penuh petualangan eksotis ini dimulai dengan masa kecil Óláfr yang dramatis: lahir di Rusia, dijual sebagai budak di Estonia, dibebaskan, dan akhirnya menjadi petarung Viking di bawah Harald Bluetooth. Sebelum naik takhta, ia berlayar ke Vinland (L’Anse aux Meadows) — mengunjungi Leif Erikson, Thorvald Erikson, dan Bjarni Herjólfsson.

Setelah naik takhta Norwegia (995 M), Óláfr mengkristenkan Norwegia secara paksa — menghancurkan kuil-kuil, memaksa petani untuk menerima baptisan, dan mengeksekusi penentang. Saga ini mencakup:

Óláfr dianggap misionaris yang berhasil — setelah kematiannya, orang-orang Norwegia kembali ke paganisme selama beberapa dekade, sampai Óláfr Haraldsson.

7. Saga of Olaf Haraldson (Santo Óláfr) ⭐ CENTERPIECE

Raja: Óláfr II Haraldsson (995–1030 M, memerintah 1015–1030 M) Latar: 1015–1030 M Panjang: ±300 halaman — terpanjang di seluruh Heimskringla

Saga terpenting dalam kumpulan ini, dan sering dianggap sebagai masterpiece Snorri. Óláfr Haraldsson adalah raja yang mengkonsolidasikan Norwegia melalui Kristenisasi paksa, hukum baru yang ketat, dan sentralisasi politik. Ia menyusun hukum-hukum yang melindungi orang lemah dari bangsawan yang sewenang-wenang — termasuk undang-undang tentang perkawinan, warisan, dan tindak kekerasan.

Saga ini penuh dengan adegan-adegan dramatis:

Setelah kematiannya, Óláfr dikanonisasi hanya satu tahun kemudian. Mukjizat dilaporkan di kuburannya di Nidaros (Trondheim), termasuk sumber cahaya misterius. Kultusnya menjadi fondasi identitas Kristen Norwegia dan tempat ziarah utama di Eropa Utara.

8. Saga of Magnus the Good

Raja: Magnús I Óláfsson (meninggal 1047 M, memerintah 1035–1047 M) Latar: 1035–1047 M Sumber: Morkinskinna (dasar); Fagrskinna

Putara Santo Óláfr yang berusia 11 tahun ketika didudukkan di takhta Norwegia. Magnús tinggal di Novgorod (Kievan Rus) selama pengasingan ayahnya, dan diantar ke Norwegia oleh Earl Ragnvald dan beberapa bangsawan Islandia.

Saga mencakup perjanjian bersejarah dengan Harthacnut (raja Denmark-Inggris): siapa yang wafat lebih dulu tanpa ahli waris, yang lain akan mewarisi kedua takhta. Perjanjian ini membuat Magnús secara nominal menjadi raja Inggris — meskipun ia tidak pernah mengklaim haknya. Magnús wafat muda (hanya 21 tahun) di Denmark saat melancarkan ekspedisi untuk menggabungkan kerajaan.

9. Saga of Harald Hardrade (Penguasa Keras)

Raja: Harald III Hardruler (meninggal 1066 M, memerintah 1046–1066 M) Latar: 1046–1066 M Sumber: Morkinskinna (dasar)

Salah satu saga paling dramatis dalam Heimskringla. Harald, saudara Santo Óláfr yang berusia 15 tahun saat Stiklestad, melarikan diri dari pertempuran dan menyelinap ke Swedia, lalu ke Kievan Rus, dan akhirnya ke Bizantium.

Di Konstantinopel, Harald menjadi kepala pengawal Varangian — unit elit Garda Kekaisaran Bizantium. Saga ini penuh dengan petualangan militer di Mediterania: pertempuran di Sicily, kampanye di Asia Kecil, dan penjarahan di Afrika. Harald mengumpulkan kekayaan luar biasa (diperkirakan 100+ kg emas), sebelum kembali ke Skandinavia pada 1045 M.

Kembali ke Norwegia, Harald membagi kerajaan dengan keponakannya Magnús (yang diangkatnya sebagai raja bersama), dan setelah Magnús wafat, menjadi satu-satunya raja. Saga ini berakhir dengan keputusan Harald untuk menyerang Inggris (1066) — yang berakhir dengan kekalahannya di Stamford Bridge (25 September 1066), hanya 3 minggu sebelum Harold Godwinson dari Inggris sendiri dikalahkan di Hastings oleh William sang Penakluk. Kisah ini mengakhiri “Viking Age” secara simbolis.

10. Saga of Olaf Kyrre (Yang Damai)

Raja: Óláfr III Haraldsson (meninggal 1093 M, memerintah 1067–1093 M) Latar: 1067–1093 M

Putra Harald Hardruler yang memerintah selama 26 tahun dalam kedamaian. Óláfr membangun kota Bergen sebagai pusat administrasi kerajaan — yang dengan cepat menjadi kota dagang utama Norwegia. Ia juga membangun gereja batu pertama di Norwegia (Christ Church di Nidaros).

Saga ini relatif pendek, karena masa pemerintahannya penuh perdamaian dan kemakmuran, tanpa perang saudara atau invasi besar. Stein Herdison menulis tentangnya: “Our Throndhjem king is brave and wise, / His love of peace our bondes prize.”

11. Magnus Barefoot’s Saga

Raja: Magnús III berfœttr (Magnus Barefoot, meninggal 1103 M, memerintah 1093–1103 M) Latar: 1093–1103 M

Raja petualang yang menolak tinggal diam di Norwegia. Saga ini dimulai dengan perselisihan suksesi antara Magnús dan sepupunya Hákon (yang wafat misterius 1094 M). Setelah itu, Magnús memimpin ekspedisi militer ke barat — ke Hebrides, Isle of Man, Irlandia, Wales, dan Anglian England.

Di Irlandia, Magnús membunuh earl Dublin dan memakai baju besi kaki-telanjang (karena ia tidak pernah memakai kaus kaki — itulah julukannya). Saga ini berakhir tragis di Irlandia (1103) — Magnús terbunuh dalam perangkap yang dipasang oleh bangsawan Irlandia.

Putra haramnya, Harald Gilli (yang lahir di Irlandia dan buta di satu mata), akan menjadi salah satu dari banyak raja-palsu di bagian akhir Heimskringla.

12. Saga of Sigurd the Crusader and His Brothers

Raja: Sigurd I Jórsalafari (meninggal 1130 M, memerintah 1103–1130 M); Eystein I (meninggal 1123 M); Óláfr Magnússon (meninggal 1115 M) Latar: 1103–1130 M

Sigurd melakukan Perang Salib ke Tanah Suci (1107–1111) — ekspedisi laut panjang yang menjadi salah satu deskripsi paling awal tentang perjumpaan Viking dengan kekuatan Islam. Sigurd memimpin armada 60 kapal melintasi Eropa ke Konstantinopel (di mana ia tinggal selama musim dingin, memberikan hadiah kepada kaisar), lalu ke Palestina.

Di luar pelabuhan Sidon (Lubnan), armada Viking berperang dengan armada Muslim Arab — salah satu pertempuran laut pertama yang didokumentasikan antara Viking dan Islam. Perang Salib kemudian menjadi sumber kebanggaan nasional Norwegia selama berabad-abad.

Pemerintahan Sigurd sebenarnya dibagi dengan saudara-saudaranya: Eystein di utara, Sigurd di selatan (saat di luar negeri), dan Óláfr di tengah. Setelah kematian Óláfr (1115), Eystein dan Sigurd memerintah bersama — sistem bersama yang berhasil menjaga perdamaian.

13. Saga of Magnus the Blind & Harald Gille

Raja: Magnús IV (Sigurdsson, meninggal 1135 M); Harald IV Gille (meninggal 1136 M) Latar: 1130–1136 M

Awal dari periode perang saudara yang panjang. Saga dibuka dengan perpecahan antara Magnús (putra Sigurd yang dipilih sebagai raja tunggal) dan Harald Gille (putra haram Magnús Barefoot, yang mengklaim takhta). Setelah konspirasi awal, kerajaan dibagi dua — Magnús di utara, Harald di selatan.

Saga ini penuh dengan pengkhianatan: salah satu pembantu Harald, Sörkvir, membunuhnya (1136 M). Pada gilirannya, Sörkvir dikhianati dan dibunuh. Magnús yang “buta” (dari satu mata) akhirnya terbunuh oleh pendukung Harald pada 1135 M. Saga ini menandai berakhirnya “zaman keemasan” yang dimulai dengan Óláfr Haraldsson.

14. Saga of Sigurd, Inge, and Eystein — Sons of Harald

Raja: Sigurd II Munn (meninggal 1155 M); Ingi Haraldsson (meninggal 1161 M); Eystein II (meninggal 1157 M) Latar: 1136–1161 M

Saga yang paling kacau dalam seluruh Heimskringla. Tiga putra Harald Gille yang seharusnya memerintah bersama malah saling berperang selama 25 tahun. Ditambah lagi, muncul penipu-penipu (Harald sigurdsson yang menyebut dirinya kakak raja) dan Sigurd Slembe (seorang pensiunan pelaut yang mengaku sebagai saudara raja).

Periode ini penuh dengan pembunuhan, tipu daya, dan persekongkolan — kerajaan secara de facto terpecah menjadi banyak wilayah yang dikendalikan oleh bangsawan lokal. Tokoh penting termasuk Gregorius Dagson (bangsawan kuat dari Konungahella) yang akhirnya dibunuh oleh bangsawan lainnya.

15. Saga of Hakon Herdebreid (Yang Bahu Lebar)

Raja: Hákon II Herdebreidd (meninggal 1162 M, memerintah 1157–1162 M) Latar: 1157–1162 M

Putra Sigurd II yang berhasil menyatukan kerajaan untuk waktu singkat, mengalahkan saudara-saudaranya di Pertempuran Moster (1161). Hákon dikatakan memiliki bahu yang luar biasa lebar — itu asal julukannya.

Namun, pemerintahannya singkat. Pada 1162, ia terbunuh dalam perangkap yang dipasang oleh sepupunya, Magnús Erlingsson (anak Erling Skakke). Hákon dibunuh di sebuah kamar kecil di Nordmøre — tradisionalnya dikatakan sedang di toilet ketika pembunuh mengepungnya.

16. Magnus Erlingson’s Saga

Raja: Magnús V Erlingsson (meninggal 1184 M, memerintah 1161–1184 M) Latar: 1161–1184 M Sumber: Separate Saga of Magnus Erlingsson (karya Snorri sebelumnya)

Saga terakhir dalam Heimskringla — mengakhiri kronik pada tahun 1177. Magnús adalah putra Erling Skakke (bangsawan paling kuat di Norwegia) dan Kristin (putri Sigurd Crusader). Ia naik takhta saat masih 5 tahun dengan dukungan ayah dan uskup Agung Øystein (pihak gereja).

Magnús mendirikan monarki Kristen yang didukung Gereja dan bangsawan, dengan hukum-hukum tertulis yang sangat maju untuk zamannya. Saga ini ditutup dengan kebangkitan Sverre Sigurdsson (seorang mantan imam yang mengaku keponakan raja) yang memimpin pemberontakan rakyat jelata (birkebeiner) melawan Magnús. Pertempuran mereka berlanjut setelah 1177 — menjadi saga tersendiri (Sverris saga) di luar lingkup Heimskringla.


Sumber Snorri

Heimskringla didasarkan pada empat kategori sumber yang Snorri akui secara eksplisit dalam prolognya:

“In this book I have had written old stories about those rulers who have held power in the Northern lands and have spoken the Scandinavian language, as I have heard them told by learned men, and some of their genealogies according to what I have taught, some of which is found in the records of paternal descent in which kings and other men of high rank have traced their ancestry, and some is written according to old poems or narrative songs which people used to use for their entertainment.”

1. Laporan Lisan (oral reports)

Snorri banyak bergantung pada rantai informan lisan Islandia yang mungkin mengingat kembali peristiwa tiga generasi sebelumnya. Theodore Andersson (2008) menyelidiki bagaimana orang Islandia yang hadir dalam peristiwa tertentu bisa membawa kesaksian langsung ke Islandia dalam bentuk oral.

2. Catatan Silsilah (genealogies).

Untuk klaim silsilah dan kronologi awal, Snorri menggunakan silsilah bangsawan dan raja yang sangat rinci.

3. Puisi Skaldic (skaldic poetry)

Sumber yang Snorri anggap paling terpercaya — karena puisi skaldic, yang sangat terkode dan sulit dipalsukan, telah digunakan untuk mengabadikan peristiwa bersejarah secara turun-temurun.

4. Tulisan Sejarah Awal (terutama Ari fróði)

Snorri banyak berutang pada Ari Þorgilsson (Ari the Learned, 1067–1148), yang dianggap sejarawan Islandia pertama. Ari menulis Íslendingabók (Buku Islandia) dan Libellus Islandorum. Snorri menyebut Ari dengan hormat: “telah membuat penting bagi kami untuk diingat.”

Sumber Lain yang Tak Diakui

Selain sumber yang Snorri sebut, ia juga menggunakan:


Manuskrip

Heimskringla tidak sampai kepada kita dalam satu naskah asli — manuskrip tertuanya hilang (dimusnahkan dalam Kebakaran Kopenhagen 1728). Yang tersisa adalah salinan dan fragmen dari berbagai periode.

Kringla (K) — ±1258–1264

Codex Frisianus / Fríssbók (F) — AM 45 fol, ±1300–1325

AM 39 fol — ±1300

Jöfraskinna (J) — awal abad ke-14

Flateyjarbók (GKS 1005 fol.) — akhir abad ke-14

Hubungan Antar Manuskrip

Studi tekstual modern menunjukkan bahwa naskah terbagi dalam dua cabang (stemma):

Edisi standar modern adalah Íslenzk Fornrit 26–28 (Bjarni Aðalbjarnarson, 1941–1951), berbasis pada K.


Terjemahan dan Transmisi

Bahasa Modern Awal

Dalam Bahasa Denmark-Norwegia

Dalam Bahasa Swedia dan Latin

Dalam Bahasa Inggris

Dalam Bahasa Indonesia

Sampai saat penulisan artikel ini, belum ada terjemahan lengkap Heimskringla ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa bagian individual (terutama Ynglinga saga dan saga Óláfr Haraldsson) telah muncul dalam edisi kutipan di berbagai buku sejarah dan sastra Nordik.


Keandalan Historis: Kritik dan Defenders

Era Kepercayaan (abad ke-19)

Hingga pertengahan abad ke-19, sejarawan mempercayai sepenuhnya kebenaran faktual narasi Snorri. Heimskringla dibaca sebagai sumber primer untuk periode Viking dan awal Abad Pertengahan Norwegia.

Abad ke-20: Krisis Saga

Kepercayaan ini runtuh dengan kedatangan kritik saga (sagakritik) yang dipelopori oleh sejarawan Swedia Lauritz Weibull dan putranya Curt Weibull (awal abad ke-20). Argumen mereka:

Di Norwegia, sejarawan Edvard Bull secara kontroversial menyatakan: “Kita harus melepas semua ilusi bahwa epik megah Snorri mencerminkan dengan cara yang lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi.”

Sekolah kritis (alm. skeptisisme radikal) berpendapat bahwa motif yang Snorri berikan kepada tokoh-tokohnya lebih mencerminkan kondisi abad ke-13 (zaman Snorri) daripada periode yang ia ceritakan.

Pertahanan Baru

Sejak 1980-an, muncul sekolah baru yang menggunakan sagastudies (kajian saga) dan komparasi arkeologis untuk menunjukkan bahwa banyak informasi Snorri bisa diverifikasi secara independen:

Konsensus Modern

Konsensus akademis saat ini:

  1. Saga-saga awal (Ynglinga saga, saga raja-raja legendaris) kurang bisa diandalkan sebagai sejarah — lebih sebagai mite euhemeristik.
  2. Saga yang lebih baru (terutama Bagian III) punya akurasi yang lebih tinggi, karena rentang waktu ke peristiwa lebih pendek dan sumber kontemporer mulai muncul di Norwegia abad ke-12.
  3. Heimskringla adalah sumber berharga untuk masyarakat dan politik Norwegia Abad Pertengahan, meskipun detail faktualnya sering dipertanyakan.
  4. Snorri adalah sejarawan ulung — bukan sekadar pencatat, melainkan interpreter yang membentuk sumber-sumbernya dengan tujuan artistik dan politis.

Dampak Budaya

Simbol Nasionalisme Norwegia

Pada abad ke-19, ketika Norwegia lepas dari Denmark (1814) dan kemudian dari Swedia (1905), Heimskringla menjadi simbol nasionalisme romantis yang sangat kuat. Meskipun ditulis oleh orang Islandia, karya ini menjadi “narasi genesis” Norwegia modern.

Gustav Storm (1899) menerbitkan edisi kritis Heimskringla yang menjadi batu penjuru identitas nasional Norwegia. Pada 1900, Parlemen Norwegia (Storting) mensubsidi penerjemahan baru ke dalam kedua bentuk bahasa Norwegia (landsmål dan riksmål) — “agar karya ini dapat tersebar luas dengan harga murah.”

Pada 1920-an, Heimskringla adalah buku rumah tangga di Norwegia — “Snorre” di rak buku menjadi simbol patriot, hadiah konfirmasi Lutheran yang umum.

Pengaruh pada Sastra dan Seni

Warisan Modern


Kutipan Kunci

Kutipan-kutipan di bawah ini diambil dari terjemahan Samuel Laing (1844) — yang tersedia open-access melalui Global Grey ebooks.

1. Pembukaan Ynglinga Saga (asal nama “Heimskringla”)

“It is said that the earth’s circle which the human race inhabits is torn across into many bights, so that great seas run into the land from the out-ocean. Thus it is known that a great sea goes in at Narvesund, and up to the land of Jerusalem. From the same sea a long sea-bight stretches towards the north-east, and is called the Black Sea, and divides the three parts of the earth…”

Ynglinga Saga, bagian pembuka. Frasa “earth’s circle” (= “kringla heimsins”) di sini yang menjadi asal-usul nama Heimskringla.

2. Odin ke Godheim — Asal Kultus Pagan

“Odin died in his bed in Swithiod; and when he was near his death he made himself be marked with the point of a spear, and said he was going to Godheim, and would give a welcome there to all his friends, and all brave warriors should be dedicated to him; and the Swedes believed that he was gone to the ancient Asgaard, and would live there eternally. Then began the belief in Odin, and the calling upon him.”

Ynglinga Saga, pasal “Of Odin’s Death.”

3. Kematian Freyr dan Euhemerisasi

“Frey built a great temple at Upsal, made it his chief seat, and gave it all his taxes, his land, and goods. Then began the Upsal domains, which have remained ever since. Then began in his days the Frode-peace; and then there were good seasons, in all the land, which the Swedes ascribed to Frey, so that he was more worshipped than the other gods, as the people became much richer in his days by reason of the peace and good seasons.”

“Frey fell into a sickness; and as his illness took the upper hand, his men took the plan of letting few approach him. In the meantime they raised a great mound, in which they placed a door with three holes in it. Now when Frey died they bore him secretly into the mound, but told the Swedes he was alive; and they kept watch over him for three years.”

Ynglinga Saga, pasal “Frey’s Death.”

4. Prolog Snorri (terjemahan Finlay & Faulkes)

“In this book I have had old stories written down, as I have heard them told by intelligent people, concerning chiefs who have held dominion in the northern countries, and who spoke the Danish tongue; and also concerning some of their family branches, according to what has been told me. Some of this is found in ancient family registers, in which the pedigrees of kings and other personages of high birth are reckoned up, and part is written down after old songs and ballads which our forefathers had for their amusement. Now, although we cannot just say what truth there may be in these, yet we have the certainty that old and wise men held them to be true.”

Heimskringla, Prolog Snorri (Laing 1844 tidak menyertakan prolog ini — kutipan dari terjemahan Finlay & Faulkes 2011).

5. Pidato Óláfr Haraldsson di Stiklestad (menurut Harald Adiknya)

Harald menjawab permintaan raja agar ia tetap di belakang:

“Certainly I shall be in the battle, for I am not so weak that I cannot handle the sword; and as to that, I have a notion of tying the sword-handle to my hand. None is more willing than I am to give the bondes a blow; so I shall go with my comrades.”

Lalu Harald bersyair:

“Our army’s wing, where I shall stand, I will hold good with heart and hand; My mother’s eye shall joy to see A battered, blood-stained shield from me. The brisk young skald should gaily go Into the fray, give blow for blow, Cheer on his men, gain inch by inch, And from the spear-point never flinch.”

Saga of Olaf Haraldson, bagian “King Olaf Comes to Stiklestad.” Harald berusia 15 tahun saat itu, dan berhasil selamat dari pertempuran untuk kemudian menjadi Harald Hardruler.

6. Seruan Thorer Hund di Awal Pertempuran

“Now came Thorer Hund, went forward in front of the banner with his troop, and called out, ‘Forward, forward, bondemen!’ Thereupon the bondemen raised the war-cry, and shot their arrows and spears…”

Saga of Olaf Haraldson, bagian “Beginning of the Battle of Stiklestad.” Thorer Hund (pemberani pagan) akhirnya membunuh Óláfr dengan tombaknya.


Mengapa Heimskringla Penting

Heimskringla bukan sekadar kronik raja-raja Norwegia — ia adalah monumen intelektual yang melakukan beberapa hal secara bersamaan:

  1. Sebagai sastra: Salah satu pencapaian prosa naratif terbesar Abad Pertengahan — setara dengan The Lord of the Rings Tolkien dalam kualitas dunia-building, dengan kelebihan tambahan bahwa ia adalah sejarah nyata yang dibumbui mite.

  2. Sebagai sumber sejarah: Kendati dengan kualifikasi, ia adalah sumber primer terpenting kita untuk Norwegia abad ke-9 hingga ke-12.

  3. Sebagai dokumen politik: Karya yang ditulis oleh seorang bangsawan Islandia yang negosiasi posisi antara kemerdekaan dan aneksasi — dalam saga-saga raja yang menyatukan atau menghancurkan kerajaan, kita bisa membaca kecemasan Snorri tentang nasib bangsanya sendiri.

  4. Sebagai dokumen keagamaan: Transformasi Norwegia dari paganisme ke Kristen — dengan semua konflik, kompromi, dan kengeriannya — dicatat dengan teliti.

  5. Sebagai dokumen budaya: Tempat tinggal mitologi Norse, puisi skaldic, dan memori kolektif Skandinavia yang mungkin akan hilang tanpa tulisan Snorri.


Lihat juga


Referensi


Catatan editorial: Artikel ini disusun sebagai referensi ensiklopedis berdasarkan riset terhadap sumber primer dan sekunder yang tersedia secara terbuka. Untuk terjemahan teks lengkap, lihat terjemahan Finlay & Faulkes (2011–2016) yang tersedia open-access. Untuk analisis akademis terkini, lihat Andersson (2008), Bagge (2002), dan Whaley (1991).