Candi Buddha terbesar di dunia, terletak di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Dibangun pada abad ke-9 M oleh Dinasti Sailendra, menjadi situs ziarah dan monumen arsitektur Buddhis Mahāyāna terbesar di dunia.
Borobudur (atau Candi Borobudur) adalah candi Buddha terbesar di dunia, terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Dibangun oleh Dinasti Sailendra pada abad ke-8-9 M, candi ini memiliki ±2.672 relief (panel) dan 504 patung Buddha yang menceritakan seluruh perjalanan spiritual dari Buddha — dari dunia desire (kamadhātu), ke dunia form (rūpadhātu), ke dunia tanpa form (arūpadhātu) — yang akhirnya sampai ke Nirvana di puncak.
Borobudur menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1991 dan monumen Buddhis Mahāyāna terbesar di dunia.
Borobudur terletak di Kabupaten Magelang, ±40 km barat laut Yogyakarta dan ±75 km barat Surakarta. Berada di dataran Kedu, dikelilingi 4 gunung: Merapi (utara), Merbabu (timur), Sumbing (barat), dan Ungaran (selatan).
Borobudur dirancang sebagai mandala tiga dimensi — replika kosmos dalam batu:
504 patung Buddha tersebar di seluruh candi:
±2.672 relief (panel) menceritakan:
Dinasti Sailendra — raja-raja dari Srivijaya (kekaisaran maritim Melayu) — membangun Borobudur sebagai monumen dan stupa untuk menyimpan relikui Buddha.
Periode pembangunan (diperdebatkan):
Borobudur bukanlah candi tunggal — ia merupakan bagian dari rute ziarah Buddhis di Jawa:
Beberapa faktor:
Borobudur terkubur selama hampir 1.000 tahun. Cerita lokal (Legend of Roro Jonggrang) tetap menyebutnya sebagai “kutukan”.
Sir Thomas Stamford Raffles — Gubernur-Jenderal Inggris di Jawa (1811–1816) — mendengar laporan tentang “candi kuno yang penuh relief” dan memerintahkan untuk membersihkan Borobudur (1814).
Theodorus van Erp (arkeolog Belanda) melakukan penggalian besar dan restorasi (1907–1911) — membebaskan stupa-stupa utama.
UNESCO melakukan restorasi besar-besaran (±$25 juta USD) — membongkar dan memasang kembali ±1 juta blok batu. Proyek selesai 1982.
Borobudur menjadi situs ziarah utama umat Buddha sedunia — dan salah satu tujuan wisata paling terkenal di Indonesia, dengan ±2,5 juta pengunjung per tahun.
Relief di Lorong 1 menceritakan kisah karma — yang mengikat makhluk ke siklus keinginan. Kisah-kisah yang ditampilkan:
Relief di Lorong 2 menceritakan kisah hidup Śākyamuni dari Lalitavistara — pencerahan di Bodh Gaya, sermon pertama di Sarnath, dan lain-lain.
Tiga teras teratas tanpa relief — tanpa bentuk, tanpa kata, tanpa konsep — sesuai dengan konsep Buddhis bahwa Nirvana tidak bisa digambarkan.
Stupa besar di puncak — Nirvana itu sendiri — kosong di dalam (menurut interpretasi populer, menyimpan relikui Buddha). Dari puncak, peziarah melihat panorama magis ke empat penjuru.
Borobudur tetap menjadi situs ziarah utama umat Buddhis sedunia — terutama pada hari Waisak (Mei), umat Buddha dari seluruh dunia berjalan dari kaki ke puncak — mensimulasikan perjalanan spiritual dari desire → form → formless → Nirvana.
Borobudur mewakili puncak arsitektur Sailendra — menggabungkan seni India, Jawa, dan Asia Tenggara menjadi gaya unik. Candi ini adalah salah satu candi paling indah di dunia.
Borobudur berdiri berdampingan dengan candi Hindu seperti Prambanan (abad ke-9) — menunjukkan tradisi toleransi Indonesia yang sudah ada sejak Abad Pertengahan. Hari ini, Borobudur dan Prambanan menjadi satu-satunya tempat di Indonesia yang memperlihat kedua agama secara bersamaan.
Borobudur menjadi salah satu simbol Indonesia — di logo Bank Indonesia, stempel, dan menjadi pusat perhatian untuk promosi budaya Indonesia. Namun, statusnya sebagai candi Buddhis tetap dihormati, dengan ritual Waisak dilakukan setiap tahun.