Tempat Siddhartha Gautama mencapai Penerangan Sempurna (Bodhi) di bawah Pohon Bodhi pada 35 tahun usianya, di negara bagian Bihar, India. Salah satu dari empat tempat ziarah utama Buddhisme.
Bodh Gaya (Hindi: बोध गया) adalah tempat Siddhartha Gautama mencapai Penerangan Sempurna (Sambodhi) — menjadi Buddha — pada usia 35 tahun, di bawah Pohon Bodhi (Ficus religiosa, pohon ara suci). Terletak di Distrik Gaya, Negara Bagian Bihar, India, tempat ini menjadi situs Buddhis paling suci di dunia.
Bodh Gaya adalah salah satu dari empat situs ziarah utama (Chatur Tirtha) Buddhisme, bersama Lumbini, Sarnath, dan Kushinagar. Kuil Mahabodhi di tempat ini menjadi UNESCO World Heritage Site pada 2002.
Bodh Gaya terletak di Bagal, di tepi Sungai Lilajan (anak sungai Sungai Phalgu), ±16 km dari kota Gaya. Pohon Bodhi yang menandai tempat pencerahan berdiri di tengah Mahabodhi Temple Complex.
Pohon di tempat ini adalah Ficus religiosa (peepal tree), yang bagi umat Buddha menjadi simbol:
Pohon Bodhi yang ada sekarang bukan pohon asli (yang telah ditebang beberapa kali) — itu adalah vegetative descendant dari pohon asli yang dibawa ke Sri Lanka pada 3 SM oleh Sanghamitta (putri Ashoka) ke Mahabodhi Temple di Anuradhapura, Sri Lanka.
Pada 288 SM, keturunan Sri Lanka dibawa kembali ke Bodh Gaya dan ditanam. Pohon ini telah diganti beberapa kali (akibat angin dan vandalism), tetapi garis genetik tidak pernah terputus.
Penelitian DNA modern menunjukkan bahwa semua pohon Bodhi di seluruh dunia yang berasal dari Bodh Gaya memiliki DNA identik — bukti kuat untuk kontinuitas biologi yang dimulai ±2.500 tahun lalu.
Kuil ini dibangun di lokasi persis di mana Buddha duduk bermeditasi. Menurut tradisi, kuil pertama dibangun oleh Kaisar Ashoka pada 3 SM — tetapi struktur yang ada saat ini berasal dari abad ke-5 M, yang dipugar pada abad ke-11 oleh Dinasti Pala.
Di belakang kuil adalah Chankramana — jalur batu yang terkenal di mana Buddha berjalan mundur-maju selama beberapa minggu setelah pencerahan (karena tidak ingin berpaling dari Pohon Bodhi). Diperindah dengan relief莲花 (teratai) yang indah.
Siddhartha duduk di bawah Pohon Bodhi dengan tekad kuat:
“Darah dan dagingku boleh mengering, tapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku menemukan jawabannya.”
Ia memulai 8 jhana (tingkat meditasi) dan menghadapi Māra (dewa godaan).
Māra muncul dengan pasukannya (ratusan ribu perwujudan godaan), dan berkata:
“Kau tidak punya hak atas singgasana pencerahan. Siapa yang menyaksikanmu bertapa? Berdiri dan buktikan!”
Siddhartha tidak menjawab Māra. Alih-alih, ia melakukan Bhūmidhara Mudrā (memejamkan tangan di atas tanah) dan berkata:
“Bumilah saksiku, dan kebajikanku.”
Bumi membuka dan menampakkan kebajikan Siddhartha. Māra kalah dan berlutut.
Saat fajar menyingsing, Siddhartha mencapai Penerangan Sempurna — Tiga Pengetahuan (tisso vijjā):
Siddhartha tinggal di Bodh Gaya 49 hari (7 minggu) setelah pencerahan, merenungkan Dhamma.
| Tempat | Signifikansi |
|---|---|
| Vajrasana (singgasana berlian) | Tempat Buddha duduk bermeditasi |
| Animate-the-Victor Tree | Minggu ke-2 kontemplasi |
| Cankramana (jalan setapak) | Minggu ke-3-4 berjalan |
| Pohon Ajapala | Minggu ke-5 — tempat para dewa datang |
| Pohon Mucalinda | Minggu ke-6 — naga Mucalinda melindungi dari hujan |
| Pohon Rajayatana | Minggu ke-7 — 2 saudagar dari Ukkala memberi bubur |
Bodh Gaya adalah satu-satunya tempat di mana:
Umat Buddha menganggap kunjungan ke Bodh Gaya setara dengan mengunjungi Buddha sendiri. Setiap tahun, ±500.000 peziarah mengunjungi tempat ini, terutama pada Hari Waisak (Mei) — hari pencerahan Buddha.