Taman Siswa
Sistem sekolah yang didirikan Ki Hajar Dewantara 3 Juli 1922 dengan prinsip Sistem Among—pendidikan yang memerdekakan anak.
From: LLM Wiki URL: llm-wiki.pages.dev/sources/taman-siswa Created: June 21, 2025 Read time: 4 min
Taman Siswa adalah sistem sekolah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Berfokus pada pendidikan karakter dan pembebasan manusia Indonesia dari ketidaktahuan dan penjajahan pikiran, dengan prinsip “Sistem Among” — guru sebagai pengasuh, bukan pengajar. Alumnus terkenal antara lain Soekarno, Sutan Sjahrir, Muh. Yamin, dan Amir Sjarifuddin.
Sejarah
| Tahun | Peristiwa |
|---|
| 1922 | Pendirian di Yogyakarta, 3 Juli |
| 1924 | Didukung oleh Sarekat Islam |
| 1927 | Perluasan ke berbagai daerah |
| 1930 | Pemerintah kolonial membatasi (Ordonansi Sekolah Liar) |
| 1942-1945 | Jepang biarkan berjalan |
| 1945-1950 | Boom setelah kemerdekaan, jadi model sekolah Indonesia |
| 1950-1965 | Di bawah Soekarno, taman siswa tetap jadi simbol pendidikan nasional |
| 1965-1998 | Orde Baru tidak akui, di-bypass |
| 1998-sekarang | Kebangkitan, ±500 Taman Siswa aktif |
Prinsip Dasar
1. Sistem Among
- Guru sebagai pengasuh (bukan pengajar)
- Anak sebagai manusia merdeka, bukan objek
- Tidak ada hukuman, hanya bimbingan
- Sekolah bukan kelas, tapi “taman bermain-belajar”
2. Merdeka Belajar
- Murid bebas menentukan arah belajarnya
- Tidak ada paksaan kurikulum
- Setiap anak unik, dihormati minatnya
- (Nadiem Makarim 2020-2024 mengadopsi ini dalam program Merdeka Belajar)
3. Ngamong
- Proses pendidikan sebagai pengasuhan
- Guru jadi panutan, motivator, penyokong
- Falsafah: “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”
- (Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan)
4. Pengajaran yang Menyenangkan
- Tidak ada hafalan paksa
- Tidak ada ujian konvensional
- Pembelajaran lewat bermain, berkebun, berkarya
- Tiada ranking, tiada piala — semua anak setara
5. Biaya Murah (Bahkan Gratis)
- Taman Siswa awal didirikan untuk rakyat biasa (bukan bangsawan)
- 95% murid adalah anak-anak rakyat jelata
- 20-30% menerima beasiswa penuh
- Bergotong royong biaya operasional
Pancawardhana (5 Tujuan Pendidikan)
| Prinsip | Keterangan |
|---|
| Kodrat Alam | Menghormati dan mengembangkan potensi alam setiap anak |
| Kodrat Zaman | Pendidikan relevan dengan zamannya |
| Kodrat Masyarakat | Pendidikan untuk melayani masyarakat |
| Kodrat Perikeadilan | Pendidikan berkeadilan |
| Keinsafan Diri | Pendidikan sebagai perjalanan mengenal diri |
Program Pendidikan
Jenjang
- Taman Kanak-kanak
- Taman Sekolah Dasar
- Taman Menengah Pertama (SMP)
- Taman Menengah Atas (SMA)
- Taman Guru (pendidikan guru)
Ekstra-Kurikuler
- Kesenian (gamelan, tari, wayang)
- Keterampilan tangan (kerajinan, pertanian, peternakan)
- Pramuka
- Olah raga
- Diskusi
Alumni Terkenal
”Tiga Serangkai” (Julukan)
- Soekarno — proklamator, presiden pertama
- Sutan Sjahrir — Perdana Menteri pertama
- Muhammad Yamin — sastrawan, pendekar nasionalisme
Lainnya
- Amir Sjarifuddin — Perdana Menteri
- Ki Ageng Suryomentaram — filsuf Jawa
- Hamengkubuwono IX — Sultan Yogyakarta
- Moehammad Sjafei — pendiri sekolah Ksatrya Tama (mencetak Sukarno dan lain-lain)
- Prijono — Rektor UI pertama
Varian dan Pewaris
| Jenis | Keterangan |
|---|
| Taman Siswa (Yayasan) | Yayasan asli, di bawah keluarga Ki Hajar |
| Taman Dewasa | Untuk orang dewasa (pemberantasan buta huruf) |
| Kursus Pegawai | Untuk PNS/pegawai |
| Ksatrya Tama | Varian di Bandung (Moh. Sjafei, murid Ki Hajar) |
| Sekolah Indonesia | Varian modern |
Pengaruh Internasional
- UNESCO akui Taman Siswa sebagai salah satu sistem pendidikan paling humanistik
- Belanda pelajari untuk pendidikan anak imigran
- India, Jepang, Thailand adopsi falsafah “Sistem Among”
- Prinsip “free school” Summerhill (A.S. Neill 1921) beririsan dengan Taman Siswa (1922)
Kemunduran (1965-1998)
Saat Orde Baru Soeharto berkuasa:
- Taman Siswa tidak masuk dalam kebijakan pendidikan nasional
- Tidak dapat subsidi
- Varian dari pemerintah lebih dominan (SD Inpres, SMP Negeri, SMA Negeri)
- Varian private (sekolah agama, ekspatriat) lebih dipilih
- Taman Siswa tersingkir dari mainstream
Kebangkitan (1998-sekarang)
- Setelah Reformasi 1998, Taman Siswa boleh berdiri lagi
- 2000-2010: kebangkitan dengan varian modern
- Sekarang: ±500 Taman Siswa aktif di Indonesia
- Masih dianggap simbol “pendidikan yang memerdekakan”
- Menjadi referensi untuk Kurikulum Merdeka (Nadiem 2022)
Pengaruh pada Sistem Pendidikan Indonesia Modern
| Aspek | Ki Hajar Dewantara / Taman Siswa | Modern |
|---|
| Filosofi | Merdeka belajar, sistem among | Kurikulum Merdeka |
| Outcome | Profil karakter, kemandirian | Profil Pelajar Pancasila |
| Metode | Projek, bermain, eksperimen | P5 (Projek Profil) |
| Peran guru | Pengasuh (among) | Fasilitator, mentor |
| Penilaian | Tidak ada ranking, portofolio | Asesmen formatif, AN |
| Kurikulum | Fleksibel, lokal | ATP lokal, 20-30% projek |
Lihat Juga
Referensi
- Poerwokoesoemo, Soebagio. 1957. Ki Hajar Dewantara: Biografi Singkat. Yogyakarta: Taman Siswa.
- Suprayitno, Ed. 2009. Ki Hajar Dewantara: Pikiran dan Perujudan. Jakarta: Museum Kebangkiran Nasional.
- UNESCO. 1972. Ki Hadjar Dewantara and the Taman Siswa Movement. Paris.
- Yayasan Taman Siswa. 2024. 99 Tahun Taman Siswa. Yogyakarta.
- Amir, Achmad Patoni. 2012. Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Pengaruhnya. Yogyakarta: UNY Press.